EcoNusa Ekspedisi Maluku Singgahi Pulau Seram Haruku hingga Banda

by
(ki-ka) Nina Nuraisyiah, Communications Manager EcoNusa, Wiro Wirandi, Ocean Program Manager / Koordinator Tim Ekspedisi Maluku Destyana, Relawan Suster Ekspedisi Maluku, dalam media briefing di Hotel Biz Ambon. FOTO: Prisa Birahy

TERASMALUKU.COM, AMBON – EcoNusa baru saja menggelar ekspedisi Maluku. Perjalanan singgah di sejumlah daerah di Maluku dalam rangka eksplorasi dan pengembangan sumber daya alam oleh masyarakat.

Mulai dari Pulau Ambon – Nuruwe – Haruku – Nusa Laut – Rhun – Ay – Hatta – Neira, Dalam perjalanan singgah, tim menemukan sejumlah temuan potensi menarik. Salah satunya pada tujuan terkahir di Kepulauan Banda. Selama di sana ada beberapa pulau yang sempat didatangi.

Wiro Wirandi, Ocean Program Manager / Koordinator Tim Ekspedisi Maluku kepada wartawan mengatakan dalam eskpedisi ini timnya juga memberikan bantuan kepada warga berupa mesin pencacah plastik.

“Kita beri alat cacah plastik ke masyarakat. Mereka juga mengelola sampah dan kendalanya di sana adalah di pengiriman. Jadi kita bantu warga untuk itu,” sebutnya kepada awak media dalam media Briefing di Hotel Biz Ambon. Wiro menjelaskan, salah satu fokus mereka adalah agar warga mandiri secara berkelanjutan dalam mengelola sumber daya dan potensi yang ada.

Selain memberikan alat cacah plastik, Wiro mengaku keterbatasan daya dan energi listrik juga jadi perhatian timnya. Kedatangan mereka diharapkan dapat menjadi solusi atas persoalan warga untuk hidup mandiri.

Karena itu, EcoNusa berencana berkoordinasi agar suplai listrik tetap terjaga untuk menghidupkan mesin pencacah. “Mesin itu butuh listrik besar. Dan masalah yang kita temui di Pulau Ay itu listriknya kurang. Ada tower tapi tidak ada listrik yang masuk,” lanjut dia. Koordinasi dengan pemerintah pun akan dijalankan agar misi mereka terpenuhi.

Loading...

Sampah memang menjadi salah satu isu utama di Banda. Beruntung, kesadaran warga semakin tinggi dan melahirkan kreatifitas baru. Dalam ekspedisi itu mereka menjumpai salah seorang warga berhasil membuat bahan bakar motor dari sampah plastik. Sampah itu dia peroleh dari laut yang diolah kembali sebagai pengganti bensin atau solar.

Nina Nuraisyiah, Communications Manager EcoNusa menambahkan untuk tahap awal di ekspedisi pertama ini pihaknya memang belum bekerjasama dengan pemerintah. Mereka mencoba turun dan memetakan sendiri sumber daya beserta persoalannya. “Memang belum soan, karena ini kan baru pertama. Tapi pasti kita akan kerjasama juga dengan pemerintah agar program dengan masyarakat terjalin,” jelas Nur.

Selain di Banda tim juga mendatangi Pulau Haruku dan bertemu dengan Kewang adat Haruku, Eiza Marten Kissya. Di sana mereka  mendapati potensi konservasi burung Maleo dan upaya terus mempertahankan sasi ikan lompa. Bagaimana masyarakat turut terlibat menjaga alam, hutan beserta hasul laut agar tdak habis dikeruk.

Ekspedisi yang telah dimulai pada 8 November itu rencananya akan berlanjut tahun depan. Sebagai tahap awal, katanya, masih perlu banyak kesiapan. Tak lupa tim juga membekali warga tentang covid-19 dan cara menjaga kesehatan.

Sebagian besar lokasi yang mereka datangi memang berada jauh dari pusat kota atau ibukota kabupaten. Karena tim medis yang ikut dalam ekspedisi mengajak warga terlibat aktif menjaga dan menanggulangi kondisi kesehatan.

Harapannya setiap daerah yang mereka singgahi dapat berdaya dalam skala paling sederhana pun besar. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *