Festival Seni dan Cerita 3 Korban Selamat Air Turun Naik di Galala

by
Tiga saksi sejarah, Opa Alexander Siwalete, Oma Nona dan Oma Ester Watilete yang selamat dari bencana Air Turun Naik atau tsunami di Galala dan Hative Kecil pada 1950, bercerita di kegiatan Music and Art Peacetival, Sabtu (16/11/2019). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON,- Sekretaris Kota (Sekot) Ambon membuka kegiatan Music and Art Peacetival yang digelar oleh Angkatan Muda (AM) Gereja Protestan Maluku (GPM) Ranting VII, Jemaat Galala Hative Kecil, Sabtu (16/11/2019).

Kegiatan yang diinisasi oleh pemuda itu sebagai respon terhadap pencapaian Kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia serta Kota Toleransi. Acara yang digelar sehari di Lapangan Tahapary, Tantui Ambon itu diisi beragam penampil. Mulai dari musisi, penyair hingga cerita tentang rajutan toleransi.

Salah satu yang mencuri perhatian yakni sesi ‘Jalur Evakuasi Kenangan’. Sesi ini menghadirkan tiga orang saksi selamat dari bencana tsunami pada 1950 di Ambon. Usia mereka tak lagi muda tapi ingatan mereka begitu hangat.

Oma Ester Watilete, Oma Nona dan Opa Alexander Siwalete. Ketiga sepuh ini merupakan saksi sejarah kejadian ‘Air Turun Naik’ di tiga negeri di Pulau Ambon (Galala, Hative Kecil dan Hutumuri) atau yang dikenal dengan tsunami. “Beta masih SD ada memasak lalu mama bataria bilang air su turun sampe Desa Rumah Tiga,” cerita Oma Ester atau dikenal dengan Oma Te.

Kegiatan Music and art peacetival oleh AM GPM Ranting Kyrie Eleison Jemaat Gatik fibula oleh Sekretaris Kota, A.G. Latuheru

Saat kejadian itu, Oma Te yang masih berusia 8 tahun langsung berlari mencari adiknya dan berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Begitupun dengan Oma Nona yang berusia 9 tahun.

loading...

Saat kejadian itu, kata mereka, bertepatan dengan hari minggu. Usai gempa besar, air laut mendadak surut dan kembali ke arah pantai lalu menyapu rumah-rumah.“Akang turun ke Rumah Tiga, dia bale lai su bawa rumah-rumah. Katong lari,” celetuk Oma Nona dengan dialeg dan mimik yang mengundang tawa.

Kejadian tersebut memang sengaja diceritakan kembali agar warga kota lebih mawas. Itu mengingat selama dua bulan terakhir gempa bumi mengguncang Ambon, Malteng dan SBB.

“Katong undang oma dan opa ini supaya berbagi cerita. Apalagi tadi pagi baru gempa, supaya katong waspada dan tahu cara menyelamatkan diri kalau ada apa-apa,” terang Ketua Ranting VII, Jamres Pakniany.

Selain menjalankan program mandiri ranting, mereka memasukan pengetahuan baru dari para korban bencana yang selamat. Menurut James, warga Kota Ambon belum banyak yang paham tentang  kebencanaan. Kondisi panik dan minim pengetahuan malah bisa jadi ancaman besar. Pengalaman yang dibagi dalam sesi tersebut diharapkan menjadi masukan yang baik.

Usai sesi tersebut, kegiatan terus berlanjut hingga pukul 21.00 malam dengan ragam penampil. “Katong berharap ini akan jadi program tahunan dari ranting. Sebab pelayanan itu tidak hanya di gereja tapi juga anak muda bisa tumbuh ke luar dan cakap bersosialisasi,” terangnya.(PRISKA BIRAHY)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *