Disrupsi Peta Politik Maluku Oleh : Rudy Rahabeat, Warga Maluku

by
Rudy Rahabeat

PESTA sudah usai. Ada yang senang, ada yang sedih. Yang senang karena menang, yang sedih mungkin karena kalah, atau belum menang. Yang pasti, penyelenggara pesta demokrasi yakni KPUD sudah mengirimkan nama-nama ke Jakarta untuk disahkan. Nama-nama itu sebenarnya sudah sah melalui KPUD Maluku, hanya demi tata cara prosedural sebagai bangsa terpusat, kita menunggu tanggal 22 Mei esok hari. Sikap yang bijak adalah bersyukur dalam segala hal.

Maafkan beta jika tanpa malu-malu menyebutkan bahwa ada yang senang ada juga yang kecewa, bahkan marah, minimal marah diam-diam. Bukan saja karena dia atau orang yang diusungnya belum menang, tapi mungkin hasilnya di luar dugaan. Di era digital dan Internet of Thing (IoT) saat ini, banyak berita, opini bahkan hoaks berseliweran, ada yang terbuka, ada yang melalui jalur pribadi (Japri) dan WAG alias WA Group. Pokoknya, informasi tanpa batas dan sekat.

Beta coba perjelas maksudnya dengan tesis bahwa ada sejumlah persilangan variabel dalam terpilihnya wakil rakyat dari Maluku ke Jakarta, anggota DPR dan DPD. Persilangan pertama adalah gender. Formulanya 2:2 untuk DPR dan 3:1 untuk DPD. Lugasnya, ada dua perempuan dan dua laki-laki menjadi anggota DPR RI dari Maluku. Sedangkan untuk DPD asal Maluku terpilih 3 perempuan dan 1 laki-laki. Dari sisi kuantitatif, kita harus angkat topi kepada perempuan. Soal sisi kualitatif kita tunggu hasil kerja dan kinerja mereka. Sementara untuk DPR walau posisinya seimbang, tapi nama Mercy Barends selalu disebut-sebut sebagai legislator cerdas dan kompeten. Olehnya, tak heran jika ia terpilih kedua kali, sedangkan incumbent lainnya, tumbang. Sekali lagi, kita harus jujur dan ikhlas mengangkat topi kepada perempuan. Ini point pertama, yang beta maksud dengan disrupsi peta politik atau politik tunggang langgang.

Kedua, irisan agama. Formulanya 2:2 untuk DPR RI dan 3:1 untuk DPD RI. Jangan sungkan lagi jika ada yang terang-terangan atau bisik-bisik di belakang (lewat japri) bahwa “kita kalah”. Seakan ini sedang pemilu agama. Ada yang merasa tersakiti atau mungkin mulai terserang sindrom krisis percaya diri. Padahal jika kita pakai nalar politik, kalah menang itu biasa saja. Faktor agama itu salah satu saja, bukan satu-satunya. Sebab politik sejati katanya tidak mengenal agama.

Sama seperti uang tidak mengenal agama. Uang adalah uang. Politik adalah politik. Titik. Tapi sebagai hipotesis kita masukan saja variabel ini dalam perubahan peta politik dengan basis logika agama. Beta sendiri, tidak terlalu suka dengan corak berpikir demikian. Satu yang pasti tugas agama adalah mewujudkan kemaslahatan bersama, bukan agama sendiri.

Ketiga, irisan partai politik dan ideologi. Untuk DPD kita agak sulit menyimpulkan, sebab itu nisbi dan personal. Tapi jika per partai politik maka untuk DPR terang saja itu adalah PDIP dan Nasdem yang nasionalis, PKS yang agamais, dan Gerindra yang mungkin ada di tengah. Yang pasti peta politik dan ideologi juga berubah, atau lebih santun disebut bervariasi. Nah, persoalan krusial adalah apakah kita masih setia kepada ideologi Pancasila atau tidak. Kalau jawabannya, ragu-ragu, maka kita sedang membangun bangsa yang rapuh, karena ideologi kita tidak jelas, alias abu-abu.

Keempat, ini agak sensitif, tapi karena informasinya juga sudah terbuka di media sosial dan bebas diakses, termasuk nempel di laman media sosial saya, maka itu berkaitan dengan isu politik dinasti dan oligarki. Ini juga realitas politik, yang membuat peta politik jadi makin kompleks. Apakah politik dinasti dan oligarki dapat menyehatkan demokrasi atau sebaliknya? Apakah senisime “KB” yang berarti Keluarga Berpolitik itu nutrisi bagi demokrasi atau malah menjadi racun demokrasi? Sebaliknya, jangan terburu-buru berspekulasi, walau sudah cukup data menunjukan lebih besar mudarat daripada manfaatnya.

Kelima, variabel sub-etnik. Ini sangat tergantung dari apa defenisi kita tentang etnik dan sub etnik? apakah semua yang terpilih itu berasal dari Maluku? Ataukah ada campuran dan blasteran? Ada dua teori etnis yang sampai hari ini masih tarik menarik yakni yang memaknai etnis sebagai esensial dan konstruktif. Yang esensial bersifat kaku dan keras, yang konstrukif cenderung cair dan lentur. Apakah sebuah sub etnis di Maluku terwakili dalam formasi yang terpilih? Tak perlu tes DNA, sebab yang paling perlu adalah komitmen dan integritasnya. Sebab apa artinya mengatakan “asli Maluku” tapi tidak sungguh-sungguh berjuang untuk Maluku? Sebaliknya, ada yang dipersoalkan “keasliannya” tapi justru total memberi yang terbaik baik negeri raja-raja ini.

Akhirnya, pesta sudah usai, pekerjaan baru menanti. Rakyat sudah memilih dan mengutus para wakil rakyat. Mereka punya kebebasan untuk setia pada janji-janji atau mengingkarinya. Sejarah yang akan menguji semuanya. Tapi karena kedaulatan ada di tangan rakyat, maka rakyat punya hak untuk bertanya, mengkritik bahkan memaksulkan mereka yang dititipkan mandat. Lebih daripada itu, bagi yang beriman, tetap percaya bahwa sapa bikin bae, dapat bae, sapa tabur angina tuai badai. Selamat melangkah ke senayan. Yang di Maluku, selamat berkarya dan jangan lupa bahagia. Tulisan ini masih sangat sederhana saja. Tabea (RR)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *