Empat Hal Unik Acara Sidi Gereja Di Ambon Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

SIDI adalah salah satu tahapan penting dalam kehidupan orang Kristen di Maluku. Di awali dengan proses pendidikan di gereja selama satu tahun, diuji dan dinyatakan siap diteguhkan sebagai anggota sidi gereja.

Berikut ini empat hal unik di seputar acara Sidi Gereja Protestan Maluku.

  1. Baniang dan kebaya Hitam. Baniang adalah sejenis jas yamg dipakai saat sidi. Bentuknya sederhana dan praktis dan warnanya hitam. Baniang digunakan oleh laki-laki. Sedangkan perempuan mengenakakan kebaya warna hitam dan dikombinasi dengan “kain pikol” juga warna hitam. Kalau di kampung-kampung di Maluku dulu orang laki-laki mengggunakan baniang tanpa alas kaki alias telanjang kaki.  Demikian pula perempuan yang menggunakan kain kabaya tanpa alas kaki. Sekarang sudah menggunakan aneka alas kaki berupa sepatu atau selop yang umumnya berwarna hitam. Baniang dan Kebaya Hitam bukan sekedar penutup badan tapi ada makna sakral bagi yang mengenakannya. Apalagi saat pergi ke gereja aura sakralitas itu makin terasa saat lagu-lagu syahdu di lantunkan dari Kidung Dua Sahabat Lama karya Schrouder dan Tupamahu

 

  1. Lagu Hendaklah Kau Iring Yesus dan Tetesan Air Mata Hampir pasti di semua gereja prosesi masuk para calon Sidi dengan menyanyikan lagu Dua Sahabat Lama “Hendaklah Kau Iring Yesus Pikul Salib”. Irama dan syair lagu yang menyentuh kalbu itu bikin saraf-saraf jiwa tergetar. Para calon sidi melangkah dengan tertib, memegang Alkitab di menempel di dada di dampingi oleh prosesi Majelis Jemaat yang juga mengenakan pakaian hitam. Suasana awal ini begitu sakral dan membuat banyak orang menitikan air mata termasuk para calon sidi gereja ini. Pokoknya tanpa menangis rasanya Sidi belum sempurna.

 

  1. Mengaku Menjadi Pengiring Kristus yang Setia.

Ini sesi yang mendebarkan mencemaskan. Substansinya mereka harus menyatakan komitmen iman mereka di hadapan Tuhan dan Jemaat. Tapi tentu yang menggelisahkan adalah jangan sampai salah mengucapkan rumusan jawaban yang sudah dihafal beberapa hari sebelumnya. Ya, saya mengaku percaya dan bersedia dengan segenap hati”. Ini kalimat yang harus disampaikan dengan lantang dan sikap yang mantap. Jangan sampai salah ucap sebab akan menuai   penilaian negatif dari jemaat yang hadir termasuk orang tua. Setelah mereka mantap menyampaikan “kredo” itu maka beban yang berat serasa lepas. Mereka lega dan tersenyum bangga.

 

  1. Sabua dan Jalan Pegang Tangan. Sabua adalah istilah untuk tenda yang dibangun di depan rumah saat Sidi gereja. Sabuah itu bisa kecil tetapi bisa juga sangat besar. Di sabuah itu para tamu datang untuk menyampaikan Selamat buat anak yang disidikan. Acara mengunjungi keluarga yang anaknya disidikan biasanya disebut “Jalan pegang tangan”. Hal ini karena sebelum menikmati menu yang disediakan keluarga maka saling berpegang tangan yang diselipkan amplop beriskan uang. Anak yang disidikan tentu merasa senang karena semakin banyak yang datang itu berarti makin banyak amplop yang diterimanya. hehehe

Demikian empat hal unik yang ditemui saat acara Peneguhan Sidi di Gereja  Protestan Maluku yang umumnya berlansung di bulan April menjelang hari raya Jumat Agung (Wafat Isa Almasih). Suasana begitu sakral tapi juga ramai. Selain soal iman dan ritual maka sidi itu juga adalah perayaan yang sosial, dimana persaudaraan dan kebersamaan dirayakan dengan gembira. Selamat atas peneguhan Sidi di Gereja Protestan Maluku. Tuhan memberkati

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *