Didemo, Dirut PDAM Masohi Siap Mundur

Didemo, Dirut PDAM Masohi Siap Mundur

SHARE
Unjukrasa memprotes kinerja Dirut PDAM Masohi, Jumat (8/2/2019). FOTO : ANCA

TERASMALUKU.COM,-MASOHI-Belasan orang pengunjukrasa dari Aliansi Pemerhati Kota Masohi mendesak Direktur Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Masohi Kabupaten Maluku Tengah, Daud Syukur mundur.

Ia dinilai gagal memimpin perusahan plat merah tersebut. Padahal sudah 17 tahun menjabat direktur, namun krisis air bersih terus, pengembangan sarana prasarana hingga menajemen keuangan terus terjadi.

“Direktur PDAM gagal, krisis air bersih masih mengancam Kota Masohi, sarana dan prasarana yang tidak layak termasuk pertanggungjawaban keuangan,” tegas Irman Parman dalam aksi unjukrasa, Jumat (8/2/2019).

Parman mengaku perusahan tersebut sudah saatnya dipimpin oleh orang-orang yang inovatif, berkontribusi bagi daerah terutama pelayanan prima kepada masyarakat.

Hermansya Toyo, pengunjukrasa lainnya menambahkan, kisis air bersih yang dialami masyarakat berlangsung sepanjang tahun. Namun, perusahan belum menemukan solusi perbaikan.

“Sudah berlangsung sejak tahun 2016. Musim panas air kering, musim hujan air berubah merah. Yang dirugikan adalah masyatakat,” ungkapnya. Meski begitu lanjut Hermansya tagihan rekening air kian hari membengkak.

Persoalan tersebut diakui Daud Syukur. Menurutnya debit air pada beberapa sumber air terus menurunan. Salah satu faktor penyebab mengecilnya debit air adalah perluasan pemukiman dan penebangan hutan di sekitar sumber air.

“Saya akui sejak 2016 air sering padam. Itu karena adanya perluasan lahan dan penebangan sehingga debit air yang sebelumnya 30 liter/detik, kini sisa 5 liter/detik,” katanya.

Soal menajemen keuangan, Syukur mengatakan perusahan tersebut tidak mengelola keuangan yang bersumber dari APBD maupun APBN. “PDAM hanya mengelola air, pembangunan sarana dan prasarana kewenangan Dinas Pekerjaan Umum,” ujarnya.

Saat ini perusahan sedang merencanakan pembangunan air bersih yang sumbernya dari sungai Noa. Namun, terkendala anggaran. “Anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 115 miliar untuk penyambungan sumber air baru,” jelasnya.

Syukur mengaku aksi protes dari kalangan warga dan pelanggan terus terjadi. Dirinya pun tidak ingin terus diprotes. “Ya, jika Bupati menghendaki mundur, saya siap mundur. Saya tidak ingin terus dicaci-maki,” kata Syukur.

Ia optimis bersama pemerintah daerah terus mencari solusi penyelesaian krisis air bersih di Kota Masohi. Salah satunya dengan mencari sumber air baru. “Ada rencana-rencana jangka pendek dan panjang sampai 2030, optimis saya persoalan ini tuntas,” pungkasnya.(Ancha)

loading...