Dirut Bank Maluku Dipenjara di Rutan Ambon

by
Idris Rolobessy saat digiring ke mobil tahanan

AMBON-Kejaksaan Tinggi (Kejati)  Maluku  Rabu (1/6) sore menahan Dirut Utama Bank Maluku dan Maluku Utara (Malut) Idris Rolobessy,  terkait dugaan markup pengadaan  Kantor Cabang Bank Maluku di Surabaya tahun 2014  senilai Rp 54 Miliar. Selain Idris, kejaksaan  juga menahan Kepala Devisi dan Renstra Bank Maluku Malut, Pedro Tentua dalam kasus yang sama.

Idris dan Pedro  ditahan setelah menjalani pemeriksaan sekitar lima jam di ruang penyidik tindak pidana khusus (Pidsus) Kejati Maluku. Penahanan berjalan alot karena Idris yang saat itu didampingi kuasa hukumnya, menolak menandatangani berita acara penahanan.  Namun jaksa tetap menahannya.

Loading…

Jaksa awalnya menggiring Pedro ke mobil tahanan kejaksaan, setelah itu Idris. Saat digiring ke mobil tahanan, baik Idris maupun Pedro menolak berkomentar. Idris hanya melemparkan senyumnya kepada awak media.  Dengan menggunakan mobil tahanan kejaksaan, kedua tersangka  dibawa ke Rutan Kelas  II  Ambon di  kawasan Waiheru,  dengan pengawalan ketat aparat Polres Pulau Ambon.

Menurut jaksa, Idris  adalah orang yang ikut  bertanggungjawab atas dugaan markup pengadaan tanah dan gedung Kantor Cabang  Bank Maluku di Surabaya tahun 2014  senilai 54 Miliar.  Saat itu Idris  menjabat  Direktur Umum Bank Maluku dan Malut. Dalam kasus ini,  negara dirugikan sebesar Rp  7,6 miliar.

Menurut seorang  tim penyidik, Ramadani, penahanan kedua tersangka itu  berdasarkan   surat perintah Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Jan S Marinca. Surat perintah penahanan Idris  bernomor 02/S.1/Fd.1/06/2016 tanggal 1 Juni. Sedangkan surat perintah penahanan Pedro, dengan nomor 03/S.1/Fd.1/06/2016 tanggal 1 Juni. Ia menyatakan, penahanan kedua tersangka itu akan berlangsung hingga 20 Juni mendatang.

“Setelah melakukan pemeriksaan,  tim penyidik telah melaksanakan surat perintah penahanan dari Kepala Kejati Maluku kepada dua tersangka itu. Dimana penahanan dua tersangka  dilakukan selama dua puluh hari, terhitung mulai 1 Juni hingga 20 Juni,” kata Ramadani dalam keterangan pers usai penahanan.

Ia juga menyatakan, penahanan kedua tersangka ini dilakukan untuk mencegah kedua tersangka, melarikan diri,  menghilangkan barang bukti  dan mengulangi perbuatannya,    serta memperlancar proses penyidikan  kasus ini. Tim penyidik berharap kasus ini secepatnya disidangkan.

Sebelumnya,  Idris dan Pedro mengajukan pra pradilan kepada Kejaksaan Tinggi Maluku  ke Pengadilan Negeri Ambon atas penetapan status tersangka, namun pengadilan menolaknya.

Kejaksaan Tinggi Maluku juga sudah menetapkan Hentje Abraham Toisuta, rekanan Bank Maluku Malut yang membeli gedung dan lahan Kantor Cabang  Bank Maluku di Surabaya, sebagai tersangka. Namun yang bersangkutan belum ditahan. Kejaksaan sudah memanggil yang bersangkutan untuk diperiksa, tapi belum juga datang. ADI