10 Kabupaten/Kota Tertinggal Jauh dari Ambon, IDI Maluku : Hoaks Jadi Faktor Warga Takut Divaksinasi

by
Warga saat divaksinasi pada Gerai Vaksinasi Presisi (GVP) Polda Maluku di lapangan Letkol Pol Chr Tahapary, Tantui, Kota Ambon, Rabu (6/10/2021). Foto : Humas Polda Maluku

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Dari kacamata Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Maluku, faktor penyebab capaian vaksinasi Covid-19 10 kabupaten/kota di Maluku tertinggal jauh dari Kota Ambon disebabkan oleh berita-berita hoaks disamping faktor ketersediaan stok vaksin juga ikut mempengaruhi.

Sehingga masyarakat yang termakan hoaks terkait vaksinasi Covid-19 pun masih banyak yang takut divaksinasi.

Sesuai data Satgas Penanganan Covid-19 Maluku per 5 Oktober, capaian vaksinasi di Maluku baru mencapai 26 persen. Sedangkan perkabupaten/kotanya, Kota Ambon paling tinggi capaiannya 73 persen, jauh tinggalkan kabupaten/kota lain yang masih dibawah 30 persen.

Wakil Ketua IDI Maluku, dr. Saleh Tualeka, SpM.,M.Kes. Foto: Istimewa

“Ada kendala urgentnya ketersediaan vaksin dan di masyarakat juga sebagaian masih menganggap kegiatan vaksinasi ini suatu kegiatan yang tidak wajib artinya masih ada yang termakan isu hoaks. Dua hal itu yang sebenarnya jadi persoalan untuk di luar kota Ambon,”kata Wakil Ketua IDI Maluku, dr. Saleh Tualeka saat diwawancarai Rabu (6/10/2021) via seluler.

Maka dari itu kata dia, kegiatan sosialisasi kepada masyarakat harus gencar dilakukan oleh semua pihak. Terutama oleh leading sektor dalam hal ini Dinas Kesehatan agar masyarakat jadi paham apa manfaat dari vaksinasi.

“Saya kira ini tanggungjawab semua pihak menangkal isu hoaks vaksinasi. Leading sektornya ada di Dinkes untuk melakukan edukasi dan sosialisasi ke masyarakat memberikan penjelasan sehingga masyarakat bisa menerima apa manfaat dari vaksinasi ini,”sarannya.

Meski begitu, kata Tualeka, damapka dari vaksinasi yang belakangan ini terus digencarkan oleh berbagai pihak di Maluku memberikan dampak terhadap kasus Covid yang kini melandai.

Sesuai data Satgas per 5 Oktober, kasus Covid aktif di Maluku tersisa 154 yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Sedangkan tiga kabupaten yaitu SBT, Maluku Tenggara dan Tual tak adalagi kasus aktif.

“Gencarnya vaksinasi ini diikuti dengan landainya kasus saya ini punya korelasi dan saya kira ini satu capaian yang patut kita syukuri karena targetnya bisa terbentuk herd immunity,”sambungnya.

Terpisah, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku, dr. Adonia Rerung menjelaskan, hingga 5 Oktober kemarin, capaian vaksinasi di Maluku baru mencapai 26 persen atau masih terbilang rendah dari total sasaran yang harus divaksinasi sebanyak 1,4 juta warga.

Capaian Vaksinasi Covid-19 di Maluku per 5 Oktober 2021. Foto : Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku

Dari 11 kabupaten/kota, Kabupaten Maluku Tengah masih paling rendah, baru 7 persen. “Kita masih rendah baru 26 persen se-Maluku, dan paling rendah itu Malteng masih dibawah 10 persen, paling tinggi Ambon sudah 73 persen,”bebernya Rabu via seluler.

Meski begitu, Rerung memastikan Satgas tetap mendorong agar kabupaten/kota di Maluku terus menggenjot capaian vaksinasi agar target tercapainya herd immunity di akhir tahun sebagaimana yang ditargetkan pemerintah.

“Makanya kita minta agar kabupaten/kota bisa terus genjot vaksinasi ini, dibenahi kendala-kendalanya, seperti masih ada yang takut divaksin, itu disosialisasi lagi terus,”sambungnya.

Sementara stok vaksin sendiri di Maluku kata dia mencukupi. Stok vaksin di Dinkes Maluku juga masih tersedia 1.316 dosis Sinovac, 406 dosis Moderna dan 2.920 dosis Astrazeneca.

“Masih mencukupi stok vaksin, jadi ketika kabupaten meminta bisa langsung didistribusikan,”tandasnya. (Ruzady)