Diduga Kena Limbah PLTD, Pengusaha Keramba Merugi 400 Ekor Ikan Mati

by
kondisi air sekitar keramba ikan Ferol di Hative Kecil yang diduga dari perusahaan listrik terdekat, (10/6). FOTO: Istimewa

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Kesedihan terpancar dari mata Ferol Tipawael saat membuka lemari pendingin. Pada laci bagian atas, pengusaha keramba itu menyimpan puluhan ikan mati yang telah dibersihkan.

BACA JUGA : Klarifikasi PLN Terkait Dugaan Ada Limbah Penyebab Ikan Mati

BACA JUGA : Ratusan Ikan Warga Hative Kecil Mati Misterius di Keramba

Bagian dalam perutnya telah dikeluarkan. Dia lalu menyimpannya sebagai bukti jika suatu saat diperlukan untuk menguji ada tidaknya cemaran limbah di sana.

Sebagian ikan mati dimasukan ke lemari pendingin sebagai bukti

Ikan dalam kerambanya jenis bubara dan baru berusia 2 bulan. Mereka ditemukan mati mengambang di permukaan laut.

Ferol termasuk pengusaha keramba yang baru merintis sekitar 4 bulan lalu. Namun pada Senin 7 Mei 2021 hingga Rabu 7 Mei 2021, satu persatu ikan ditemukan mati.

“Mulai dari Senin sampai kemarin mati. Paling banyak itu Selasa (8/6/2021) sore abis kasi makan, ada 300 lebih ikan,” katanya.

Pria 30 tahun itu dulunya nelayan tangkap. Dia lalu banting stir dengan modal yang ada membuka usaha keramba.

Kepada wartawan, Kamis (10/6/2021) siang dia berucap, usaha keramba ikan dimulai dengan modal Rp. 6 juta. Itu untuk membeli 808 bibit ikan bubara, jaring, kayu, jeriken, pakan dan lain-lain.

Sayangnya, belum sampai masa panen, Ferol harus merugi. Jika ditaksir, harga jual satu ekor ikan sekitar rp 25.000 per ekor. Atau Rp 75.000 per kilogram. Sementara ikan yang mati lebih dari 400 ekor setelah ada perubahan warna air.

“Baru jalan 4 bulan ini. warnanya merah karat, coklat karatan. Sempat ada busa begitu,” jelas Ferol saat menunjukkan letakkeramba di laut belakang rumahnya di Kampung Kolam, Hative Kecil, Kecamatan Sirimau kota Ambon. Jika ditakar, kerugiannya berkisar Rp 3 juta.

Menurut Ferol kematian ikannya disebabkan ada cemaran air. Dia menduga air keruh dan berwarna itu terkandung bahan kimia dari limbah buangan PLTD Hative Kecil.

“Kalau sementara itu ada pembuangan kimia. Kalau menurut beta seng ada perusahaan lain di sini, jadi dugaan sementara mungkin ada pembuangan limbah,” tutur dia.

Hal ini telah dikonfirmasi ke pihak PLTD. Ferol dan tiga anggota keluarga lain menemui staf PLTD. Mereka mengatakan, sudah sekitar 1 minggu alat di PLTD tidak beroperasi.

Dari situ, beberapa staf PLTD juga telah mendatangi lokasi dan mengambil sampel air dari keramba Ferol.

“Mengenai hasil lab tadi sudah katong tanyakan. Katanya hasil uji sampel air belum keluar,” tulis saudara Ferol melalui pesan singkat kepada wartawan sore ini. (PRISKA BIRAHY)