Dilema Antara Akses Dan Kualitas Terhadap Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan Selama Pandemic Covid-19 di Maluku

by
Franklin Untailawan, M.Pd, Dosen IAKN Ambon. FOTO : DOK. PRIBADI

Pembelajaran dalam jaringan pada masa ‘pandemic Covid-19’ semakin memperlihatkan ketimpangan sistem pendidikan di Indonesia. Infrastruktur pendidikan yang tidak merata dan kurikulum yang tidak sesuai membuat kesenjangan pendidikan semakin melebar. Sebagai wilayah dengan karakteristik kepulauan, Provinsi Maluku memiliki tantangan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikannya secara merata terlebih di era revolusi industri 4.0 ini.

Hal tersebut masih didominasi oleh minimnya akses jaringan internet serta fasilitas pendukung lainnya. Tulisan ini merupakan sebuah refleksi bersama para guru di seluruh kabupaten kota di Provinsi Maluku. Opini para guru di Provinsi Maluku yang dituangkan dalam tulisan ini diperoleh dari sebuah survey dalam jaringan yang kemudian disebarluasakan untuk para guru yang berasal dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah di kota Ambon hingga Kabupaten Maluku Barat Daya.

Terdapat beberapa hal penting yang menjadi perhatian yaitu;

  • Himbauan Kemendikbud untuk melakukan pembelajaran jarak jauh oleh semua satuan pendidikan di Indonesia dalam masa ‘Pandemic Covid-19’, menjadi tantangan baru bagi para guru di Provinsi Maluku. Keterbatasan akses jaringan internet di hampir sebagian besar wilayah kabupaten/kota di provinsi ini menjadi faktor utamanya. Hal tersebut juga didukung oleh kesiapan guru dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran yang masih rendah.
  • Rangkaian sistem pembelajaran konvensional yang harus mengalami transformasi ke dalam dunia digital secara mendadak turut berdampak pada penurunan kualitas pembelajaran.
  • Tingkat partisipasi peserta didik yang ‘cukup’ rendah pada pembelajaran dalam jaringan menjadikan guru mengalami kesulitan untuk mengontrol perkembangan pengetahuan peserta didik serta berdampak pada proses penilaian hasil belajar.
  • Dalam kaitannya dengan wacana pembelajaran dalam jaringan sebagai sistem pembelajaran pasca ‘Pandemic Covid-19’, sebagian besar guru mengaku ‘kurang setuju namun akan tetap menjalankannya’. Para guru berharap, kedepannya, pemerintah harus memberikan bantuan pendukung pembelajaran dalam jaringan bagi peserta didik dari keluarga yang kurang mampu.

Temuan-temuan dalam survey yang telah dilakukan merefleksikan kondisi nyata dalam dunia pendidikan di Provinsi Maluku saat ini, namun disisi lain juga menunjukan adanya ketidaksiapan para guru dalam menghadapai tantangan pendidikan saat ini. Hal ini tentunya belum sejalan dengan upaya membangun generasi Emas 2045 oleh Kemendikbud yang menitikberatkan pada kemampuan berliterasi digital dalam dunia pendidikan.

Loading...

Kemampuan guru dalam menggunakan teknologi, akan sangat berpengaruh pada hasil belajar siswa yang ingin dicapai dalam sistem pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran dalam jaringan semasa pandemic covid-19 ini secara tidak langsung mendorong para guru di Provinsi Maluku untuk harus mampu berakselerasi dengan perkembangan teknologi. Kendati demikian, para guru menganggap proses pembelajaran dari rumah sebagai suatu pengalaman baru yang membuat cara kerja mereka lebih fleksibel.

Upaya untuk meminimalisir dampak negatif dari sistem pembelajaran semasa pandemic covid-19 ini tidak cukup dengan hanya membangun insfratruktur pendukung pembelajaran dalam jaringan. Kontribusi lainnya yang dapat dilakukan oleh pemerintah ialah dengan menguatkan kapasitas guru dalam menggunakan teknologi, misalnya dengan memberikan pelatihan-pelatihan penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Guru saat ini harus mampu merancang pembelajaran yang terintegrasi dengan penggunaan teknologi dari mulai tahapan persiapan perangkat pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran hingga pelaksanaan evaluasi pembelajarannya. Hal ini menjadi penting mengingat tidak semua guru yang masih aktif dalam menjalankan tugas mengajarnya berasal dari generasi yang telah menggunakan teknologi berbasis internet sebagai bagian dari aktivitas kehidupan mereka sehari-hari.

Para guru di Provinsi Maluku juga harus melihat sistem pembelajaran dalam jaringan saat ini sebagai suatu fenomena baru dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Dalam hal ini, guru harus diperlukan adanya kemampuan memahami bahwa saat ini kita berada dalam sistem yang terintegrasi sekalipun dalam protokol kesehatan untuk mengatasi penyebaran covid-19. Olehnya, terdapat akses ruang belajar yang semakin terbuka yang memberikan peluang belajar tanpa batas yang lebih inovatif dengan kreatifitas yang tinggi dimana teknologi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam prosesnya.

Selain itu, pembelajaran abad 21 saat ini mengharuskan para guru untuk dapat menjadi motivator dan inspirator disamping sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Guru yang mampu beradaptasi dengan perkembangan informasi dan teknologi akan dengan mudah menjalankan proses pembelajarannya saat ini yang tentunya berdampak pada peningkatan kulitas pembelajaran yang semakin baik.

PENULIS : Franklin Untailawan, M.Pd, Dosen IAKN Ambon

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *