Dongeng, Cara Tepat Ajarkan Nilai Kebaikan Anak

Dongeng, Cara Tepat Ajarkan Nilai Kebaikan Anak

SHARE
Pendongeng, Eklin Amtor De Fretes saat membagi materi workshop mendongeng kepada 14 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) asal Pulau Seram dan Kota Ambon di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Maluku Senin (23/4). FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Siapa saja bisa mendongeng. Begitu kata pendongeng, Eklin Amtor De Fretes saat membagi materi workshop mendongeng kepada 14 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) asal Pulau Seram dan Kota Ambon di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Maluku Senin (23/4) sore. Bersama sahabat dongengnya Dodi, Eklin mengajak para guru PAUD untuk optimis dalam mendongeng.

Baginya dongeng merupakan salah satu dari sekian metode pembelajaran yang tepat bagi anak anak. Metode ini pula yang sudah lama tak lagi dipraktikkan. Tak hanya oleh orang tua namun juga guru. “Sekarang su susah dapat orang mendongeng. Padahal itu metode sederhana yang pas buat ajarkan nilai nilai baik dan pesan buat anak,” ucapnya pada sesi workshop mendongeng yang merupakan bagian dari Pesta Pendidikan 2018 di Ambon itu.

Kegiatan mendongeng yang diinisiasi oleh Heka Leka pada sesi “Ngobrol Publik Ambon” itu ingin mengajak para guru juga orang tua untuk lebih peka dan kreatif dalam menanamkan nilai bagi anak. Pria yang aktif mendongen damai di daerah konflik Ambon  itu menyebut tahapan mendongeng dapat dilakukan dengan metode 5W1H. Metode dasar dalam penulisan jurnalistik. Salah satunya yaitu kapan waktu terbaik mendongeng.

Saat sebelum tidur, merupakan waktu yang pas dan disarankan bagi orang tua untuk mendongeng. “Waktu itu beta diajari oleh pendiri Ayo Dongeng. Otak manusia sedang bersiap untuk istirahat,” katanya di sela sela aktifitas mengajar kelas workshop kepada Terasmaluku.com. Saat akan tidur, gelombang otak manusia memasuki gelombang delta, atau gelombang yang tenang. Karena itu, hal hal baik yang disampaikan melalui dongen dinilai tepat.

Tak hanya itu anak pun diajarkan untuk mengembangkan imajinasi mereka yang dapat merangsang kerja syaraf di otak. Saat memberi pelatihan Eklin memakai media boneka, Dodi. Menurutnya, Dodi hanyalah media atau alat peraga penunjang. Tujuannya hanya untuk mengunci perhatian anak pada satu titik serta melatih fokus. Selebihnya menggunakan kekuatan verbal dalam kata kata. “Dongeng ini metode verbal yang sudah lama ditingalkan namun tetapi relevan dengan dinamika masa kini,” ungkap anggota komunitas Jalan Merawat Perdamaian (JMP) itu.

Tema tema yang diceritakan pun tak terbatas. Orangtua maupun guru dapat menggunakan hal hal di sekitar sebagai ide cerita. Misalnya keseharian anak, nama tokoh yang diambil dari orang terdekat atau sekitar, hewan kesukaan anak, hewan khas daerah, benda mati atau apa saja.

Unsur proximity atau kedekatan dalam cerita akan jauh lebih menarik perhatian si kecil.  Usai memberi materi para guru PAUD dibagi kedalam grup kecil dan mengembangkan cerita dongeng dari tema yang telah ditentukan. Tentunya dengan gaya cerita yang khas dari tiap kelompok.(BIR)