Festival Makan Suami di Maluku

by
Sumiyati, warga Dusun Batu Dua, Negeri Waai Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah dan suami bikinannya untuk Festival Kuiler Suami pertama di Maluku, Sabtu (8/2/2020). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Hampir 200 meter para suami berjajar di tepi jalan Dusun Ujung Batu Negeri Waai Kecamatan Salahutu Maluku Tengah, Sabtu (8/2/2020). Tiap keluarga di masing-masing rumah menempatkan suami mereka di atas meja di sepanjang sisi timur jalan. Sebuah pemandangan yang jarang atau bisa disebut langka, khususnya bagi para pengguna jalan yang melintas di kawasan itu.

Jajaran suami di sepanjang jalan di tiga dusun di Desa Waai hiasi Festival Kuliner Suami

Tapi tunggu dulu. Ini bukan suami pasangan si istri. Melainkan panganan khas di Maluku berbentuk kerucut. Kudapan ini memang punya nama yang unik. Terbuat dari kasbi atau singkong, kelapa dan ada penambahan gula merah (pilihan). Makanan ini tinggi karbohidrat.

Nah, di Negeri Waai warganya tidak membuat satu atau dua suami. Melainkan ratusan suami yang kemudian ditempatkan berjajar di atas meja bersama lauk pauk pelengkap khas lainnya. Ini merupakan bagian dari festival kuliner suami yang diadakan oleh para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara 3T di Negeri Waai Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Ambon.

Sejak pagi para ibu juga anggota keluarga lain sudah sibuk menyiapkan suami untuk festival tersebut. Acara tersebut melibatkan  3 dusun di Desa Waai. Yakni Dusun Ujung Batu, Batu Dua dan Batu Naga. Tiap keluarga rerata membuat lima buah suami. Jika ditotal suami yang pagi tadi disediakan ada lebih dari 200 buah. Jadi terbayang berapa banyak dan panjangnya jajaran suami itu.

Dan kegiatan ini menjadi salah satu yang unik, langka dan bisa jadi satu-satunya yang pernah di gelar di Maluku. “Ini baru pernah ini, unik. Belum pernah katong bikin bagini,” celetuk salah seorang warga. Sumiyati mengatakan jika dia dan warga lain amat antusias mengikuti festival itu.

Apalagi festival itu bukan sekadar memajang makanan, melainkan siapa saja yang melintas diperkenankan untuk mencicipi suami buatan ibu-ibu di tiga dusun tersebut. Untuk menarik perhatian, warga di situ ada yang mencampurnya dengan gula merah atau kreasi suami aneka warna yang menggoda. Sudah pasti pengunjung tidak melewatkan kesempatan itu.

loading...

Koordinator Lapangan Festival Kuliner Suami, Muhamad Ahyani, menyatakan ini merupakan program unggulan yang digelar bagi warga setempat. Festival ini sebagai salah satu cara mereka membangun suasana santai dan rileks kepada warga pasca-gempa.

“Sebelum ke sini kami pelajari lagi apa yang dibutuhkan warga. Kebetulan usai gempa dan kami merancang kegiatan untuk pemulihan trauma. Dengan festival ini waga bisa saling ketemu, ketawa berbagi,” ungkap mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung itu kepada Terasmaluku.com di sela kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIT, Sabtu (8/2/2020).

Festival ini, hanyalah medium bagi warga untuk membaur berinteraksi dan saling berbagi kebahagiaan. Itu merupkan hal sederhana yang dinilai ampuh memulihkan trauma akibat bencana. Ahyani dan 24 rekan lainnya milhat ada potensi besar yang dapat dikembangkan dari kuliner khas Maluku.

 

Mereka lantas memilih panganan suami. Selain punya nama yang unik, suami begitu lekat bagi masyarakat yang beragam muslim di Maluku. “Masyarakat sudah kenal dengan suami. Dan akan terbangun suasana yang rileks melalui ini. Dan ini kegiatan pertama lho di Indonesia. harapannya bisa tercatat di Rekor Muri,” ucapnya.

Ahyani dan tim KKN Nusantara 3T datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari kudus, Gorontalo, Pekalongan, Riau dan juga Ambon. Mereka turun ke daerah tidak sekadar bekerja dengan masyarakat. Tapi mendorong mereka mengenal potensi dan mengembangkannya untuk kemajuan daerah. (PRISKA BIRAHY)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *