Dalam Sehari Dua Warga Di Maluku Tewas Diterkam Buaya

Dalam Sehari Dua Warga Di Maluku Tewas Diterkam Buaya

SHARE
Sungai Ruata di Makariki Kabupaten Maluku Tengah, lokasi penemuan bagian tubuh seorang warga yang menjadi korban serangan buaya, Kamis (7/2/2019). FOTO : ISTIMEWA

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Tidak hanya terjadi di Negeri Makariki Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), ternyata buaya juga menerkam seorang warga di Desa Atubul Dol Kecamatan Wertambrian Kabupaten Kepulauan Tanimbar (Maluku Tengara Barat) hingga tewas.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Mukhtar Amin Ahmad mengungkapkan pada hari yang sama, Kamis (7/2/2019) terjadi dua peristiwa konflik buaya dengan manusia di lokasi berbeda. Buaya memangsa dua warga hingga tewas.

Amin mengatakan Jonias Makaweru, 37 tahun, warga Kompleks SMK Negeri 1 Amahai Negeri Makariki Kabupaten Malteng ditemukan tewas di muara Sungai Ruata, Kamis siang. Korban diterkam buaya saat menjala ikan di sungai tersebut. Sedangkan Adamalik Batalata, 48 tahun juga tewas diterkam buaya di perairan  Desa Atubul Dol Kabupaten Kepulauan Tanimbar saat mencari ikan, Kamis dini hari.

Menurut Amin, saat dimaksa buaya, korban Adamalik sempat ditolong dua nelayan yang mencari ikan bersama dengan posisi tak jauh. Kedua teman korban berusaha menyelamatkan korban dengan memanah seekor buaya itu. Buaya akhirnya melepas korban, namun saat kedua nelayan tersebut datang, korban sudah meninggal dunia. Kedua nelayan membawa pulang jenazah Adamalik dan melaporkan peristiwa ini ke Kepala Desa.

“Jadi  kemarin, Kamis, 7 Februari ada dua peristiwa konflik buaya dengan manusia. Satu di Negeri Makariki Maluku Tengah, kejadiannya di sungai saat korban menangkap ikan  dan satunya di Desa Atubul Dol Kabupaten Kepulauan Tanimbar saat korban mencari ikan di dalam laut. Dan dua orang  warga tersebut meninggal dunia  setelah di gigit buaya,” kata Amin saat dihubungi Terasmaluku.com, Jumat (8/2/2019).

Menurut Amin untuk korban Adamalik sudah dimakamkan pihak keluarga Kamis sore. Sementara untuk korban di Makariki, baru ditemukan sejumlah bagian tubuh korban di muara Sungai Ruata. Pihaknya bersama masyarakat dan aparat keamanan, Jumat ini akan melakukan pencarian tubuh korban lainnya. “Tim kita sudah diberangkatkan ke Makariki untuk mendatangi lokasi kejadian,” ungkap Amin.

Atas dua peristiwa ini, Amin mengungkapkan pihaknya mengambil langkah-langkah agar tidak ada korban jiwa lagi. Yakni terus memantau di lapangan, meminta warga untuk selalu waspada dan hat-hati di lokasi rawan ancaman buaya. Pihak BKSDA Maluku juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya untuk penangannya serta melakukan kajian terhadap populasi dan habitat buaya di Maluku.

“Langkah-langkah yang kami lakukan yakni, terus melakukan pemantauan di lapangan,  menghimbau warga untuk selalu waspada dan hati-hati di lokasi rawan ancaman buaya.  Kita melakukan kordinasi denga instansi terkait untuk antisipasi penanganannya. Dan kami akan melakukan kajian terhadap  populasi dan habitat buaya,  apakah memang sudah overpolulasi atau habitatnya yang rusak,” kata Amin.

Amin menyebut, Provinsi Maluku sebagai negeri kepulauan merupakan habitat buaya. Pulau Seram, Pulau  Buru, Pulau Tanimbar adalah merupakan habitatnya buaya. Amin mengungkapkan saat ini di sejumlah daerah terjadi konflik buaya  dengan manusia.

Ia menilai kemungkinan terbesar terjadinya akibat rusaknya habitat buaya. Selain itu, banyak nelayan gunakan bom ikan,  sehingga ikan yang menjadi pakan buaya berkurang. Adanya perubahan tata kelola lahan,  seperti  habitat buaya dijadikan lahan kebun dan lainnya. (ADI)

loading...