Dewata Kian Berdenyut Selama Perhelatan IMF

Dewata Kian Berdenyut Selama Perhelatan IMF

SHARE
Pantai Wisata Jikumarasa di Kabupaten Buru, menjadi salah satu lokasi wisata terbaik di Maluku. Foto diambil Jumat (20/4). FOTO : ADI (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Warga Indonesia patut berbangga. Tahun ini merupakan berkah terbesar bagi negara. Melalui proses seleksi yang ketat serta tinjauan perkembangan ekonomi, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah perhelatan ekonomi terbesar di dunia. Yakni Annual Meetings International Monetary Fund-World Bank Group 2018 atau tuan rumah kegiatan IMF.

Pada perhelatan besar ini para menteri keuangan negara negara anggota IMF, pengambil keputusan gubernur sentral keuangan, akademisi, investor hingga media berbagai negara bakal tumpah ruah di Pulau Dewata Bali sebagai lokasi penyelenggaraan acara. Total bakal ada 15.000 orang perwakilan 189 negara dunia anggota IMF yang mengikuti acara tersebut.

Perkembangan ekonomi serta kebijakan kebijakan ekonomi pada tiap negara akan jadi bahasan utama. Apalagi keberadaan Indonesia sebagai middle income country terus menunjukkan kemajuan. Di dalam formasi negara anggota ASEAN Indonesia merupakan negara keempat tuan rumah, setelah Filipina (1976), Thailand (1991), dan Singapura (2006).

Bahkan negara tetangga, Malaysia kalah bersaing dengan Indonesia. Selain pertumbuhan ekonomi negara, kestabilan keamanan, infrastuktur maupun politik negara jadi hal yang diperhitungkan tim juri. Sejak 2014 Indonesia telah mendaftarkan diri agar bisa menjadi tuan rumah.

Tentunya dengan segala pertimbangan yang matang. Pada saat mendaftarkan diri empat tahun lalu, terdapat tiga negara yang masuk bursa penilaian. Managing Director IMF Christine Lagarde saat mengunjungi Bali pada Maret lalu menjelaskan dari semua aspek penilaian hingga masalah teknis, Indonesia lolos seleksi. Belum lagi nama Bali jauh lebih mendunia ditelinga para petinggi negara yang berencana hadir.

Nama Bali bahkan mengalahkan Senegal yang juga ikut mengajukan diri sebagai tuan rumah. Hal ini tentu membawa angin baik bagi negara. Bukan semata dalam kebijakan keuangan. Ada hal besar lain yang tak boleh luput dari perhatian. Penyelenggaran acara yang berlangsung pada 12 hingga 14 Oktober 2018 itu merupakan cara paling efektif dalam mengenalkan Indonesia di mata dunia.

Kepercayaan sebagai tuan rumah itu sekaligus pengakuan. Bayangkan saja selama tiga hari acara akan ada belasan ribu tamu di Bali. Bahkan dapat dikatakan mereka adalah wisatawan potensial. Artinya bukan sekadar berlibur tapi juga berpeluang investasi dan menjalin kerjasama dengan Indonesia. “Yang datang nanti aalah para decision maker. Mereka akan melihat langsung Indonesia dan ini adalah cara promosi yang sangat powerful,” sebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Agustus lalu.

Usaha bidang hospitality seperti hotel, penginapan, spa and salon, makanan, hingga transportasi berdenyut kencang. Okupansi hotel dipastikan di atas 90 persen bahkan bisa menembus angka sempurna. Usaha salon spa maupun tempat pijat laku keras. Tawaran spa di alam aroma racikan wewangian khas Bali sudah tentu jadi incara wisatawan asing.

Bagi mereka itu adalah pengalaman berbeda dan unik. Belum lagi persewaan kendaraan. Para tamu tersebut akan memanfaatkan momen ini untuk berkeliling pulau dewata. Penyedia jasa driver dan persewaan mobil sudah pasti penuh permintaan selama acara berlangsung. Ribuan usaha tempat makan dengan aneka menu, serta variasi view interior-exterior menjadi salah satu ladang panen keuntungan terbesar.

Kebutuhan makan sejak pagi hingga malam disusul club diskotik yang buka hingga pagi mnawarkan rasa rileks setelah seharian beracara di ruangan tertutup. Biasanya buah tangan masuk dalam to do list yang bersifat wajib. Dapat dibayangkan ada berapa banyak kriya souvenir handmade asal Bali yang mencuri perhatian dunia.

Sekecil apapun itu akan dibeli oleh wisatawan sepanjang ia berbeda dan khas Indonesia. Jika masyarakat jeli, kesempatan ini tentu tidak bisa disia siakan. Tak hanya di Bali, panitia telah merancang daerah tujuan wisata lain yang bakal direkomendasikan bagi tamu. Seperti di Danau Toba, Jogja, Labuan Bajo. Arus wisatawan akan dibawa ke berapa lokasi itu. Tujuannya agar mereka bisa melihat dan merasakan langsung kesiapan serta kualitas pariwisata yang ada di Indonesia.

Tentunya tiap lokasi itu memiliki karakter alam yang khas. Dengan begitu pemerintah optimistis bila kedepan akan ada kerjasama besar pada sektor pariwisata maupun pengembangan transportasi di Indonesia. Ini yang kemudian disebut intangible benefit yang dirasa negara dan masyarakatnya di kemudian hari. Dengan prediksi ekonomi yang meroket selama kegiatan beberapa sektor lain pun turut terlibat. Investor dalam negeri serta otoritas moneter dan jasa keuangan diharapkan cerdas memanfaatkan momentum.

Kemudahan membuka usaha atau memberi pinjaman usaha dengan bunga dan sistem yang aman mampu menyuburkan usaha dan percepatan roda ekonomi negara. Pemasukan yang didapat negara dari perhelatan ini pun tak bisa diangap sepele. Selain pada sektor riil, engagement pemerintah Indonesia dengan investor atau pemegang kekuasaan negara lain makin baik. Hal itu diyakini setali tiga uang dengan stabilitas ekonomi. (BIR)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
loading...