Dua Bulan Terakhir Kasus Covid di Maluku Meningkat, Ini Penyebabnya

by
Ketua Pelaksana Harian Satgas Penanganan Covid-19 Maluku, Kasrul Selang (kanan) didampingi dr. Bertha Jean Que saat berikan keterangan pers di kantor Gubernur Maluku, Ambon, Rabu (30/12/2020). FOTO HUMASMALUKU

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Ketua Pelaksana Harian Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku, Kasrul Selang mengungkapkan kasus covid-19 di Maluku alami peningkatan dalam dua bulan terakhir ini.

Padahal sempat landai pada periode September 2020 pasca meningkat sejak Maret, namun kembali alami peningkatan sejak 23 November 2020 hingga Selasa 29 Desember 2020.

Loading...

Sesuai update data kasus covid di Maluku per 29 Desember 2020, kasus terkonfirmasi tercatat sebanyak 5.693, pasien meninggal 79, pasien sembuh 4.459 dan pasien dalam perawatan 1.155.

77,8 persen pasien covid di Maluku memiliki gejala demam dan batuk 33,3 persen. “Untuk angka kesembuhan pasien covid di Maluku 78,3 persen masih berada di bawah nasional 82,1 persen. Sementara angka kematian pasien covid di Maluku 1,4 persen jika dibandingkan angka kematian nasional 4 persen,”jelasnya saat berikan keterangan pers di kantor Gubernur Maluku, Ambon, Rabu (30/12/2020) seputar penanganan kasus covid-19 di Maluku hingga 29 Desember 2020.

Kematian pasien covid di Maluku ini lanjut Kasrul sebagian besarnya terjadi di Kota Ambon yang tercatat sebanyak 48 pasien covid meninggal, kemudian Malteng 13, SBB 8, Buru dan Malra masing-masing 3, Tual 2 dan Tanimbar serta MBD masing-masing 1 pasien meninggal dengan rata-rata miliki penyakit bawaan atau komorbid.

Terkait peningkatan kasus dalam dua bulan terakhir ini, Tim Pakar Satgas Covid-19 Maluku, dr. Bertha Jean Que mengutarakan penyebabnya tak lain karena menurunnya kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan akibat menganggap kondisi sudah aman.

“Kenapa (kasus covid) sudah turun tapi naik lagi? itu terjadi di mana-mana, itu karena orang merasa sudah aman, aktivitas sudah mulai begitu ramai. Tetap kita belajar melihat angka, ketika kita melihat angka baru kita sadar ternyata covid ini menanjak terus,”tuturnya.

Padahal kata dia, penyebab seseorang sakit itu tergantung jumlah kuman atau virus yang masuk ke tubuh kita dan daya tahan tubuh.

Jika melaksanakan protokol kesehatan terutama memakai masker dengan benar, jumlah kuman atau virus yang masuk ke tubuh kurang. Tetapi jika tidak memakai dengan benar, maka semakin banyak kuman atau virus yang masuk dan efeknya juga semakin besar. “Itu pengaman kita yang pertama, dari belakang makin hari banyak yang tidak pakai ini (protokol kesehatan). Jadi protokol kesehatan dan mempertahakan daya tahan tubuh penting supaya angka kesakitan itu bisa menurun.

Selanjutnya kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura itu, jika awal-awal orang yang terpapar karena ada gejala batuk maupun demam, belakangan ini tidak lagi. Karena disiplin prokes sangat rendah sehingga virus masuk terus-terus. “Sehingga sehebat apapun ketahanan tubuh kita akan runtuh juga,”sambungnya.

Hal ini terlihat dari rata-rata pasien covid di Maluku ini sebagian besarnya adalah usi produktif 30-40 tahun. “Ini usia produktif, kita bisa melihat itu masih banyak yang tidak taat pakai masker,”tuturnya.

Maka dari itu ditegaskannya protokol kesehatan adalah kunci utama. Bahkan meskipun saat vaksin covid-19 sudah ada.

dirinya meminta semua kalangan untuk melaksanakan protok kesehatan 3M dengan benar.

“Jadi tidak bisa ditawar-tawar, 3M walaupun vaksin sudah ada. vaksin sudah tidak akan menyelesaikan covid karena apa? karena ini diberikan emergency, sementara efektitas vaksin itu masih perlu dicari karena perlu waktu tahunan untuk mendapat suatu vaksin yang efektif. Ini yang akan menjadi style kita sehari-hari yaitu protokol kesehatan. Lakukan protokol kesehatan dengan benar, bukan karena diwajibkan, tapi karena covid itu sangat jahat,”tandasnya. (Ruzady)