Gandeng FMIPA Unpatti Bikin Hand Sanitizer Sopi, Oleh: Yohansli Noya

by
(depan) Yohansli Noya, Asisiten Lab Fisika Dasar 1 & 2, Lab Elins (Elektronika Instrumentasi & Komputasi), Lab Optik, Lab Gelombang

Penularan  virus corona (Covid-19) yang menjadi bencana non-alam secara internasional membuat semua Negara begitu serius dan was-was. Tak terkecuali Indonesia. Jumlah kasus pasien tertular covid-19 semakin meningkat, sehingga membuat kewalahan para tenaga kesahatan bahkan menghantam kondisi ekonomi sehingga membuat rupiah meroket tajam.

Indonesia bukan cuma Jakarta. Dampak itu tersebut juga dirasakan di kawasan timur Indonesia, Kota Ambon, Maluku. Walau belum ada pasien yang terdampak corona dan masih sambil menunggu hasil Lab 2 WNA Jepang dan 1 Warga Bekasi dari Lab Jakarta, tetapi sudah cukup membunyikan alaram bahaya di warga.

Hal ini begitu mencekam dengan kekuatiran beragam. Imbasnya, kehabisan stok masker, antiseptic, alkohol serta Hand Sanitizer diseluruh gerai modern dan apotek di Kota Ambon. Bahkan kalu ada pun sudah dijual dengan harga tinggi.

Perlu ada langkah-langkah alternatif dan kerjasama lintas sekotor akan hal ini. Yakni dengan memaksimalkan potensi alam lokal yang ada. Sifat dasar antiseptic atau alkohol bisa kita temui dalam minuman tradisional sopi.

Pemerintah Kota Ambon, Dinas Kesehatan Provinsi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) sudah saatnya melirik hal ini dan dapat menggandeng FMIPA UNPATTI Jurusan Kimia untuk dapat memproduksi Hand Sanitizer lokal berbahan dasar sopi.

Sifat Dasar Antiseptic

Dalam berbagai kajian bersama kandungan sopi puny acara kerja dan sifatyang sama dengan antiseptik. bahwa sopi sangat bermanfaat sebagai bahan dasar pembuatan Hand Sanitizer lokal. Pera pengajar, peneliti SDM di Fakultas MIPA Kimia telah bekerja untuk itu dan mengembangkannya.

Seperti yang dilakukan Dr. Nikmans Hattu, M.si yang juga merupakan lulusan terbaik ITB dan pengajar pada Jurusan Kimia FMIPA Unpatti. “Saya punya Hand Sanitizer, saya buat dari sopi kapala, kemudian didestilasi ulang supaya dapat menghasilkan alkohol konsentrasi tinggi,” kata Niki dalam sebuah kesempatan.

Loading...

Setelah mendapat alkohol berkonsentrasi tinggi kemudian dicampur pelembab. Dia memakai minyak zaitun yang mengandung beberapa bahan alami lainnya sebagai pelembab, karena alkohol akan merombak struktur DNA dari bakteri dan virus. Dan untuk mencegah bakteri tumbuh dalam hand sanitizer itu dipakailan H2O2 (Hidrogen Peroksida).

Dengan kondisi saat ini kedepannya Hand Sanitizer ini akan menjadi barang langka. Pemerintah perlu mengambil langkah cepat dan cerdas berdasarkan pertimbangan penelitian dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan simulasi dan pemodelan sederhana prediksi penyebaran Corona Virus Desease (COVID-19) di Indonesia.

Menurut hasil kajiannya dapat disimpulkan bahwa Indonesia akan mengalami puncak jumlah kasus harian COVID-19 pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020 dengan kasus harian baru terbesar berada di angka sekitar 600 serta jumlah kasus maksimal 8000 kasus di Indonesia kedepannya.

Dari hasil simulasi epidemic Covid-19 yang dilakukan P2MS ITB tentu harus menjadi pijakan bagi Pemprov dan Pemkot untuk dapat bergerak cepat untuk mencegah penularannya dengan memproduksi Hand Sanitizer, sehingga dapat didistribusikan dan memenuhi kebutuhan masyarakat karena ketersediaan di masyarakat mulai berkurang dan cenderung sulit didapat.

Alangkah baiknya, harus ada kebijakan lokal dari Pemprov dan Pemkot untuk memproduksi Hand Sanitizer sendiri dengan bahan dasar sopi. Karena sebenarnya sopi punya segudang manfaat. Hanya saja pemakaiannya disalahgunakan sehingga membuat citranya buruk.

Maka dengan melibatkan Fakultas MIPA terkhusunya jurusan Kimia yang mempunyai fasilitas laboratorium lengkap dengan tenaga SDM  mumpuni jebolan ITB dan UGM akan dapat memaksimalkan produksi Hand Sanitizer yang sesuai standar BPOM serta Badan Kesehatan Dunia (WHO). (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *