Doaku Pada Sumba Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat

Mengimaji remah-remah Sidang Raya PGI yang bisa dibawa pulang peserta atas bantuan media sosial kita dapat mengikuti informasi dan dinamika SR PGI di dalam maupun di luar sidang. Ada seberkas harapan semoga para peserta yang datang dari berbagai penjuru wilayah dan gereja, dengan biaya yang tidak sedikit, meninggalkan keluarga dan jemaat dapat kembali dengan selamat sambil membawa oleh-oleh yang indah bagi keluarga, gereja dan masyarakat. Berikut lima hal kecil yang saya petik.

Pertama. Alam Sumba yang unik. Alam terkembang jadi guru. Banyak peserta yang mempublish foto-foto dan narasi tentang cuaca yang sangat panas, tanah yang kering dan wajah yang menghitam. Uniknya ada banyak kuda dan pantai yang indah. Puisi Rinduku Pada Sumba karya Taufik Ismail meringkas sebagian fenomena itu. Pasti salah satu “kado” yg dibawa pulang sebagai cerita adalah alam Humba yang khas.Nyanyian alam biarlah menggema membawa banyak kisah.

Kedua. Pembaruan Liturgi. Tidak terlalu detil dishare tentang liturgi sepanjang berlangsung SR. Tapi beberapa peserta memberi impresi dan apresiasi terhadap liturgi kreatif yang digawangi Ester Puji dengan timnya. Termasuk tim lokal Sumba yang bekerja keras sepanjang sidang. Semoga para peserta pulang membawa komitmen dan seperangkat panduan untuk membarui liturgi di gereja masing-masing. Sebab salah satu tanda pembaruan gereja adalah pembaruan liturgi.

Ketiga. Gagasan-gagasan baru berkaitan pergumulan gereja-gereja dan masyarakat serta bangsa. Ambil contoh, catatan-catatan harian Pdt Herly Pattianakotta dari Gereja Kristen Pasundan (GKP) yang dipublish setiap hari di laman fesbuknya paling kurang memetakan berbagai isu dan gagasan yg dibahas selama sidang. Moga-moga gagasan-gagasan tersebut dapat diterjemahkan dalam laku menggereja masing-masing sebagai bagian dari laku berteologi kontekstual dalam bingkai oikumene dan kebangsaan. Kata Eleanor Roosevelt “Orang kecil membicarakan orang, orang sedang membicarakan peristiwa, orang besar membicarakan gagasan”.

loading...

Keempat.Tarik menarik kuasa dalam pemilihan pimpinan PGI yang baru. Sebelum maupun sesudah pemilihan pimpinan pimpinan PGI beredar ragam analisis, proyeksi dan prediksi termasuk kritik terhadap potensi “politik kuasa” di dalam gereja. Para peserta yang hadir di lapangan pasti bisa mengikuti langsung tapi jangan pula lupa membaca dinamika di media sosial dengan segala sudut pandangnya. Semua itu bisa menjadi hikmah dan dibawa pulang ke gereja masing-masing untuk “mengelola kuasa” di dalam gereja yang Alkitabah dan realistis guna menghadirkan pemimpin dan kepemimpinan yang rendah hati, merangkul dan mentransformasi.

Kelima. Masa Depan Tanah Humba. Walau ada ragam informasi tentang seberapa persen ruang yang diberikan utk membahas isu-isu lokal di Sumba seperti krisis ekologi, human trafficking, agama Marapu, dll tapi kiranya peserta dapat pulang membawa refleksi dan tekad untuk terus mendoakan Tana Humba yang pernah dikunjungi. Minimal mama dan bapa piara yang membuka pintu rumah menyambut para peserta, cium hidung, tenun Sumba dan suasana kebatinan selama tinggal di Sumba sepekan.

Dinamika Sumba sebetulnya dapat menjadi jendela dan cermin kecil untuk membaca dinamika masing-masing wilayah dan gereja dan apa saja langkah strategis dan sinergis yang dpt dilakukan utk kemaslahatan bersama. Dalam kaitan ini kita menaruh harap kepada Pimpinan PGI yang baru Pdt Gomar Gultom sebagai Ketua Umum dan Pdt Jacky Manuputty selaku Sekretaris Umum untuk mengawalnya dalam implementasi program dan kebijakan lima tahun ke depan. Kami menaruh harapan dan doa untuk kepemimpinan yang baru untuk terus mendinamisir dan mentransformasi gereja-gereja di Indonesia termasuk di tanah Sumba.

Itulah lima catatan kecil yang saya timbah dari aneka konten yang hadir di dunia maya ditambah percakapan via telepon dengan beberapa peserta sekaitan dengan dinamika Sidang Raya PGI di Sumba 8-13 November 2019.

Saya akhiri catatan ini dengan sebait puisi kecil “Doaku pada Sumba”. Doaku pada Sumba agar sejahtera warganya dan damai negerinya. Panas terik berganti hujan berkat. Kuda-kuda terus berlari membawa beban sejarah. Pantai-pantai menyanyikan kasih setia Tuhan. Sebab Tuhan ada di sana, pada Alfa dan Omega.¬†Teriring salam dan doa ! (RR)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *