Dari Sekian yang Ogah, Berikut Alasan Seorang Nakes yang Siap Vaksinasi

by
Sumber: Bizbridge

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Di kalangan tenaga kesehatan (nakes) yang jadi penerima vaksin tahap pertama pun punya pemahaman dan pendekatan berbeda soal vaksin. Dari mayoritas yang menolak, wartawan berhasil menemukan seorang nakes yang bersedia divaksin. Berikut penjelasannya.

Tanggapan berbeda ini datang dari nakes yang bertugas di Kabupaten Maluku Tengah. A.W, justru siap dengan vaksin sinovac. “Kalau personal beta akan tetap terima vaksin. Pertama vaksin itu buat tubuh lebih siap terima virus. Dalam arti vaksin ini bukan cegah tapi siapkan tubuh terhadap infeksi,” paparnya kepada Terasmaluku.com, saat berada di Kota Ambon Senin (11/1/2021).

“Gejala yang katong terima saat diberi vaksin lebih sedikit dari pada orang yang diberi vaksin. Pemberian vaksin picu respon imunitas. Respon imun humoral. Jadi karena vaksin itu pakai bagian virus yang sudah mati, jadi katong tubuh akan deteksi itu sebagai antigen. Jadi katong tubuh akan produksi sistem imun. Makanya buat beta akan terima. Tapi bukan sebagai untuk putus rantai covid. Tapi biar gejala lebih ringan,” katanya.

A.W memberi pendekatan vaksin covid-19 layaknya vaksin cacar. Mereka yang telah divaksin cacar tetap akan terkena cacar. Namun dengan gejala yang jauh lebih ringan bila dibanding mereka yang tidak menerima vaksin sama sekali.

Sementara responden lain yang menolak, di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) memilih tidak divaksin. T.A, salah seorang nakes yang bertugas di KabupatenSBB mengaku enggan jika harus menerima vaksin. “Beta seng mau. Nanti bagaimana, beta juga punya penyakit darah tinggi. Lebih baik seng usah,” jelasnya dengan ekspresi yang enggan.

T.A menceritakan, dia dan para rekan seprofesi lain telah diberi imbauan dan penjelasan soal aka nada vaksinasi. Sebagai tenaga kesehatan pun mereka paham akan hal itu. Hanya saja IT lebih memilih menghindar dan tidak mau divaksin.

Hanya saja dia mengaku punya ketakutan lain jika nanti vaksinasi ini berujuang pemaksaan. Pasalnya mereka telah didata identitas untuk konfirmasi penerima vaksinasi. “Katong  sudah diminta nama lengkap nomor telepon alamat email dan lain-lain. Katanya nanti akan ada konfirmasi melalui SMS untuk vaksin,” tuturnya.

Sejalan dengan T.A, nakes yang bertugas di Kota Ambon, L.N, juga mengungkapkan ketidaknyamannya menerima vaksin. Ada anggapan soal efek samping serta kandungan-kandungan yang ada di dalam vaksin yang belum diketahui pasti. “Lebih baik seng usah. Katong seng tahu efeknya seperti apa,” jawabnya singkat.

Maluku menadapat jatah 15.120 vaksin. Vaksinasi akan dibagi dalam tiga tahap. Nakes adalah mereka yang akan menerima vaksin tahap pertama. Kemudian disusul TNI/POLRI dan pegawai PNS.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, dr. Meikyal Pontoh melihat ini wajar. Hanya, pihaknya telah menyiapkan strategi jika ada nakes yang tidak mau. Yakni dengan pendekatan persuasif, memberi pemahaman tentang vaksin tersebut.

Pada kesempatan berbeda, Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito melalui keterangan pers virtual di kanal youtube BPOM menjelaskan efikasi atau keberhasilan vaksin CoronaVac Sinovac mencapai 65,23% di Indonesia.

Dalam keterangan pada 8 Januari lalu Penny memaparkan, efikasi vaksin covid-19 Sinovac di Turki mencapai 91 persen, sementara Brasil menyebut efikasi vaksin COVID-19 Sinovac mencapai 78 persen.

“Perbedaan efikasi antara uji klinik vaksin yang berbeda-beda di setiap negara tidak bisa dibandingkan. Artinya karena dipengaruhi faktor perbedaan jumlah subjek, pemilihan populasi subjek, karakteristik subjek, dan kondisi lingkungan masing-masing,” papar Penny dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual pada Jumat (8/1/2021). (PRISKA BIRAHY)