Enam Kerentanan Pendemi Korona Oleh : Jusuf Anamofa Ketua Forum Dosen Maluku

by
Jusuf Anamofa, MA, Akademisi, Ketua Forum Dosen Maluku. FOTO : DOK PRIBADI

BERIKUT ini secara ringkas saya kedepankan variabel-variabel kerentanan terkait wabah penyakit (Hasil bacaan beberapa sumber). Harapannya kita bisa mencermati kerentanan tersebut dan berupaya melakukan langkah-langkah strategis guna menyikapi penyebaran virus korona yang semakin mendunia ini.

Pertama, Kerentanan pengetahuan: Pengetahuan dan Pemahaman masyarakat tentang cara kerja virus dan penyebarannya turut membingkai dan membentuk situasi wabah. Semakin baik pengetahuan dan pemahaman masyarakat, semakin rendah kerentanan terkena wabah. Sebaliknya, semakin tidak tahu dan tidak paham, semakin rentan terkena wabah.

Kedua, Kerentanan ekonomi: Tingkat ekonomi ikut menentukan penanganan terhadap wabah. Semakin baik ekonomi suatu komunitas, semakin baik penanganan wabah. Hal itu juga berkaitan dengan seberapa rentan kondisi ekonomi suatu komunitas atau negara, bahkan secara global, jika wabah itu telah menyebar dengan cepat dan luas.

Ketiga, kerentanan politik: Hal ini terkait dengan kebijakan-kebijakan politik yang diambil dan seperti apa kesadaran politik masyarakat. Semakin tertutup komunikasi dalam pengambilan kebijakan, semakin tinggi kemungkinan wabah menyebar. Semakin terbuka komunikasi dalam pengambilan kebijakan, wabah dapat ditekan tingkat dan luasan penyebaran. Selain itu, sangat besar kemungkinan bahwa suatu wabah akan melahirkan banyak regulasi baru yang dapat membatasi hal-hal yang selama ini tidak dibatasi. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah suatu wabah dapat menyebabkan ketidakpercayaan politis terhadap pemerintah yang ada. Dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok oposisi untuk membangun narasi melemahkan pemerintah.

Loading...

Keempat, Kerentanan media: Verifikasi faktual dan pemberitaan berdasarkan fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan turut membingkai dan membentuk situasi terkait suatu wabah. Media-media berbadan hukum cukup ketat menjalankan fungsi itu. Yang sangat rentan adalah pemberitaan dari media-media sosial yang sangat rendah tingkat verifikasi dan pertanggungjawabannya, namun secara masif dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Semakin masyarakat merasa berhak menyebarluaskan informasi menurut mereka sendiri, semakin tinggi kemungkinan terjadi kesalahpahaman terkait kondisi suatu wabah. Sebaliknya, semakin masyarakat merasa berkewajiban menjalankan langkah-langkah verifikasi, check dan recheck terhadap suatu informasi sebelum disebarkan, semakin rendah kesalahpahaman terjadi.

Kelima, Kerentanan sosial: Ada individu-individu atau kelompok-kelompok tertentu yang selalu menjadi kambing hitam terkait suatu wabah penyakit. Semakin tinggi pengetahuan dan pemahaman masyarakat, semakin rendah kemungkinan stigmatisasi terhadap individu dan kelompok masyarakat tertentu. Sebaliknya, semakin rendah pengetahuan dan pemahaman, semakin tinggi kemungkinan stigmatisasi.

Keenam, Kerentanan teologis: Ini khusus terjadi di wilayah-wilayah di mana para penganut agama cukup mabuk agama. Suatu komunitas akan rentan terkena wabah jika didukung oleh teologi yang menganggap wabah itu hukuman Tuhan karena itu cukup menyelesaikannya dengan cara-cara teologis saja, tidak perlu dengan cara-cara saintifik. Sebaliknya, jika didukung oleh teologi yang menguatkan umat beragama agar dapat memanfaatkan sumberdaya saintifik, penyebaran wabah dapat ditekan.

Mari bersikap kritis dan bijak serta solutif (YNA)  Jusuf Anamofa, MA, Akademisi, Ketua Forum Dosen Maluku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *