Folk Peace di Maluku Oleh : Revaldo PJMB Salakory

by
Revaldo P J MB Salakory, S.Th, M.Si. FOTO : DOK. PRIBADI

ARTIKEL ini membahas tentang folk peace, istilah folk atinya rakyat, dan peace artinya perdamaian. Secara garis besar kata folk peace menunjuk pada perdamaian yang berasal dari masyarakat. Pada 19 Januari 1999 Maluku mengalami serangkaian peristiwa panjang dalam sejarah. Peristiwa tersebut melibatkan perseteruan beda agama. Konflik agama yang terjadi membuat masyarakat maluku merasakan penderitaan, trauma yang berkepanjangan. Konflik agama di Maluku membuat kematian tercatat 8-9 ribu orang manusia tewas. Begitupun perumahan warga, gedung pemerintahan, gedung ibadah dan instansi lain tercatat, sekitar 29 ribu rumah warga terbakar, 45 mesjid, 47 gereja, 719 toko, 38 gedung pemerintahan, dan 4 bank hancur dan habis terbakar (Santosa, 2007: 201). Selain itu berdasarkan riset dari Bertrand dalam tulisannya konflik pada Januari 1999, kekerasan mendadak dan mengejutkan terjadi antara orang Kristen dan Muslim di provinsi Maluku, Indonesia.

Sebelumnya dipandang sebagai wilayah yang stabil di kepulauan itu, ia dengan cepat menjadi tempat perselisihan antaragama yang menghancurkan. Ribuan orang terbunuh, kekerasan selama beberapa tahun. Tidak banyak diketahui di daerah lain di Indonesia dan sebagian besar diabaikan di bawah rezim Suharto, Maluku menjadi pusat perhatian utama pemerintahan Habibie, Wahid, dan Megawati Konflik ini merupakan konsekuensi dari kebijakan Orde Baru yang mengganggu keseimbangan kekuatan antara kedua komunitas. Salah satu dari sedikit daerah dimana kedua kelompok agama itu hampir sama jumlahnya, Maluku adalah tempat kompetisi yang sunyi dan rapuh untu merebut kekuasaan antara Kristen dan Muslim. Konflik Maluku merupakan konflik yang membuat adanya disintegrasi terhadap kelompok yang berbeda secara ideologi antara Islam dan Kristen di Maluku (Bertrand, 2004).

Simbol Gong Perdamaian

Maluku pernah berada dalam pertikaian agama, sehingga begitu banyak upaya yang dilakukan demi membuat Maluku damai kembali. Antara lain pada tahun 2009, peresmian gong perdamaian sebagai simbol yang memberikan ketegasan bahwa konflik telah berhenti di Maluku. Dalam teori semiotika Bartels, tanda diartikan “gong perdamaian” dan penanda diartikan “bukti bahwa Maluku telah damai”. Monumen Gong Perdamaian Dunia merupakan sebuah gong perdamaian ke-35 yang ada di dunia, diresmikan oleh mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 25 November tahun 2009, dan ditetapkan oleh PBB kepada Kota Ambon, sebagai simbol perdamaian abadi.

Gong Perdamaian di Kota Ambon. FOTO : ISTIMEWA

Folk Peace di Maluku

Dilansir kompas.id. sebuah kegelisahan dari sekertaris PBB, Antonio Gutteres “jelas diplomasi membutuhkan banyak interaksi langsung manusia”. Berdasarkan pernyatan Gutteres dapat dilihat bahwa dunia harus belajar dari Maluku. Perdamaian haruslah berasal dari manusia, Istilah Folk Peace (Perdamaian Rakyat) di ambil dari istilah Danandjaja mengatakan folk adalah masyarakat secara kolektif. Sedangkan peace artinya perdamaian. Kata folk peace memiliki makna bahwa perdamaian harus berasal dari kesadaran kolektif rakyat. Dalam riset penelitian Salakory, di Pulau Seram dan Haruku yang melihat relasi primordial dari keempat negeri “Pela Gandong” Haya, Hatu, Tehua dan Wassu.

Loading...

Dalam konteks perdamaian di Maluku konsep saudara disebut pela gandong begitu penting dan sakral karena terjadinya proses pengulangan sejarah yang telah dilakukan oleh para leluhur mereka di Pulau Nusa Ina (pulau seram) (Salakory, 2020). Sekilas sejarah singkat tentang asal usul orang Maluku. Dalam penelitian Pelupessy, menjelaskan orang Maluku berasal dari Nusa Ina atau Pulau Seram. Pada awal mula penciptaan Nusa Tuni atau Nusa Awal setiap negeri berasal dari suatu tempat di Nusa Ina (pulau seram). Tempat tersebut yaitu di Gunung Murkele. Gunung tersebut terdapat istana kerajaan Lomine yang berkedudukan di Gunung Murkele kecil dan istana kerajaan Poyano di Gunung Murkele besar.

Kerajaan Alifuru ini ditopang oleh lima kerajaan besar lainya yaitu kerajaan Silalousana atau Silalou di bagian selatan Nusa Ina(Pulau Ibu) yaitu di Supa Maraina, kerajaan Mumusikoe atau Lemon Emas di Salalea yang terdapat disebelah utara Nusa Ina (pulau ibu), kerajaan Amalia di Yamasina disebelah timur Nusa Ina (pulau ibu), dan kerajaan Nunusaku bernama Lounusa atau Tounusa disebelah barat Nusa Ina (pulau ibu), dan masing-masing istana kerajaan memiliki nama yang menjadi Teong Negeri (Pelupessy, 2012). Dengan demikian meskipun mereka telah keluar dan menetap di wilayah lain misalnya Wassu (Pulau Haruku), akan tetapi pengetahuan mereka tetap dilakukan sebagai fungsi menciptakan cosmos di wilayah yang mereka huni.

Penelitian di Negeri Wassu Kabupaten Maluku Tengah. FOTO : ISTIMEWA

Berdasarkan penuturan diatas, orang Maluku berhasil merawat perdamaian diakibatkan kebudayaan yang terus dilestarikan dalam transmisi lisan secara turun-temurun sebagai bagian dari penghormatan terhadap leluhur. Tradisi lisan telah memberi ruang perjumpaan untuk mendamaikan pertikaian di Maluku. Menggunkan pendekatannya Eliade, tentang ruang yang sakral (Axis Mundi), merupakan tempat perjumpaan antara manusia dengan yang ilahi (Eliade, 2012). Dapat dilihat ruang budaya berfungsi sebagai pengikat relasi yang sempat renggang akibat konflik agama.

Menurut Agusyanto dalam pandangannya jaringan sosio-kultural begitu penting karena mampu membantu manusia agar dapat berelasi dengan semua manusia. Sehingga manusia bukan hanya berelasi dengan sesamanya (kelompok) saja, akan tetapi dengan orang di luar kelompok mereka. Baginya pengalaman setiap individu serta kebutuhannya dapat membuat manusia mampu berinteraksi dengan orang dari luar dirinya. Sehingga dalam ritual-ritual adat yang sampai saat ini masih dilaksanakan misalnya upacara pertemuan “Pela Gandong”; pelantikan raja, kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan berfungsi mengikat kembali jejaring budaya.

Penulis : Revaldo Pravasta Julian Mb Salakory, S.Th.M.Si, Alumni Magister Sosiologi Agama-UKSW (Pekerjaan Dosen Non-PNS FKIP Prodi Sejarah Unpatti)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *