Dulu Jual Gorengan Keliling, Sekarang Omset 2 Juta Perhari

by
Kisah sukses Irma Idris, penjual gorengan keliling berkat membaca buku dan berinovasi. FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-ADA pepatah yang mengatakan tak ada kata tua untuk belajar. Kapanpun dimanapun kita tetap belajar. Hal itu yang pas disematkan bagi Irma Idris. Berawal dari hanya seorang penjual gorengan keliling, kini omset sebulan melebihi upah pekerja kantoran. “Beta mulai bajual tu dari kerushan lai, tahun 2000,” jelasnya saat ditemui Terasmaluku.com di lapaknya di Mardika Kota Ambon, Jumat (1/6/2018).

Setiap hari Ibu tiga anak ini keluar masuk gang perkampungan menjajakan gorengan. Dimulai dari Batu Merah, hingga ke Kawasan Mardika menjual makanan sederhana sebagai teman sarapan pagi atau sore. Ada pisang goreng, tahu isi, bakwan atau ote-ote, sukun dan lain lain.

Irma membaca buku – buku kuliner

Dia menyadari lokasinya berjualan dan daya beli orang tak cukup untuk gorengan seharga Rp 2.000 atau tiga potong Rp 5.000. “Beta jualan murah sa. Satu potong tu 1.000 rupiah. Yang penting abis dan orang bali to,” sebut alumnus Jurusan Perkantoran SMK 1 Ambon itu.

Paling tinggi dalam sehari dia membawa pulang Rp 200 ribu. Itupun belum dipotong harga minyak goreng dan tepung. Baginya pendapatan itu tak mencukupi kebutuhan keluarga, sangat pas pasan. Karena itu sang suami ikut membantu dengan menarik ojek.  Lama kelamaan harga makin naik kebutuhan melambung, pendapatan suami istri tak lagi cukup. Perempuan yang jago membuat aneka puding itu lantas memutar otak.

loading...

Meski banyak yang menilai usia mendekatai 40 tahun terlambat untuk belajar, namun Irma mencoba strategi baru. Dia mengikuti program perpustakaan Desa Batu Merah pada 2017. Melalui seperangkat komputer dan buku-buku kuliner dan bimbingan pendamping Perpus, dia belajar dan berinovasi dengan makanan. “Beta lia itu bagus, kanapa seng balajar saja. Ada banyak buku bagus, dari situ beta tahu tentang makanan sehat itu kayak apa,” aku perempuan kelahiran 20 September 1979 itu.

Melalui buku bacaan, pengalaman sesama penjual serta sumber di Internet, dia mencoba menu-menu baru yang jauh lebih sehat dan bersih. Perempuan yang meraih penghargaan Impect melalui program Perpus Seru itu sadar jika gorengan menyebabkan penyakit kolesterol. Belakangan jualannya tak selaris dulu lantaran banyak warga yang mulai mengubah pola hidup sehat. Beberapa orang ada yang terkena kolesterol dan tekanan darah tinggi karena itu dia memilih hanya menu yang sehat saja untul dijual.

Lahirlah menu-menu sederhana nan sehat dan lezat dari tangannya. Irma yang langganan ke Jakarta sebagai Impect yang berhasil sari Ambon itu tak lagi jadi penjaja keliling. Dia sudah memiliki lapak jualan di samping Bank Maluku Maluku Utara, Mardika. “Beta jualan nasi kuning, nasi goreng, bubur ayam, gado gado,” tuturnya. Bersama sang suami, mereka mulai berjualan dari pukul 05.00-09.00, di bulan biasa, selain Ramadhan. Saat ramai, jualan tak sampai pukul 09.00 ludes.

Bila dulu langganan gorengan hanya warga sekitar Batu Merah dan Mardika, kini hampir dari penjuru kota ngantri sejak pagi. “Alhamdulila yang jauh tu dari Saparua. Dong su tahu jadi sebelum naik kapal lai dong su bali bawa pulang,” ungkapnya bahagia.

Bagi Irma, amat penting tidak merasa terlalu tua untuk belajar serta cerdas memanfaatkan fasilitas dan teknologi. Omset yang hanya Rp 200 ribu, dalam sehari dia meraup Rp 2 juta.  Saat bulan Ramadhan Irma mengganti menunya dengan aneka kue untuk berbuka puasa. Pasalnya dia pun kerap menerima orderan dari luar atau membuat makanan tambahan bagi Posyandu. (BIR)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *