Empat Catatan Pascagempa Ambon Oleh : Rudy Rahabeat, Pemerhati Sosial

by
Warga Negeri Liang Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, korban gempa mengungsi ke hutan Negeri Liang. Selain Liang, warga Negeri Waai dan Negeri Tial Salatu juga xinga Jumat (27/9/2019) masih mengungsi. FOTO : ADI (TERASMALUKU.COM)

SETELAH guncangan besar berskala 6.5 richter, meski ada ratusan gempa susulan dalam skala kecil, kondisi di Ambon relatif membaik. Ambon sebagai wilayah terdampak gempa dalam tulisan ini merujuk pada defenisi klasik yang mencakup pulau Ambon, Lease, dan Seram. Berikut 4 catatan singkat mencermati kondisi masyarakat pascagempa Ambon yang terjadi Kamis pagi, 26 September 2019 itu.

Pertama, masyarakat yang menyingkir. Masyarakat yang tinggal di pesisir pantai paling rentan jika terjadi gempa besar dan atau tsunami. Oleh sebab itu, langkah antisipasi yang dilakukan adalah menyingkir ke dataran tinggi. Berdasarakan teori 20:20:20, maka ketinggian minimal 20 meter dari pemukaan laut, 20 menit durasi untuk menyingkir dan jika gempa terjadi 20 detik maka itu berpotensi tsunami. Masyarakat yang menyingkir ini ada yang tinggal di rumah-rumah saudara atau kerabat dan ada pula yang membangun tenda-tenda darurat di alam terbuka. Umumnya, mereka memiliki kerentanan yang tinggi. Sanitasi yang buruk, cuaca yang kurang bersahabat (hujan dan angina), akses transportasi dan kebutuhan pokok sehari-hari.

Daripada mempersoalkan status mereka apakah pengungsi atau penyingkir, maka langkah yang paling bijak adalah menunjukan empati dan kepedulian kepada mereka, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Yang terlihat di lapangan, ada orang yang mendebat defenisi status mereka apakah sebagai pengungsi atau kategori lain. Alih-alih tidak melakukan langkah-langkah tanggap darurat untuk menolong mereka yang benar-benar butuh pertolongan itu.

Kedua, literasi bencana yang positif. Bencana itu sesuatu yang negatif, tetapi menyebarkan berita bohong, kabar-kabar yang belum tentu kebenarannya, termasuk berbagai ramalan dan penglihatan yang aneh-aneh, tentu merupakan suatu bencana yang lebih buruk. Ambil contoh, ada oknum yang tega menyebarluaskan berita tentang penglihatan (mimpi) tokoh agama tentang bencana besar yang akan terjadi pada hari minggu jam 1 (entah siang atau malam).

Tapi setelah hari minggu itu berlalu, ramalan itu ternyata bohong belaka. Padahal, sebagian masyarakat sudah terlanjur termakan berita bohong itu. Untunglah, ada yang dengan tegas memberi klarifikasi bahwa berita itu adalah hoaks. Ini hanya suatu contoh, bahwa kita perlu kritis dalam bermedia sosial. jangan menyebarkan berita-berita yang belum tentu benar, bersifat tendensius, horror dan terror. Bagilah berita-berita yang objektif, memberi harapan dan daya kritis. Dengan mengatakan begini, bukan berarti kita tidak perlu melakukan langkah-langkah antisipatif dalam merespons potensi bencana. Poinnya adalah, kita jangan sampai mudah termakan isu dan khabar-khabar yang belum jelas kebenarannya. Literasi kritis tentang kebencanaan perlu terus ditingkatkan.

loading...

Ketiga, trauma healing. Anak saya yang berumur 7 tahun spontan menangis ketika gempa pertama terjadi. Dan setiap ada gempa, walau kecil, ia menangis. Demikian pula, ada orang tua yang mengalami sakit akibat gempa. Bahkan ada yang sampai wafat. Kondisi-kondisi ini bersifat psikologis dan bukan hanya fisik semata. Cerita orang yang wafat tertimpa bangunan, tertimbun pasir, dan sebagainya merupakan contoh nyata. Tapi tak sedikit orang yang terus trauma ketika bencana itu terjadi. Dalam kaitan ini, maka diperlukan upaya-upaya psikologis untuk menyembuhkan trauma tersebut, khususnya di kalangan anak-anak. Para psikolog mesti mengambil peran untuk membuat kegiatan-kegiatan kreatif untuk menolong warga yang terdampak bencana. Demikian pula pemerintah, relawan, tokoh agama dan tokoh masyarakat mesti melihat masalah trauma ini sebagai salah satu “kebutuhan” selain soal-soal logistik dan kebutuhan material lainnya.

Keempat, sinergi dan kolaborasi. Terkadang ketika bencana terjadi, orang saling menunggu dalam penanganannya. Umumnya, pemerintah menjadi sasaran empuk untuk disalahkan karena lambat merespons bencana. Hal ini bisa jadi karena kita belum terlatih dalam hal merespons bencana, bisa juga faktor lain. Akibatnya, orang panik dan kalut sehingga lamban bahkan keliru dalam memberi respons. Terlepas dari itu, hal saling menyalahkan tentu bukan langkah bijak. Semua orang dapat berperan dalam tanggap bencana. Masyarakat dan lembaga-lembaga agama atau sosial turut terlibat dalam memberi bantuan. Bahkan kadang mereka lebih cepat merespons daripada pemerintah.

Apapun kenyataannya, yang penting adalah sinergi dan kolaborasi semua pihak. Pendekatannya bersifat holistik dan oleh sebab itu tidak bisa dikerjakana oleh salah satu pihak saja. Budaya tanggap bencana mesti merupakan budaya kolaboratif dan melibatkan semua komponen. Dengan begitu, kita tidak saling menyalahkan, melainkan saling menolong dan melengkapi untuk merespons bencana yang datang tak terduga. Kita ingin bencana ini disikapi dalam semangat persaudaraan dan kemanusiaan yang saling peduli. Sebab bencana itu tak pernah kita undang tapi tak kuasa kita tolak pula.

Demikian beberapa catatan singkat pascabencana gempa bumi di Ambon. Semoga kita terus sigap dan berempati untuk saling berbagi energi positif untuk menolong masyarakat pascabencana. Terima kasih. (RR)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *