Kandar Penghasil Beras, Bakal Beradu di Lomba Desa Tingkat Nasional

by
Harold W. Halirat, Kepala Desa Kandar Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan kebanggaannya bersiap membawa nama desa pada lomba desa tingkat Nasional dengan salah satu keunggulan sebagai penghasil beras, (23/8). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Provinsi Maluku bakal kirimkan perwakilan desa ke lomba desa tingkat nasional. Desa Kandar, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) adalah yang beruntung wakili provinsi di ajang tersebut.

Desa Kandar baru saja menerima penghargaan serupa di tingkat provinsi pada 19 Agustus 2021. Bertepatan dengan peringatan HUT Provinsi Maluku di Lapangan Merdeka, Ambon.

BACA JUGA : Penenun di Skip Bakal Buka Usaha Penjualan Benang

Salah satu indikator kemenangan adalah kekompakan warga di bidang pertanian. Siapa sangka, Desa Kandar menjadi penghasil beras terbesar di KKT. Beras dari 150 hektar lahan jadi konsumsi utama dan mendominasi di Kandar hingga Kecamatan Selaru.

Sebanyak 300 ton gabah di 2021 dari lahan padi garapan warga Desa Kandar Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar

Kepala Desa Kandar, Harold W. Halirat mengatakan beras-beras itu berasal dari padi ladang yang diagrap sendiri oleh warga desanya.

“Kalau di Kandar kita jadi penghasil padi ladang. Swasembada. 90 persen beras itu dihasilkan dari garapan ladang 24 kelompok tani di Kandar,” ungkap Harold bangga kepada wartawan di Ambon, Senin (23/8/2021) siang.

Harold yang datang dari Kandar untuk menerima penghargaan itu menjelaskan warga desa bersama-sama memanfaatkan ladang untuk bertani. Karakter tanah berbatu karang menjadi lahan subur.

Kerja keras ini dimulai pada 2017. Kandar, katanya, pernah masuk dalam data statistik sebagai desa tertinggal. Perlahan warga mulai berinisiatif bertanam padi. Sejak itu hingga 2021 status sosial desa perlahan naik.

Tanaman padi buahkan hasil manis. Pendapatan ekonomi petani dan warga merangkak naik. Begitupun dengan pemenuhan pangan dasar beras di sana.

“Hampir tidak ada lagi yang beli beras dari luar. Memang ada yang jul beras dari luar. Tapi  semua pakai beras kita. Kalau mau makan tinggal giling beras, lalu masak,” jelasnya.

Bahkan dulu ada kebijakan untuk tidak menerima beras dari luar Kandar. Itu Berat kerja keras warga untuk merdeka dalam kebutuhan pangan.

Selain untuk konsumsi warga desa, beras yang dinamai Eras ini juga dijual ke Kecamatan, kabupaten hingga desa-desa di sekitar kandar melalui BumDes.

“Saya pernah tantang masyarakat tolak beras dari luar, asal produksi di tingkatkan,” terang pria yang dulunya berprofesi sebagai kontraktor itu.

Berdasarkan data hasil panen 2021 hingga Agustus ini mencapai 300 ton gabah. Itupun belum habis masa panen. Eras juga pernah dipesan sebanyak 2 ton oleh pihak Polda Maluku.

Di sektor ini saja, mampu merubah wajah desa. Dari yang masuk desa tertinggal sesuai IDM  (Indeks Desa Membangun) melompat jauh jadi desa mandiri. Menurut Harold, kegigihan wargalah yang jadi kekuatan membangun desa.

Yang menarik, ada tiga jenis beras yang keluar dari tanah karang Kandar. Yaitu beras putih, beras merah dan hitam. Kini warga Kandar tengah berinovasi dengan membuat pangan olahan lain berbahan beras hitam. Para siswa SMK Negeri 6 Kandar misalnya, membuat sereal dari beras hitam. Namun baru sebatas konsumsi internal sekolah.

Selain dari keunggulan sebagai penghasil padi ladang, Kandar juga tetap gemilang sebagai desa wisata tenun ikat.

“Ini dua keuunggulan desa. Ada banyak indikator cuma yang dari katong di Kandar bisa maju juga dari dua faktor ini. Semoga nanti di nasional katong berhasil,”harapnya.

Sementara itu juara kedua lomba desa tingkat Provinsi dimenangkan oleh Desai Ihamahu, Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah dan juara tiga Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. (PRISKA BIRAHY)