Demo Masyarakat Adat Maluku, Simbol Kakehang di Trotoar Dicat Hitam

by
Simbol kakehang yang dipasang di jalur pejalan kaki dicat hitam oleh Pemilaun Vigel Faubun, perwakilan masyarakat adat sebagai protes kepada pemerintah yang belum mengganti simbol sakral itu di depan Komplek Sekolah PDK Jalan Pattimura Ambon, Kamis (23/8/2018) FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Masyarakat adat Maluku akhirnya turun ke jalan, Kamis (23/8/2018). Aksi demo damai yang dilakukan sejak pukul 10.00 hingga 12.30 WIT itu utuk menuntut pemerintah mengganti motif yang dipasang di trotoar di sepanjang Jalan Pattimura Kota Ambon.

Para pendemo melakukan aksi damai dalam balutan kain gandung putih di sepanjang jalan di Kota Ambon

Para pendemo yang turun ke jalan, mereka merupakan perwakilan masyarakat adat, tetua adat serta orang Maluku yang peduli terhadap budaya Maluku. Dalam ikatan kain gandong putih, mereka mulai berorasi dari Lapangan Merdeka dan berhenti di beberapa titik Jalan Pattimura.

Loading...

Di bawah komando kapitan aksi Pemilaun Vigel Faubun, mereka mengecet simbol simbol ada di depan pintu masuk beberapa lembaga pendidikan yang ada di sepanjang kawasan Pattimura. “Beta minta basodara dong seng injak injak simbol adat. Itu katong orang Maluku punya identitas, bukan untuk diinjak dan diludahi,” teriak Vigel lantang.

Sekaleng cat hitam pun dituangkan ke atas simbol dan disapukan. Vigel mengawali aksinya menutup lambang lambang kakehang yang terdapat di depan pintu masuk SD Negeri 65 atau depa pintu kompleks PDK. Simbol empat arah mata angin serta paikole langsung dihitamkan. Beberapa pengguna jalan maupun orang tua siswa yang ada di situ seketika kaget dengan aksi tersebut.

Sembari mengecat dirinya menyampikan maksud orasi dan aksinya itu kepada orang orang yang berkerumun. Dia menilai lambang atau simbol yang harusnya dijaga dan dihormati malah kini diinjak oleh warga. Usai di depan sekolah dasar, rombongan melanjutkan aksi di trotoar depan SMA Negeri 1 dan Komplek Sekolah Katolik Xaverius Ambon.

Ketua komunitas Kalesang Maluku itu mengaku protes tersebut lantaran pemerintah dianggap tidak memahami makna simbol ada orang Maluku. “Sebelumnya kami sudah bersurat mau mediasi tapi tidak ada hasil. Ini aksi pertama kami supaya pemerintah tahu itu simbol adat bukan untuk diinjak di jalan,” kata Ketua Komunitas Kalesang Maluku itu.

Usai mengecet simbol adat, mereka melanjutkan aksi menyusuri Jalan Rijali ke Jalan Yan Paays dan berakhir di Lapangan Merdeka Ambon. Mereka menutup aksi itu dengan melakukan ritual adat dan doa doa kepada leluhur dalam kain gandong putih yang digelar mengelilingi patung Kapitan Pattimura. (BIR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *