EKSKLUSIF : Cerita ODHA, Dipecat Sampai Jadi Pengusaha Penyewaan Kursi Plastik

by
Salah seorang survivor juga Koordinator Rumah Beta Maluku, jadi wirausaha usai dipecat dari pekerjaan semula, (19/6). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, –  “Katong harapkan pemerintah itu perhatikan. Katong juga punya hak untuk bekerja. Seperti hapus syarat tes HAIV/AIDS,”

Bekerja, berusaha dan hidup mandiri sepenuhnya menjadi harapan Evi juga para relawan dari Rumah Beta Maluku. Usai ada diagnosa dan status positif AIDS (orang dengan HIV/AIDS), kehidupan mereka banyak berubah. Lapangan pekerjaan merupakan hal paling marjinal bagi mereka. Akses yang lebar dengan hak yang sama untuk bekerja merupakan sesuatu yang tak lazim.

Dalam wawancara eksklusif dengan Terasmaluku.com, Rabu siang (19/6/2019), Evi, berkali-kali mengulang harapan itu.

Di dalam komunitas Rumah Beta, Evi merupakan koordinator. Di sana ada sekitar 30 relawan dan sembilan orang pengurus. Mereka fokus pada pemberdayaan dan kemandirian relawan juga ODHA lain meski tidak bergabung di komunitas agar hidup lebih sejahtera.

Hampir semuanya pernah menerima bantuan oleh pemerintah atau pihak swasta. Bantuannya berupa barang atau modal usaha. Sebagian berjalan mulus, sisanya kehabisan fulus.

Dia, salah satu yang bertahan. “Banyak yang dapat bantuan. Tapi kepala orang kan beda-beda, ada teman-teman yang minder, takut jadi yah begitu. Soal penerimaan,” sebutnya yang sudah lebih terbuka dan vokal perjuangkan hak kawan-kawan dengan riwayat kesehatan sama.

Dia menjalankan usaha penyewaan kursi plastik. Dari awalnya hanya 30 buah, berkembang hampir 200. Sama dengan seorang kawan lain yang punya usaha serupa di salah satu desa di Kecamatan Teluk Ambon. Mereka menerima bantuan berupa kursi dari pemerintah. Ada juga yang memilih usaha lain. Seperti salon, berjualan kue, toko sembako dan penjualan pulsa.

Pekerjaan itu dilakoni agar dapur tetap mengepul. Ada juga yang terpaksa berwirausaha lantaran diberhentikan dari tempat kerja awal. Mereka dilepastugaskan karena status sebagai ODHA.

“Beta juga heran siapa yang kasi tau itu. Waktu bos tanya beta bilang kalau beta seng sakit. Memang beta seng sakit, dan beta kemampuan itu seng ada hubungannya dengan status ODHA,” kenang ibu satu anak itu.

Evi harus ikhlas melepas statusnya sebagai karyawan swasta. Dia lalu banting stir mencari usaha lain demi kelancaran finansial keluarga kecilnya. Saat ini dia sebagai full time ibu rumah tangga dan pengusaha penyewaan kursi bersama sang suami. Mereka juga membuka toko sembako kecil-kecilan di rumah yang jadi markas Rumah Beta di Kecamatan Sirimau.

Dari usaha itu sedikit banyak Evi bisa bernapas lega. Kebutuhan makan dan belanja sesehari tertutupi. Beruntung sang suami juga punya usaha sampingan.  Hanya saja nasib Evi sedikit lebih baik dari teman relawan lain.

Ada yang enggan terbuka dan malu dengan status mereka bila diketahui orang. Bahkan mereka enggan menggunakan kartu BPJS, karena harus meminta rujukan dari puskesmas terdekat. Mereka khawatir warga sekitar mengucilkan mereka dengan status status tersebut. Beruntung bagi pemegang BPJS kelas satu, rujukan diperoleh dari dokter praktik keluarga.

Alhasil, ruang gerak sempit, kesempatan usaha pun makin kecil. Mau tak mau mereka amat bergantung pada dukungan pihak ketiga. Itu berdampak pada usaha yang tidak terlalu sehat.

Loading...

Seperti puluhan rekan lain yang datang pada kegiatan ‘Post Traumatic Growth’ atau Pertumbuhan Pasca-trauma yang digagas oleh Dwi Prihandini, pendiri Clerry Cleffy Institute. Mereka rerata adalah ibu rumah tangga, datang bersama anak juga suami. Pembekalan mental untuk medukung persiapan pemanfaatan ruang usaha di kemudian hari menjadi fokus penting.

“Katong kegiatan banyak tapi dilakukan kolektif. Bantuan itu sangat katong butuhkan buat teman-teman usaha agar mandiri dan untuk operasional kegiatan,” harapnya.

Evi membagi satu kisah lain dari seorang temannya. Cita-citanya sebagai dosen kandas, terganjal hasil pemeriksaan kesehatan. Menurut Evi, dia lulus semua tahapan untuk menjadi seorang pengajar di lingkup universitas. Sayangnya peraturan yang mengharuskan ada tes HIV/AIDS.

Ada juga teman-teman lain yang berkompenten dan layak bekerja di perbankan, pegawai negeri, pendeta pun ABRI dan gugur pada tes tersebut. “Katong harapan pemerintah kota bisa perhatikan itu. Teman-teman banyak yang ujian lulus atau punya kemampuan. Tapi batal, karena ada tes itu,” keluhnya.

Andai saja ada pertemuan bersama dengan pemerintah kota, Evi dan para relawan sangat berharap dapat menyampaikan keluhan itu secara langsung kepada Walikota Ambon, Richard Louhenapessy. Mereka merupakan para survivor yang berusaha tetap ‘hidup’ dengan tetap bekerja.

Efek Samping Dan Terapi Obat Belasan Tahun

Dengan status yang positif, pemeriksaan kesehatan rutin amat dibutuhkan. Ada terapi obat yang mesti dimakan teratur. Ada juga tes khusus sebelum memulai pengobatan. Menrutu Evi, pemerintah kota Ambon sempat menggartiskan pemeriksaannya.

Sekarang untuk sekali tes mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp 70.000 hingga Rp Rp 90.000 pada laboratorium RSUD Dr Haulussy atau Dinas Kesehatan Provinsi. Jika berkocek tebal, pemeriksaan dapat dilakukan pada laboratorium swasta.

Bagi mereka yang sudah lama mengkonsumsi obat, akan timbul efek samping jangka panjang. Sudah pasti membutuhkan perawatan dengan obat-obatan tertentu untuk mengecilkan efek samping itu.

Evi sudah 11 tahun memakan obat agar imunitas tubuhnya stabil serta kerja organ maksimal. Namun belakangan timbul rasa sakit baru. “Beta su lama deng obat, sekarang sudah mulai rasa sakit di tulang,” jelasnya. Aktifitas naik turun angkutan umum kerap meninggalkan jejak sakit dan ngilu.

Ada juga yang punya keluhan sendiri. Mereka harus bertahan menanggulangi efek samping obat yang diminum. Itu tentu bukan perkara mudah, seperti sakit gigi lalu minum obat penghilang rasa sakit. Bisa jadi rangkaian pengobatannya lebih kompleks bagi mereka yang punya riwayat acquired immune deficiency syndrome.

Di masa yang serba terbuka dan mudah ini, masih ada yang belum paham betul tentang orang dengan riwayat kesehatan positif HIV/AIDS. Virus yang melemahkan sistem imun tubuh mereka punya manifestasi buruk bagi kesehatan. Mestinya, ruang gerak mereka tak lantas dikucilkan atau ditutup.

Evi dan relawan lain dari Rumah Beta Maluku berharap besar, agar mereka mendapat hak yang sama aktualisasi diri dan bersosialisasi. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *