Empat Catatan di Awal Semester Dua Oleh : Rudy Rahabeat, pembelajar kehidupan

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

Setiap kita adalah mahasiswa (pembelajar) pada sebuah universitas agung yakni universitas kehidupan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Kita sudah akhiri semester pertama Januari-Juni 2021 dan kini kita memasuki semester kedua, Juli-Desember 2021. Ada serbaneka pengalaman dan cerita, duka dan duka datang silih berganti. Seperti siang dan malam, pagi dan petang, hujan dan panas, demikianlah berbagai suasana mewarnai ziarah hidup kita. Satu hal yang tak boleh dilupa, kita mesti terus menabur benih-benih kebaikan di sepanjang jalan kehidupan. Berikut empat catatan kecil di awal semester kedua kehidupan.

Pertama, bergulat dengan pandemi covid 19. Pandemi belum juga reda, walau sudah banyak upaya dan doa. Bahkan di awal Juli ini grafiknya makin menanjak. Jumlah yang positif meningkat juga yang wafat, utamanya di tanah Jawa. Kita turut berbelarasa dengan mereka yang kehilangan orang-orang terkasih. Harapannya keadaan dapat terkendali. Sayangnya, masih ada insan yang tidak percaya pandemi ini ada. Masih ada yang tidak mau divaksin. Sialnya, ada yang bikin provokasi dan agitasi melawan negara, termasuk menyebarkan kebohongan dan kebencian. Sikap kritis boleh-boleh saja, tapi kalau sudah mengarah pada destruksi, maka perlu diatasi bersama. Semua niat dan karya mestinya bermuara pada kebaikan bersama.

Kedua, kisah-kisah kecil yang menguatkan. Tak mesti tergoda dengan kisah-kisah besar dan menggemparkan. Gelombang-gelombang besar yang mencemaskan. Ada arus-arus kecil yang dapat membawa harapan. Seperti kisah seorang gadis yang sembuh setelah melewati masa isolasi terpusat. Ada juga seorang perempuan setengah baya yang sembuh setelah isolasi mandiri di rumahnya. Seorang sahabat mengirim pesan, “Bung, puji Tuhan, beta punya kondisi makin membaik, doakan agar makin pulih”. Di tengah pendemi rasa solidaritas juga mekar. Saling berbagi harapan pun berbagi bahan makanan. Ternyata masih ada orang baik di tengah kerasnya hidup. Masih ada cahaya di lorong yang gelap. Kita jangan pernah menyerah.

Ketiga, hujan, banjir dan longsor. Ini kisah dari kota Ambon. Beberapa hari terakhir ini hujan turun lebat, siang dan lama nyarjs tanpa spasi. Maka banjir melanda kota. Jalan-jalan rusak, jembatan ada yang patah. Demikian pula longsor terjadi di beberapa tempat. Pemerintah malah mewacanakan status darurat. Tentu kita berharap semuanya bisa diatasi, bukan saja oleh pemerintah tetapi masyarakat juga. Etos gotong royong pasti muncul kala bencana mendera. Negara juga jangan alpa. Semua mesti saling menopang, dengan iklas tanpa basa basi. Jangan ada yang mencari keuntungan di masa bencana, itu dosa. Mari terus menghadirkan kasih dan silaturahmi di antara sesama, juga cinta kepada alam semesta.

Keempat, visi yang membebaskan. Di tengah pandemi dan problema sosial, kita bisa terperosok di lorong keputusaan. Saling mempersalahkan dan memperkeruh keadaan. Ini tentu tidak bijak. Bukankah sehabis hujan masih ada pelangi. Masih ada pagi setelah malam pekat. Kita perlu kibarkan visi pembebasan. Bebas dari ego. Bebas dari kepentingan kelompok. Bebas dari keangkuhan dan kelatahan. Kita perlu terbuka untuk saling belajar, saling berbagi dan saling melengkapi. Kerjasama antar-lembaga, lintas-agama, lintas-profesi, lintas-etnis dan sebagainya perlu digiatkan. Etika kepedulian mesti difungsikan agar tercipta suasana yang sejuk dan membebaskan semua orang bahkan semua ciptaan.
Mari kita terus merajut komitmen dan karya yang dilandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas kebangsaan dan panggilan suci untuk menghadirkan kemaslahatan bagi manusia dan alam raya. (RR)