Danau Rana, Pesona Wisata Berbasis Adat di Pulau Buru

by
Danau Rana Kabupaten Buru, Maluku. FOTO : Dispar Kabupaten Buru

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Danau Rana menjadi salah satu pusat peradaban budaya di Pulau Buru yang masih terus dijaga. Di sekeliling danau yang dikenal keramat itu masyarakat adat hidup bersama membaur dengan alam. Alam yang menciptakan dan membentuk mereka dengan segala kekayaan budaya. Hingga kini danau terbesar di Provinsi Maluku itu begitu akrab di telingan masyarakat sebagai danau yang kental dengan aura mistis.

BACA JUGA : Buah Naga, Agrowisata Pulau Buru Yang Terkenal

Kekuasan alam serta budaya orang asli di Danau Rana, kerap membuat danau yang berada di jantun Pulau Buru itu tampak gelap. Tak banyak wisatawan yang datang ke sana. Selain karena cerita yang beredar, juga karena lokasi yang jauh. Wisatawan yang ingin ke Danau Rana dari harus menempuh perjalanan sejauh sekitar 80 KM dari pusat Kota Namlea, Ibukota Kabupaten Buru.

Jalan yang belum diaspal turut memperlambat laju kendaraan. Apalagi bagi yang baru pertama ke sana, medan menuju Danau Rana di Kecamatan Air Buaya punya tantangan tersendiri. Bila tidak ahli atau bukan warga lokal ada baiknya berpikir dua kali.  Alhasil danau yang memiliki beberapa titik yang dikeramatkan itu tak banyak diketahui orang.

Medan yang jauh juga membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk sekali menyewa mobil. Menanggapi hal itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru pun berinisiatif untuk memudahkan aksesabilitas ke Rana. Yakni dengan membangun jalan ke Danau Rana. “Tahun ini sudah buat jalan ke Rana. Ini ide pak Bupati biar aksesnya lancar,”kata  Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buru, Istanto Setyahadi kepada Terasmaluku.com, Senin (3/9/2018).

Selama ini perjalanan menuju ke Rana memakan waktu sekitar 4 jam. Biaya yang dikeluarkan untuk sewa mobil jenis truk bisa mencapai Rp 4 juta. Jelas jumlah yang tak sedikit bagi wisatawan. Karena itu menurut Istanto, pembangunan jalan menjadi satu satunya solusi untuk menekan biaya perjalanan, waktu serta membuka peluang wisata. Meski demikian, konsep wisata yang dikembangkan di Danau Rana dirancang berbasis adat. “Kita bikin wisatanya berbasis adat. Di sana ada masyarakat asli Rana dengan budaya kental, jangan sampai tradisi dan budaya mereka hilang seiring pembangunan,” jelas Istanto.

loading...

Menurut Istanto, kekayaan budaya dan kearifan lokal setempat dapat menjadi sisi menarik. Wisatawan tak hanya menikmati keindahan danau tapi juga belajar tentang peradaban di sekitar danau yang lestari di Negeri Bupolo itu. Pihaknya juga berupaya agar perbaikan akses ke Rana tidak sampai menimbulkan kerusakan alam. Misalnya banjir, investasi penginapan di sekitar danau, atau pembangunan ilegal.Hal itu akan menjadi perhatian khusus mengingat sekitar danau tersebar wilayah yang dikeramatkan oleh warga.

Lokasi lokasi itu dijadikan pusat beraktifitas atau tempat pemujaan kepada leluhur yang tak boleh sembarang dimasuki orang. Termasuk diantaranya menurut Istanto ada lokasi yang tidak bisa diambil foto. “Ada beberapa lokasi yang tidak bisa diambil foto sembarangan, harus minta ijin warga adat dulu, kalau tidak, ya itu sama saja hasil fotonya tidak ada,”kata Istanto.

Pembangunan berbasis lingkungan dan budaya akan menjadi prioritas Pemkab Buru dalam mengembangkan Danau Rana sebagai destinasi wisata budaya dan alam di Pulau Buru. Tidak hanya Danau Rana, masih banyak potensi wisata lainnya di kabupaten penghasil minyak kayu putih itu. (PRISKA BIRAHY)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *