Ditanya Soal kelola Hasil Laut Maluku, Begini Janji SANTUN, BAILEO dan HEBAT

by
Debat publik putaran kedua Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku di Gedung Siwalima Ambon, Rabu (20/6/2018) malam. FOTO : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku menggelar debat publik putaran kedua Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku di Gedung Siwalima Ambon, Rabu (20/6/2018) malam. Debat diikuti tiga pasangan calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur. Yakni nomor urut 1, Said Assagaff-Andareas Rentanubun (SANTUN), nomor urut 2, Murad Ismail-Barnabas Orno (BAILEO) dan nomor urut 3, Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT).

Debat calon kepala daerah Maluku yang disiarkan langsung ini berlangsung seru. Tema legit seputar sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) Maluku ibarat kue yang jadi rebutan para Paslon. Saling lempar argumen, beradu ide pembangunan terjadi selama 1,5 jam. SDM serta potensi hasil laut juga tambang menjadi daya tarik utama pada debat yang dimulai pukul 20.00 WIT itu. Petahana, SANTUN serta dua Paslon saling serang dan perang gagasan yang bakal diwujudkan bila terpilih nanti.

Potensi kelautan Maluku sejak lama dijadikan salah satu inclme, pendapatan daerah. Sayangnya terdapat banyak kendala serta pengelolaan yang dinilai gagal oleh masing-masing Paslon. Pasangan HEBAT tampil memaparkan sejumlah rencana pengembangan anyar mereka. Rencana membuat produksi garam laut di Maluku merupakan ide unggulan yang beberapa kali terlontat dari Paslon dari jalur independen ini. “Kalau kami terpilih nanti, kami akan buat pengelolaan garam di Maluku,” janji Vanath saat debat.

Bukti pendukung rencana tersebut yakni selama ini Maluku masih mengimpor garam dari Surabaya. Padahal Paslon nomor urut tiga menilai Maluku punya lautan yang luas dengan kualitas garam yang jauh melebihi garam asal Madura dan Surabaya itu. Garam-garam yang dikirim dari luar daerah itu diyakininya dapat memengaruhi harga jual. Usai debat kepada Terasmaluku.com ,Vanath mengatakan Maluku Tenggara bakal jadi pusat produksi garam dan pengelolaan tambak garam. Dengan begitu, pemerintah dapat memangkas biaya serta memaksimalkan SDM dan SDA di Maluku.

Sementara Petahana, berencana membangun sebuah lokasi yang terintegrasi dengan sumber daya alam dan hasil laut. Yakni pembangunan pusat-pusat pelelangan ikan serta pasar ikan. “Kita bangun pusat, pasar, bila perlu bangun rumah sakit di situ,” sebut Said Assagaff lantang dengan penuh semangat. Meski begitu Said Assagaff mengakui ada pembangunan yang kurang efektif.

Loading...

Berdasar data yang dibeberkan saat debat, terdapat 12 tempat pendaratan ikan yang mubasir. Dia beralasan itu lantaran masih kurangnya tenaga manusia juga sistem integrasi yang kurang maksimal. Karena itu dirinya berjanji bakal mengembangkan potensi dan hasil laut melalui pembangunan yang terkoneksi dan berbasis lingkungan.

Pasangan nomor urut 2, BAILEO tak mau kalah dalam memetakan SDA serta potensi pengembangan di Maluku. Murad Ismail dan Barnabas Orno kompak menyuarakan rencana pengelolaan sumber daya alam dengan membangun fasilitas penunjang. “Sangat bisa, kalau kami jadi (terpilih sebabagi gubernur) ikan bawa di darat dan buat cool storage,” sebut Murad saat memaparkan visi misi di segmen pertama.

Penegakan hukum dan perlindungan ekosistem laut bagi nelayan atau warga yang menggunakan bahan berbahaya untuk menangkap ikan juga termasuk di dalamnya. Bagi BAILEO yang tak kalah penting pemerintah daerah harus bisa bersinergi dengan pusat agar mampu menarik investor terlibat dalam pembangunan daerah.

Sementara itu saat disinggung soal hasil tambang dan gas di Maluku, masing-masing Paslon kompak mendukung kuota besar bagi SDM Maluku. Paslon nomor urut 2 bahkan berjanji mengupayakan 60 persen tenaga kerja tambang adalah anak Maluku. Orno dalam debat optimistis anak Maluku bisa memanfaatkan SDA dengan baik. Yakni dengan tidak menjadi tamu di rumah sendiri. Salah satu bukti keseriusannya yakni memberangkatkan anak daerah mengikuti diklat di PPSDM Migas Cepu. Hasilnya tiga siswa mahir las dalam laut.

Seolah tak mau kalah, pasangan SANTUN optimistis kemampuan anak Maluku di atas rata-rata. Yakni dengan membuka kuota tenaga kerja 99 persen. Lain halnya dengan pasangan HEBAT. Mereka merancang perubahan sistem pengelolaan pertambangan yang ada. Sebagai contoh tambang di Gunung Botak Pulau Buru dijadikan pertambangan rakyat. Mereka percaya tidak perlu ada investor asing, namun memanfaatkan potensi daerah sebesar-besarnya dengan melibatkan rakyat. Dengan begitu hasil tidak mengalir ke kantong asing lagi. (BIR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *