Empat Catatan Akhir Tahun 2020 Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM. FOTO : DOK. TERASMALUKU.COM

Tinggal sesaat lagi tahun 2020 akan berlalu. Dalam perkenaan Tuhan Yang Maha Kuasa kita akan melangkah di tahun baru 2021. Apapun yang terjadi sepanjang tahun 2020 kita patut bersyukur dan berdamai dengan realitas yang ada. Ijinkan saya memberi empat catatan reflektif di akhir tahun 2020 sebagai berikut.

Pertama, tahun pergulatan dengan pandemi covid 19. Tak terelakan lagi bahwa umat manusia di seluruh belahan dunia pada tahun 2020 ini bergelut dan bergulat dengan merebaknya virus covid 19. Virus yang mematikan ini telah merubah struktur dan kultur kehidupan. Bukan saja soal jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker serta berbagai protokoler medis lainnya. Suka atau tidak suka kita harus berdamai dengan kenyataan baru ini, sembari terus memberi respons kreatif dan kritis terhadap kenyataan yang ada. Tentu saja, sikap saling mempersalahkan, membesar-besarkan teori konspirasi dan sikap sinis, tidaklah memberi manfaat apa-apa. Yang dibutuhkan saat ini adalah kemampuan adaptasi dan mencari solusi bersama agar virus ini dapat diatasi dan dibatasi persebarannya. Strukur dan kultur baru harus diciptakan dan dihidupi dalam sebuah iklim yang makin ekologis, manusiawi dan demokratis serta menghadirkan kesejahteraaan bagi semua. Semoga di tahun baru kondisi menjadi lebih baik lagi.

Loading…

Kedua, geliat era digital. Saat pandemi covid 19 tiba dunia sudah memiliki perangkat teknologi digital yang dapat membantu manusia. Komunikasi dunia nyata dialihkan ke dunia maya. Jutaan webinar dan zoominar berlangsung di berbagai belahan dunia. Belajar secara online, belanja online, kerja di rumah berbasis internet, dan sebagainya. Revolusi 4.0 mendapat momentum pada era pandemi ini. Terlepas dari kelemahan yang ada pada tiap teknologi buatan manusia, namun patut diapresiasi bahwa umat manusia berkat kecerdasannya telah mampu menciptakan teknologi yang dapat membantu mengatasi masalah yang muncul, khususnya masalah komunikasi. Bagai dewa janus bermuka dua, bahkan mungkin berwajah lebih dari dua, teknologi perlu dikendalikan oleh hati nurani. Teknologi tidak sekedar untuk kemajuan manusia, tetapi juga untuk pemanusiaan manusia. Dengan begitu, manusia tidak menjadi robot atau sekedar alat yang tak bernyawa dan berjiwa.

Ketiga, partisipasi cerdas generasi milineal. Generasi muda dalam bingkai generasi milineal merupakan kekuatan peradaban masa kini. Mereka merupakan kelompok sosial yang patut mendapat perhatian dan dukungan. Mereka bukan generasi dan pemimpin masa depan. Mereka adalah generasi masa kini dan sedang memimpin hari ini. Bahkan mereka harus dapat merebut peluang di tengah masih kuatnya dominasi sebagian kaum tua yang tak mau memberi ruang untuk generasi muda mengatur tatanan dunia ini. Tanpa perlu terjebak dalam dikotomi tua muda, namun ruang-ruang yang lebih luas hari diberi atau malah direbut oleh kaum muda, termasuk generasi milineal untuk memberi arah baru peradaban. Percaya diri kaum muda dan milineal perlu terus dibangun dan keberanian untuk menjadi pemimpin di berbagai sektor kehidupan harus terus digemakan. Tantangan pengangguran, krisis jati diri, apatisme dan problem kapasitas dan kapabilitas kaum muda dan kaum melineal perlu disikapi dengan tepat dan terukur.

Keempat, perspektif keutuhan ciptaan. Manusia tidak mesti mendominasi tatanan dunia. Ruang bagi ciptaan Tuhan yang lain perlu dibuka juga. Kecenderungan manusia yang tamak mengekploitasi alam perlu diredam. Krisis lingkungan dan kiamat ekologi menjadi ancaman nyata saat ini dan di masa depan. Olehnya menjaga keseimbangan seluruh ciptaan merupakan sebuah keharusan masa kini dan masa depan. Spiritualitas yang dikembangkan mesti bermuara pada upaya menjaga kelestarian seluruh ciptaan. Agama-agama mesti terus menjadi kekuatan yang memberi keseimbangan itu. Agama-agama jangan terjebak dalam antroposentrisme namun perlu mengembangan teologinya pada perspektif ekosentrik. Agama-agama jangan terjebak dalam sikap eksklusif dan mau menang sendiri, melainkan terus merajut kerjasama dan dialog lintas batas untuk menghadirkan kemaslahatan bagi semua ciptaan. Agama-agama diharapkan tetap menjadi energi pembaruan dan perubahan ke arah tatanan hidup yang utuh dan damai. Agama-agama juga perlu rendah hati untuk saling belajar dan bersinergi serta berkolaborasi dengan pihak manapun. Meminjam ungkapan Prof. Amin Abdullah (2020) perlu pendekatan multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner. Dalam semangat saling belajar dan saling berbagi itulah akan terbit seberkas harapan untuk melangkah dengan optimis di tahun baru 2021.

Selamat mengakhiri tahun 2020. Selamat menyusuri tahun 2021. Tetaplah saling berbagi kebaikan dan kedamaian, kapan dan dimana saja ! (RR)