Dua Bulan di Bossey Oleh : Ruth Saiya, Pendeta GPM

by
Pdt Ruth Saiya (tiga dari kiri) bersama peserta study Institute Oikumene di Bossey Swiss. FOTO : DOK.PRIBADI

SAYA secara pribadi berterima kasih kepada Gereja Prostestan Maluku (GPM) yang adalah anggota dari Dewan Gereja-gereja di dunia (WCC) yang memberikan kesempatan kepada saya bersama Pdt Eby Songupnuan-Latuheru untuk belajar di Ecumenical Institute di Bossey-Swiss. Bukan saja pengetahuan yang diterima tetapi kesempatan untuk berjumpa dengan banyak orang dan mengenal lebih baik isu-isu bersama gereja-gereja di dunia.

Proses belajar dikelompokan dalam empat modul. Pertama, Hermeneutic Ecumenical Biblical, Ecumenical Missilogy, Ecumenical Theology, dan Ecumenical Socio-Ethic. Selain keempat modul ini kami juga diwajibkan mengikuti seminar atau kursus intensive tentang sejarah gerakan oikumene di dunia, interculture biblical studies, intereligius, dan workshop on practical ecumenical theology.

Dan satu minggu ini secara khusus dalam kegiatan dies academicus, kami benar-benar diperkaya dengan sejumlah pengalaman dan pengetahun baik yang dikerjakan dan kembangkan oleh WCC. WCC adalah fellowship dan bukan megachurch. Karena itu setiap kali kami dingatkan bahwa WCC bukan bertempat di Genewa tapi pada seluruh gereja-gereja anggota WCC yang berjumlah 350 yang tersebar pada 120 negara. Banyak pertanyaan yang muncul kepada Secretary General WCC yang turut memperkenalkan kerja-kerja WCC maupun kepada para staff dan badan yang bekerjasama dengan WCC. Mereka juga memperkenalkan persiapan Assembly ke-11 di Karlsruhe, Jerman, dengan tema : Christ’s Love Moves The World to Reconciliation and Unity.

Dalam masa dua bulan belajar ini, ada tiga hal yang saya dalami. Pertama, pergumulan teman-teman dari India tentang kaum Dalit, kedua, tentang isu statelessness dan yang ketiga tentang Orthodox Church. Ketiga hal ini belum terlalu saya pahami, walaupun sudah pernah saya dengar. Secara singkat saya gambarkan ketiga hal ini demikian.

Pertama, Dalit adalah kelompok atau golongan di India yang tidak termasuk dalam empat kasta yang ada di India. India menganut system kasta sesuai tradisi Hindu. Kasta Brahmins (Priests and Teacher), Kshatriyas (warriors and rulers), Vaishyas (farmers, trades and merchants), Shudras (labours). So, Dalit tidak termasuk dalam system kasta ini. Mereka berada di luar system kasta ini (outcastes). Di mana posisi mereka dalam masyarakat India? Mereka adalah para penyapu jalan, pembersih toilet, mereka adalah orang-orang yang tidak punya harkat dan martabat dalam struktur social, politik maupun dalam kegiatan beragama sekalipun.

Jadi bagaimana gereja membawa kabar baik dan pembebasan bagi mereka? Tanggung jawab ini bukan saja menjadi tanggung jawab gereja-gereja di India atau dewan gereja dunia tetapi juga tanggung jawab bersama ‘gereja sebagai tubuh Kristus’. Tanggal 10 November tahun ini adalah hari bagi mereka merayakan Dalit Liberation Sunday dengan tema : Resist caste : “if one suffers all suffer together” (1 Cor 12:26). Orang-orang Kristen di India berjuang melawan system kasta yang sangat diskriminasi ini. Kata Bob Marley, get up, stand up, stand up for your right. Apakah masih ada system kasta di Indonesia?

loading...

Kedua, Statelessness. Statelessness adalah individu atau kelompok yang diakui keberadaannya sebagai warga Negara manapun atau orang tanpa status kewarganegaraan. Dan karena itu dia tidak diatur oleh suatu hokum yang menjamin kelangsungan dan termasuk hak hidupnya. Akibat dari statelessness ini seperti tidak punya akses untuk mendapatkan surat-surat kependudukan, akses untuk sekolah, menikah, tidak punya hak politik dan sebagainya. Dengan kata lain kebutuhan dasar mereka untuk hidup tidak terpenuhi. Padahal status kewarganeraan adalah hak asasi manusia (Pasal 15 UDHR). Dan setidaknya ada 10 juta orang tanpa kewarganegaraan di dunia. Apakah mereka ada di antara kita?

Ketiga, Orthodox Church. Sudah pernah dengar tapi tidak paham. Tadi saya dengan beberapa teman bergabung di choir dalam ibadah. Yang menarik adalah, doa dan pembacaan Alkitab diproklamirkan atau dinyanyikan dengan notasi yang indah dan diulang-ulang, dihayati dengan mendalam. Mereka kuat dengan kekuatan-keuatan symbol/ikon dan relic. Menorah dan lilin adalah salah satu symbol yang penting. Mereka punya relic-relic yang indah, dan semuanya itu dipakai sebagai media pembelajaran baik bagi orang tua maupun anak-anak. Anak-anak mendapat tempat yang istimewa. Mereka dilibatkan dalam ibadah, mereka diberi kesempatan untuk melihat dan meniru yang dilakukan orang tua dalam ibadah.

Sedangkan para perempuan menghadiri ibadah dengan menutup kepala mereka – perpaduan budaya dalam tradisi beragama – namun tidak semua diwajibkan. Ada teman yang bertanya kepada saya, apakah ada Orthodox Church di Indonesia? Saya jawab saya tidak tahu. Tapi saya googling di Wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Ortodoks_Indonesia, dan menemukan bahwa Gereja Orthodox sudah ada di Indonesia pada tahun 1990 dengan jumlah anggota pada tahun 2009 atau 10 tahun yang lalu sekitar 2000 orang. Apakah mereka juga adalah bagian dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia? Itu pun saya juga tidak tahu. Mohon maaf atas ketidaktahuan saya ini.

Ini adalah gambaran singkat saja. Harus dipelajari lebih mendalam lagi. Dan sama sekali tidak mengesampingkan isu-isu yang terus dibicarakan dan diperjuangkan oleh gereja-gereja di dunia seperti gender justice, hak anak, orang yang hidup dengan HIV/AIDS, disabilitas, ecology, ecclesiology dan sebagainya.

Di akhir catatan ini, saya berbagi inspirasi dari cengkeh, sebagai ikon/objek yang saya presentasikan saat ekshibition. Tak ada orang yang bisa panen cengkeh seorang diri. Karena itu mengapa saat musim cengkeh semua orang beramai-ramai mengerjakannya. Artinya bagi saya, tak ada keberhasilan yang bisa diraih seorang diri, butuh kerjasama semua banyak orang, minimal anggota keluarga kita. Dan artinya bagi gereja adalah tak mungkin satu denominasi/tradisi bergereja dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, butuh kebersamaan sebagai wujud tubuh Kristus. Dan untuk itulah mengapa gerakan Oikumene itu penting.

Bossey-Swiss, 09-11-2019, Salam hangat dari Bossey yang sudah mulai dingin,
Ruth Saiya

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *