Donci For Mama Oleh : Asghar Saleh, Budayawan Kie Raha

by

JIKA sebuah novel lalu dibuatkan film dan menjadi viral di Korea Selatan, pasti ceritanya luar biasa. Saya penasaran. Lalu membeli novelnya. Membaca dan juga menonton filmnya yang disutradarai Kim Do-young. Novel dan film ini bercerita tentang perempuan yang dimarjinalkan. Jelas menarik karena Korea adalah negara maju. Ekonominya mapan. Gaya hidup masyarakatnya tercermin dari lagu K-pop atau film – film Korea yang meledak dimana mana. Sangat jarang ada kisah sedih. So, apa yang menarik dari novel dan film Kim Ji-Yeong, “Born 1982” yang heboh itu?.

Film adaptasi novel karya Cho Nam-joo ini ramai diprotes mayoritas laki-laki disana. Mereka bahkan membuat petisi yang meminta Presiden membatalkan ijin tayang film ini. Instagram milik Jung Yu-mi, aktris pemeran utama dibanjiri ribuan kecaman dari penggemar laki-laki. Kecaman juga bertebaran di media sosial milik bintang Korea lainnya yang ketahuan membaca buku atau menonton film ini. Pokoknya haram.

Novel yang diterbitkan tahun 2016 ini isinya bercerita tentang kehidupan sehari hari seorang perempuan Korea. Plotnya sederhana. Tak ada intrik. Semuanya mengalir. Namun itulah kekuatannya. Kim Ji-young lahir normal. Punya satu adik laki laki. Sejak kecil Ia mesti tumbuh dengan banyak aturan untuk mengalah. Soal makan misalnya, Ji-young hanya dapat jatah “sisa”. Yang utama dilayani adalah adiknya. Di sekolah, Ia juga dipersekusi. Banyak pengalaman tidak enak selama bersekolah.

“Penderitaan” bahkan terus dirasakan saat kuliah dan bekerja. Karena telah menikah dan akan punya anak, Ji-young tak mendapat promosi. Aturan kerja menuntut produktifitas total dan itu wilayah laki laki. Hebatnya, Ia tak marah atau protes sana sini. Semua dijalani apa adanya.

Dalam novel maupun film, batas antara laki laki dan perempuan dalam kehidupan Korea sangat jelas. Diskriminasi jadi cermin yang setia memantul. Selalu menekan perempuan. Makanya novel ini direspons negatif. Para laki laki merasa ditelanjangi. Mereka lalu membuat novel baru – Kim Ji-hoon 1990 – untuk menegaskan bahwa mereka juga jadi korban diskriminasi.

Saya membayangkan Ji-young pasti tak akan menderita jika hidup di tanah Maluku. Kosmologi orang Maluku sangat menghormati perempuan. Apalagi jika statusnya sudah menjadi “Mama”. Antropolog Maluku, Rudi Rahabeat menyebut penghormatan itu dibumikan dalam nama benda atau penunjuk yang menandakan perempuan adalah “terhormat”.

Pulau Seram yang merupakan pulau terbesar di wilayah Maluku dinamakan Nusa Ina (Ina sama dengan perempuan). Dalam interaksi budaya lokal, penghormatan terhadap “mama” diabadikan dalam lagu. Jika punya koleksi lagu-lagu Ambon sebanyak 100 lagu, setengah dari jumlah itu pasti adalah lagu-lagu yang bercerita tentang “mama”. Ada romantisme yang dipelihara dalam lirik dan musik.

BACA SELANJUTNYA