Geliat Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku Oleh : Rudy Rahabeat Pendeta GPM

Geliat Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku Oleh : Rudy Rahabeat Pendeta GPM

SHARE
Pendeta Rudy Rahabeat,

WAKTU berlalu begitu cepat. Tanpa terasa Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) akan melaksanakan musyawarah tahunan yakni Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) ke-31 yang berlangsung di Jemaat Latdalam Tanimbar Selatan tanggal 4-8 November 2018. Sebagai bagian dari organisasi Kepemudaan di daerah Maluku dan Maluku Utara, AMGPM senantiasa terus berbenah dan mengoptimalkan makna kehadirannya bagi gereja dan masyarakat dalam bingkai motto “Kamu Adalah Garam dan Terang Dunia”.

Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku merupakan organisasi kader yang tidak hanya fokus pada ibadah atau kegiatan ritual, tetapi membentuk kadernya memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial-budaya serta ekologis. Berbagai program yang dilaksanakan di level Pengurus Besar, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang hingga Pengurus Ranting senantiasa bertujuan membentuk kader yang paripurna, yang memiliki kematangan dan ketahanan spiritual tetapi juga sosial- budaya-ekonomi, bahkan politik. Olehnya, kader AM-GPM tidak hanya pandai memimpin ibadah, tetapi peka dan responsif terhadap berbagai persoalan yang hadir di sekitarnya.

AMGPM juga meluaskan horizon pelayanannya bukan saja kepada kadernya, tetapi juga kepada gereja dan masyarakat. Keterlibatan pemuda dalam mendukung program-program gereja dan pemerintah pada aras negeri, kecamatan, kabupatan/kota hingga provinsi merupakan wujud konkrit ibadah sosial. Dengan begitu, AMGPM benar-benar menghadirkan moto “garam dan terang” dunia yang memberi rasa dan cahaya bagi dunia dalam arti seluas-luasnya. Tentu saja, itu bukan berarti bebas tantangan, yang dalam syair lagu wajib AMGPM hal itu dilukiskan sebagai badai dan topan.

GENERASI MILINEAL

Salah satu problem yang perlu dicermati AMGPM saat ini adalah kesenjangan generasi (generation gap). Hal ini bukan soal perbedaan usia dan minat, tetapi perubahan budaya dan gaya hidup. Generasi milenial memiliki karakter dan ciri-ciri yang unik dan tipikal. Generasi yang akrab dengan dunia digital dan cenderung pragmatis ini membutuhkan pola pendampingan dan pendekatan yang tipikal pula. Hal ini bukan berarti mengikuti arus dan menjadi bunglon. Tetapi memang dibutuhkan bacaan yang tepat terhadap tipikal generasi model ini.

Salah satu fakta akrab pada generasi ini adalah mereka begitu dekat dengan media sosial. Berbagai menu digital yang disajikan di zaman now ini tak terhindarkan dalam praktek keseharian generasi tersebut. Dalam kondisi ini bisa muncul dua konsekuensi. Pada satu pihak, terdapat kemudahan dalam mengakses berbagai informasi dan mengembangkan kreatifitas dan inovasi berbasis internet, namun pada pihak lain, mereka bisa terbuai dalam kebiasaan yang berpusat pada diri sendiri dan tumpul kepekaan sosialnya. Mereka bisa bisa mengalami kecanduan (addict) terhadap media sosial, dan cenderung abai terhadap dinamika yang terjadi di sekitarnya.

Dalam konteks Maluku dan Maluku Utara, tentu perlu dilakukan pemetaan yang mendalam tentang persebaran dan keberadaan generasi milineal ini. Sebabnya, sebagai sebuah kategori sosial, konsep generasi milienal lahir dari kosakata masyarakat Barat yang diandaikan telah mengalami moderniasi yang praktis merata. Tapi, apakah hal itu juga berlaku di masyarakat Maluku hari ini misalnya. Agar tidak latah, maka tentu kajian tentang keberadaan generasi milienal ini perlu dilakukan. Sebagai contoh, apakah kawan-kawan pemuda di Tanimbar Selatan atau di Buru Selatan atau Halmahera Selatan, telah mengkonsumsi media sosial secara merata? Bagaimana problem jaringan dan akses terhadap internet. Ini hanya untuk menyebutkan contoh teknis.

MASALAH YANG KOMPLEKS

Tentu saja isu kesenjangan generasi adalah salah satu isu dari beragam isu yang digumuli para pemuda di masa kini. Kawan saya Pdt Max Takaria yang adalah Ketua Umum Pengurus Angkatan Muda GPM kerap menggunakan kata “geliat” pada beberapa kesempatan. KBBI online mengartikan geliat atau menggeliat sebagai meregang-regang serta menarik –narik tangan dan badan (seperti setelah bangun dari tidur). Dari pengertian ini geliat bisa dimaknai sebagai kepekaan dan tanggapan terhadap berbagai dinamika yang dihadapi kaum muda saat ini.

Partisipasi pemuda dalam politik, minimnya  budaya kewirausahaan di kalangan pemuda, krisis kepemimpinan pemuda, apatisme dan fatalism hidup, serta rendahnya partisipasi pemuda di ruang-ruang publik bisa disikapi dengan cermat. Apa saja faktor-faktor yang membuat pemuda menjadi demikian, dan bagaimana caranya agar pemuda tetap bangkit dan berperan aktif dalam berbagai bidang kehidupan.

 

Kita juga perlu memberi apresiasi dan dukungan kepada pemuda-pemuda inovatif yang telah dan sedang melakukan terobosan-terobosan sesuai kapasitas yang dimiliki. Pemuda yang memelopori pendidikan bagi anak-anak di kampung, yang mendorong literasi media, pendidikan politik bagi pemuda, mengadvokasi masalah lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat, bahkan yang melakukan advokasi politik melalui media sosial, seperti yang dilakukan Jusuf Nicolaus (Jusnick) Anamofa, salah satu kader AMGPM yang menggalang Petisi melalui media Change.Org,  mengkritisi RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

Semoga melalui momen MPP AMGPM di Tanimbar Selatan ini, kawan-kawan AMGPM makin “bergeliat” dan progresif dalam menghidupi moto “garam dan terang dunia”. Sehingga kehadiran dan kiprah AMGPM makin bersinar dan berasa, di tengah dunia yang terus berubah. Selamat ber-Musyawarah kawan-kawan. (RR).

loading...