Dinamisator: Refleksi HUT AMGPM Oleh, Johan Saimima, dosen Fakultas Teologi UKIM

by
Johan Saimima, dosen Fakultas Teologi UKIM

87 tahun sudah Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) berkarya bagi kemuliaan Tuhan, Kepala Gereja. Tidak hanya ibadah ritual, tetapi juga ibadah sosial lewat aksi-aksi yang membantu warga gereja dan masyarakat di tengah kesulitan yang menimpa mereka.

Masa pendudukan Jepang di Ambon tahun 1942-1945 adalah masa sulit yang dialami oleh seluruh masyarakat. Gereja mengalami tekanan yang luar biasa, kesulitan makanan pun dialami oleh sebagian masyarakat yang hidup di dalam kota.

Dalam kesulitan sedemikian AMGPM hadir sebagai dinamisator untuk memberikan kehidupan kepada sesamanya yang kesusahan.  Para pemuda gereja di Seri mengumpulkan makanan berupa hasil kebun dan membagi-bagikan itu kepada anggota-anggota jemaat yang mengalami kesulitan makanan, khususnya kepada jemaat-jemaat di Kota Ambon.

Demikian pun pemuda gereja di Hukurila mendirikan tenda penampung bagi para pengungsi yang berasal dari Kota Ambon dan melayani mereka yang sakit, salah satu di antaranya, yakni seorang pastor Katolik yang mengungsi di Hukurila kala itu.

Karya yang dilakoni AMGPM di Seri dan Hukurila menunjukkan bahwa kehadiran AMGPM memberi kontribusi besar bagi misi pelayanan Gereja Protestan Maluku (GPM). Kiprah AMGPM sesuai Mottonya “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia” teraktualisasi dalam tindakan praktis untuk kemaslahatan manusia, sekalipun menghadapi kondisi sulit.

Semoga di usia AMGPM yang ke-87 tahun ini menjadikan para pemuda GPM semakin matang dan bersinar untuk berkarya dalam melayani Tuhan dan Sesama Manusia. Tantangan terbesar saat ini adalah ketika dunia, khususnya kita di Maluku, bergumul dengan pandemi Covid-19.

Loading...

Dalam kesulitan ini, buah-buah karya AMGPM akan menjadi sejarah untuk diukir kemudian hari. Tentu sejarah yang memberi kebahagiaan bukan sejarah kelam. Belajar dari sejarah itu maka dalam konteks kekinian berkaitan dengan ancaman virus korona ada paling kurang ada tiga hal yang dapat dilakukan.

Pertama, angkatan muda menjadi pelopor dan penggerak dalam karya-karya kemanusiaan. Hal ini antara lain telah dilakukan kemarinHUT Gdengan menyemprotkan disinfestan di rumah-rumah ibadah melalui Badan Penanggulangan GPM. Langkah ini sangat positif. Hal ini dapat dilakukan lagi pada basis daerah atau cabang bahkan ranting di seluruh wilayah pelayanan AM GPM di Maluku dan Maluku Utara.

Kedua, angkatan muda dapat menggalang bantuan natura dan  alat medis kepada warga jemaat dan masyarakat yang rentan secara ekonomi. Hal ini perlu sebab kebijakan social distansing dan stay at home sering berhadapan dengan tuntunan ekonomi rakyat kecil.

Mereka tidak punya tabungan atau  stok makanan yang cukup jika mereka tidak keluar rumah untuk bekerja. Perlu terus didorong kesadaran dan praksis saling berbagi di basis masyarakat. Pada level advokasi dapat juga didorong agar pemerintah (negara) memberi bantuan langsung kepada rakyat yang rentan secara ekonomi.

Ketiga, membangun jaringan lintas OKP dan lintas agama untuk misi kemanusiaan. Sebagai organisasi pemuda AMGPM perlu terus bersinergi, inklusif dan bekerja dalam semangat jaringan lintas suku dan agama. Problem yang dihadapi saat ini merupakan problem kemanusiaan. Oleh sebab itu solidaritas kemanusiaan yang inklusif perlu terus diperkuat untuk bersama-sama menghadapi bencana korona ini.

Dirgahayu ke-87 AMGPM. Zaman boleh berlalu tetapi karya pengabdianmu tidak pernah akan berlalu, karena sejarah akan mengukirnya kembali. Salam JS. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *