Enam Orang Ditangkap Polda Maluku, 1 ASN dan Pegawai Angkasapura Terkait Surat Rapid Test Palsu

by
Direktur Ditreskrimum Polda Maluku Kombes Pol Sih Harno (kanan) didampingi Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol muhammad Roem Ohoirat memberikan keterangan kepada wartawan di Mapolda Maluku, Jumat (28/5/2021). FOTO : ALFIAN SANUSI

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Markas Kepolisian Daerah (Polda) Maluku menyebutkan ada enam orang yang ditangkap terkait pembuatan surat keterangan rapid test dan Gadjah Mada Electronic Nose (GeNose) Covid-19 palsu.

Mereka ditangkap aparat Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku di sebuah travel Gedung ATC kawasan AY Patty Kota Ambon pada Kamis (27/5/2021). Enam orang ini kini menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Maluku.

“Kita mengamankan enam orang terkait pembuatan surat keterangan rapid test dan genose palsu. Keenam orang ini masing-masing berinisial H, 40 tahun,  R 26 Tahun, R 49 tahun, H 34 tahun, S 40 tahun, dan M 38 tahun. Mereka masih kita periksa,” kata Direktur Ditreskrimum Polda Maluku Kombes Pol Sih Harno kepada wartawan di Mapolda Maluku, Jumat (28/5/2021).

Dari enam orang yang ditangkap ini, seorang dengan inisial H berusia 40 tahun ternyata ASN yang bekerja di salah satu Puskesmas wilayah Kota Ambon, dan seorang berinisial RA merupakan pegawai Angkasapura Ambon.

Harto mengungkapkan modus yang dijalankan mereka yang ditangkap adalah saat warga  membeli tiket di travel, ditawarkan untuk membeli surat keterangan hasil pemeriksaan rapid test dan GeNose tanpa harus melakukan pemeriksaan lagi.

Langsung dibuatkan surat keterangan pemeriksaan rapid test maupun GeNose hasilnya non reaktif.

“Saat ada masyarakat datang membeli tiket di travel, mereka menawarkan juga membeli surat keterangan rapid dan Genose tanpa tes lagi, dengan harga 200 ribu rupiah untuk rapid test dan 50 ribu rupiah untuk Genose hingga 200 ribu rupiah,” kata Harno yang didampingi Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Muhammad Roem Ohoirat.

Dia menyebutkan, dari hasil tangkapan, polisi menyita sejumlah barang bukti. Diantaranya, uang tunai berjumlah Rp 14. 750.000, tiga unit laptop, 1 unit komputer dan printer, dan empat buah handphone. Barang-barang ini digunakan untuk membuat surat keterangan rapid test dan Genose palsu.

Saat jumpa pers, Jumat sore, Harno mengakui keenam warga tersebut masih sebagai terperiksa, belum ditetapkan sebagai tersangka. Harno memastikan Jumat malam, sudah ada penetapan tersangka terkait kasus ini.

“Enam orang tersebut masih terus kita dalami. Belum ditetapkan sebagai tersangka, kan belum sampai 24 jam dari waktu mereka ditangkap. Nanti Jumat malam sudah ada tersangkanya,” kata Haro.

Haro menjelaskan mereka akan disangkakan dengan pasal 263 ayat 1 KUHP tentang surat keterangan palsu dengan ancam hukuman enam tahun penjara.

Di masa pandemi covid-19 ini, salah satu syarat warga melakukan perjalanan antar daerah atau antar kota harus memiliki surat keterangan hasıl rapid test dan GeNose yang menunjukan non reaktif.

Jika hasil pemeriksaan reaktif, maka warga tidak bisa melakukan perjalanan ke daerah lainnya.

Kondisi ini rentan terhadap pembuatan surat keterangan palsu. Di Jakarta dan sejumlah daerah, Polisi berhasil mengungkap praktek ini.

Liputan : Alfian Sanusi

Editor : Hamdi