Eksekusi Bangunan Terhalang Pembeli Nasi Padang

Eksekusi Bangunan Terhalang Pembeli Nasi Padang

SHARE
Penolakan ekseksui objek bangunan yang diperuntukan sebagai warung makan Nasi Padang oleh pihak ketiga di Jalan Sam Ratulangi Ambon pagi (17/1). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Aksi adu mulut dan saling tunjuk mewarnai proses eksekusi objek sitaan sebuah bangunan di Jalan Sam Ratulangi Ambon, Kamis (17/1/2019) pagi. Pihak juru sita, kepolisian beserta kuasa hukum dan sejumlah warga saling melempar argumen dan menentang eksekusi tersebut.

Warga dan kuasa hukum termohon menolak eksekusi bangunan yang saat ini diperuntukan sebagai salah satu rumah makan khas Padang, RM Ayah Utama. Amarah warga kian membuncah saat satu dari dua juru sita di lapangan membacakan surat keputusan.

Suaranya bahkan nyaris tak terdengar lantaran tertutup oleh teriak penolakan warga. Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 11.00 itu sempat membuat jalan macet. Para pengguna jalan, pengendara sepeda motor yang melintas memperlambut laju kendaraannya untuk melihat. Sebagian lagi ikut merekam aksi tersebut.

Kedua pihak saling adu argumen dan membeberkan masing-masing bukti keputusan pengadilan yang dipegang.

“Kami sudah masukan berkas perlawanan ke pengadilan. Dan keputusannya sidangnya tanggal 30 Januari nanti. Masa mau eksekusi padahal sidangnya baru nanti. Ini keputusan di atas keputusan,” protes Mohamad Din Toatubun kuasa hukum termohon Etty Rasyid Palar.

Menurut Din, surat ekseskusi yang diterbitkan oleh pengadilan negeri itu dinilai sepihak. Pasalnya Din bersama pihak termohon telah memasukan surat perlawanan eksekusi di pengadilan negeri dan telah mendapat persetujuan. “Kalau sudah diterima pengadilan kenapa mau eksekusi sekarang, tunggu saja setelah hasil sidang. Kalau hasilnya ditolak, silahkan,” lanjut Din yang ditemui di dalam warung makan usai terlibat saling dorong bersama sejumlah petugas kepolisian di depan objek sitaan.

Sementara itu, Notje Leasa salah satu juru sita menolak jika keputusan eksekusi melanggar aturan. “Ini sudah sesuai prosedur. Dan keputusan eksekusi keluar lebih dulu sebelum surat perlawanan dimasukan,” ungkapnya usai pembacaan surat keputusan eksekusi. Kepada wartawan dia merinci, sebelumnya pihak pemohan, Leni Kristianti telah mendaftarkan perkara pada 6 Desember. Dengan tanggal eksekusi 20 desember. Namun menurut Notje pihak PN mengundur waktu lantaran sejumlah petugas yang bakal cuti libur Natal.

Mohamad Din Toatubun kuasa hüküm termohon Etty Rasyid Palar bersikeras menolak eksekusi hingga ada putusan dari sidang perlawanan pada 30 Januari mendatang.

Dari pantauan di lapangan, usai adu mulut, eksekusi serta pengosongan objek sita tidak jadi dilakukan siang itu. Proses eksekusi itu terhalang oleh pelanggan yang makan. Saat ricuh, aktifitas makan di dalam ruangan tetap berjalan normal. Pembeli asyik menyantap nasi padang seolah tidak memerdulikan rencana pengosongan bangunan. Sedangkan pemilik warung selaku pihak ketiga tetap menjual makanannya yang telah disusun rapi di etalase kaca.

Menurut pihak PN, mereka menunggu aktifitas di warung makan itu selesai. Telah ada kesepakatan dengan pihak ketiga, bahwa mereka akan mengosongkan bangunan esok (18/1) setelah semua masakan habis terjual hari ini. (PRISKA BIRAHY)

 

loading...