Dari Musrembang Bersama Maluku dan Malut, Bertemu Karena Cinta, Kakak Adik

by
Gubernur Maluku Said Assagaff dan Gubernur Malut Abdul Ghani Kasuba, bersama pejabat dari kedua provinsi saat penutupan Musrembang di KM. Doro Londo, Jumat (7/4) malam. FOTO : TERASMALUKU

TERASMALUKU.COM,TERNATE_Gubernur Maluku Utara (Malut) KH. Abdul Ghani Kasuba meminta Kota Ternate menjad tuan rumah pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) bersama kedua, Provinsi Maluku dan Malut tahun 2018. Permintaan itu direspon Gubernur Maluku, Said Assagaff.

“Saya minta Musrenbang 2018, Ternate menjadi tuan rumah. Saudara-saudara dari Maluku datang ke Maluku Utara (Ternate), baru kita sama-sama menuju Maluku dengan menggunakan rute kapal Ternate – Ambon – Banda – Tual,” ujar Kasuba dalam sambutan perpisahan, di Dhuafa Center Kota  Ternate, Sabtu (8/4) dini hari, ketika KM. Doro Londa yang membawa peserta Musrenbang Bersama, singgah di kota tersebut.

Menurut Kasuba, dia sengaja meminta Malut sebagai tuan rumah, lantaran lebih kurang 10 sampai 15 tahun lalu, hubungan kedua daerah nyaris putus sama sekali setelah Malut dimekarkan dari Maluku. “Pertemuan bersama Maluku dengan Malut itu sangat jarang sekali terjadi. Apalagi kondisi kala itu pesawat tidak ada bahkan kapal pun jarang,” ungkapnya.

Lantaran itu, momen Musrenbang Bersama ini, disebut Kasuba, harus dimaknai dan dipakai untuk menjalin silaturahmi yang sempat terputus itu. “Ini suatu pertemuan yang sangat indah, yang belum pernah terjadi selama ini. Sebelumnya kami semua sempat meragukan pertemuan dua provinsi ini, termasuk saya dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada. Ternyata perjalanan ini sangat luar biasa. Mungkin saya bahkan tidak bisa menghadirinya lagi tahun depan, karena harus mengakhiri masa jabatan. Maka saya minta diteruskan oleh gubernur yang menggantikan saya,” kata Kasuba.

Bagi dia, tadinya tidak pernah terpikir untuk bisa kumpul seperti momen Musrenbang bersama ini. Saling berhadapan dan menyapa satu dengan yang lain. “Sebelumnya  saya tidak pernah tahu Bupati Aru itu seperti apa. Begitu juga Bupati lainnya. Mungkin juga, Bupati Maluku Tenggara tidak pernah kenal dengan Bupati Halmahera Tengah. Tapi melalui momen ini semua bisa saling mengenal,” paparnya.

Kasuba menyatakan, Musrenbang ini bukan saja hanya bicara masalah program dan lainnya. Tetapi hal yang paling utama adalah menjalin   silaturahmi diantara Maluku dengn Malut, sebagai “adik” dan “kakak”. Maluku disebut kakak, karena melahirkan Provinsi Malut.

“Semua kita yang hadir ini, makan dan berbincang bersama tentang kesulitan bersama Maluku – Malut. Kita mulai sama-sama sejak hari pertama kapal berangkat dari Ambon. Hampir sebagian besar waktu kita di atas kapal ini, kita gunakan untuk berbincang tentang pembangunan dan saling mengenal potensi di dua provinsi ini dan 21 kabupaten yang ada di dua wilayah, sehingga bisa saling tahu,” ujarnya.

Kasuba menyatakan, Musrenbang Bersama di atas kapal ini sangat efektif. Karena semua peserta termasuk seluruh SKPD jadi fokus untuk mendiskusikan dan mencari solusi masalah yang dihadapi daerah masing-masing. “Apalagi tidak ada satu SKPD pun yang keluyuran di mall, semua di dalam kapal jadi fokus Musrembang,”  katanya.

Kasuba juga berterima kasih dalam keberadaan Malut sebagai adik yang 10 tahun lebih dimekarkan, tetapi sebagai orang tertua, Maluku melalui Gubernur Assagaff dan Wakil Gubernur Zeth Sahuburua, selalu membimbing.

