Dua Warga Tawiri Babak Belur Dianiaya Sejumlah Oknum TNI AU Lanud Pattimura

Dua Warga Tawiri Babak Belur Dianiaya Sejumlah Oknum TNI AU Lanud Pattimura

20545
SHARE
Ricardo bersama ibunya di RS Bhayangkara Tantui Ambon, Rabu (2/11).

AMBON-Dua warga Desa Tawiri Kecamatan Teluk Ambon, Ricardo Tanah Hitumesing (27) dan Johanes Enus (24) dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Maluku, Selasa (1/11) malam karena babak belur dianiaya sejumlah oknum TNI AU Pangkalan Udara (Lanud) Pattimura Ambon. Luka lebam terdapat di sekujur tubuh keduanya, termasuk di bagian wajah. Bahkan kedua mata Richardo dan Enus nyaris tidak bisa melihat karena bengkak setelah dihajar sejumlah oknum TNI AU. Tidak hanya itu, di bagian belakang Richado juga terdapat luka pukulan dengan menggunakan selang, tendangan dan benda lainnya. Bagian tubuh mereka juga disulut rokok.
Saat ditemui, Rabu (2/11) dalam kondisi terbaring di bangsal mutiara rumah sakit tersebut, Ricardo menceritakan, tindakan sejumlah oknum TNI AU berawal, dari sepeda motor yang dikendarainya nyaris menyenggol seorang oknum TNI AU di persimpangan Desa Tawiri Selasa siang. Saat itu, Richardo memohon maaf namun oknum tersebut tidak terima baik. Masalah kemudian berlanjut saat Richardo hendak olahraga di kompleks Lanud. Ia didatangi sekitar tujuh anggota TNI AU. Saat itu seorang anggota mempersoalkan peristiwa di persimpangan jalan itu. “Kami jago, kami mau cari masalah dengan tentara ya,” kata Ricardo menirukan ucapan anggota TNI AU itu. “Saya bilang tidak pak, saya minta maaf atas kejadian tadi,” katanya lagi. Namun ia kemudian dihajar oknum Lanud itu. Enus yang datang menjelaskan masalah yang terjadi pun dihajar anggota lainnya.
Richardo dan Enus sempat melarikan diri ke rumah mereka, serta bermaksud menemui seorang tokoh masyarakat agar membantu menyelesaikan masaah ini dengan anggota TNI AU. Namun ternyata menurut Ricardo, ada sekitar 20 personil TNI AU datang mencarinya dan Enus.
Mereka dihajar dan digelandang ke Pos Lanud Pattimura. “Di Pos Lanud Pattimura ini, saya dan adik saya Enus disiksa. Ada yang menendang, memukul menggunakan selang, dan alat lainnya sampai tubuh kami berdarah-darah. Jumlah mereka banyak sekali. Kalau saya sudah tidak kuat, mereka siram dengan air agar sadarkan diri lagi,” kata Richardo. Ia menyatakan selain dianiaya, dalam kondisi tak berdaya itu bagian tubuh mereka juga disulut dengan rokok.
Bahkan menurutnya, penganiayaan itu didengar ibunya yang datang ke Pos Lanud, namun disurung pulang oleh anggota. “Karena kondisi kami makin kritis, mereka membawa ke klinik Lanud. Dan setelah itu dibawa ke Polsek dan langsung dilarikan ke sini (RS Bhayangkara),” kata Richard.
Orang tua korban menuntut pihak Lanud Pattimura bertanggungjawab atas apa yang menimpa anak mereka, agar kasus ini tidak terjadi pada warga sipil lainnya. “Kami minta pimpinan Lanud bertanggungjawab atas apa yang menimpa anak kami. Kasus ini harus diproses hukum hingga tuntas, agar kelak dikemudian hari tidak ada lagi anggota Lanud yang bertindak arogan, seenaknya memuli warga sipil,” kata orang tua Ricardo, Mauren Luhulima.
Untuk saat ini, ia menyatakan tidak akan melaporkan kasus ini ke Lanud Pattimura, karena masih trauma. Pasalnya saat ia mendatangi Pos Lanud untuk mengambil anaknya yang dianiaya itu, ia malah disuruh pulang. “Padahal saya ke Lanud atas permintaan seorang perwirah Lanud Pattimura. Eh di sana saya disuru pulang. Saya juga tidak tahan mendengar anak saya berteriak minta tolong karena mereka memukulinya, sehingga saya pulang,” katanya. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak Lanud Pattimura atas tindakan sejumlah oknum Lanud. Komandan Lanud Pattimura sulit dihubungi terkait peristiwa ini. (ADI)