“Dulu, apa yang diajukan ke pusat kadang-kadang masing-masing provinsi berjuang sendiri. Syukurlah melalui Pak Gub dan Pak Wagub Maluku, kami juga ikut diperjuangkan. Apakah di sini atau di pusat selalu bersama untuk menyampaikan hal-hal penting diantara dua provinsi ini,” ungkapnya.

Menurut Kasuba, ini menandakan, bahwa ternyata Ternate-Ambon, Maluku-Malut mulai tersambung silaturahim seperti dahulu. Pela gandong akan berlanjut. Juga akan saling memahami dan mengerti kesulitan bersama. Persaudaraan ini yang harus dijalin, saling mengenal, mengetahui bersama. Sehingga ketika bangun Maluku-Malut, ini sama-sama dirasakan.

“Hal ini begitu terasa ketika baru pada periode ini di dua tahun terakhir. Satu minggu ini, tiga pesawat yang berbadan lebar mendarat dari rute Ternate – Ambon. Tadinya, pesawat kecil pun tidak pernah ada. Sekarang sudah tiga maskapai melayani rute Ternate – Ambon.Penerbangan tidak pernah kosong bahkan banyak orang yang tidak mendapatkan kursi untuk terbang menuju Ambon, terimah kasih kakak dari Maluku,” terangnya.

Kasuba yakin, apa yang ada di Malut, ada lebihnya mungkin kita bisa sharing ke Maluku. Mungkin juga Maluku punya kelebihan, bisa disharing ke Malut, dengan hubungan yang mulai lancar ini.

Sementara itu Gubernur Maluku Said Assagaff menyatakan, Musrembang bersama ini memiliki nilai yang penting dan  strategis bagi pembangunan pada dua wilayah itu.  Maluku dan Malut menyatu secara geologi, geografis dengan flora dan faunanya yang terbentuk dalam ekosistem Walasea sebagai satu kesatuan wilayah Maluku.

Secara geneologis menurut  Assagaff, penduduk Kepulauan Maluku telah tercampur dan membentuk sistem budaya yang mirip, namun tersebar dalam koloni kepulauan yang masing-masing memiliki ciri tersendiri.

Persamaan kedua wilayah yang pernah berada dalam satu wilayah pemerintahan inilah yang menjadi dasar digelarnya Musrenbang Bersama. “Musrenbang bersama di atas kapal ini, merupakan perjalanan historis untuk membangun wilayah Maluku dan Malut,”tuturnya.

Moment Musrenbang ini sebagai dorongan dalam membangun kerjasama regional dalam menyusun program bersama guna menumbuhkan sektor ekonomi di Maluku dan Malut. Selanjutnya, tentang perencanaan pembangunan Maluku ke depan, dia katakan, akan didasarkan pada karakteristik kepulauan yang didominasi pulau-pulau kecil didukung pemandangan bawah laut yang fantastis dan sejarah historis yang panjang, yang menjadi trend tersendiri dalam pengembangan Maluku ke depannya.

“Sejumlah kerjasama  dibangun  antar Maluku dan Malut, baik di bidang perhubungan,  pariwisata maupun pertambangan. Dengan Musrembang ini juga, para Bupati/Walikota dari Maluku dan Malut bisa berdiskusi mengenai peluang kerjasama untuk  kebutuhan di daerah masing-masing. Maluku maju maka Malut juga harus maju, begitu sebaliknya,” kata Assagaff.

Saat perpisahan itu, Assagaff menyanyikan sejumlah lagu Maluku seperti Sio Mama, Dari Ujung Harmahera Sampai Tenggara Jauh dan Lagu Gandong. Sejumlah peserta Musrembang dari Maluku dan Malut tak kuasa menahan sedih saat mendengar lagu ini, dan berangkulan satu dengan yang lainnya.

“Insya Allah kita akan jadi satu  merasakan bersama segala persoalan bersama dan mudah-mudahan kita selesaikan bersama. Begitu banyak pulau tapi begitu banyak juga kesulitan yang tentu harus kita tahu bersama untuk dicarikan solusinya. Kita berpisah tapi Insya Allah hati kita tak pernah terpisah, karena kita satu Maluku. Kita Bertemu karena cinta diantara kakak adik, Maluku dan Malut. Selamat jalan Pak Gubernur  dan rombongan, selamat jalan saudara kami  kakak dari Maluku,” tutur Kasuba, saat melepas rombongan Musrembang Maluku naik ke KM. Doro Londa menuju Ambon. (ADI)