Geliat “Ina Salatena” Menerobos Dunia Pasar Di 75 tahun kemerdekaan RI Oleh : Pdt.Sandra Pesiwarissa-Engko, M.Th

by
Petani perempuan Hulung-Taniwel Kabupaten SBB. FOTO : ISTIMEWA

Luas lahan perkebunan yang diolah petani perempuan Hulung-Taniwel mungkin tidak lebih dari 20 meter persegi setiap hari. Teknik membajak tanah yang masih tradisional dan penggunaan peralatan pertanian yang umumnya disesuaikan dengan kemampuan kerja laki-laki, serta pendapatan ekonomi yang rendah telah menjadi beberapa masalah bagi petani perempuan untuk bisa mengakses daya olah perkebunan yang lebih memadai dengan lahan yang luas. Daya olah perkebunan terus melemah bagi petani perempuan Hulung juga dipengaruhi oleh posisi mereka terkait status mata pencaharian dalam kehidupan rumah tangga.

Sekalipun perempuan Hulung menekuni  pekerjaan sebagai petani, namun dalam data base masyarakat/jemaat dan pola pikir yang berlaku umum dalam masyarakat bahwa mereka hanya merupakan orang kedua setelah suami dengan jenis mata pencaharian sebagai ibu rumah tangga atau tidak memiliki pekerjaan. Akibatnya identitas mata pencaharian pekerjaan mereka pun tidak pernah dihitung dalam sistem pendataan yang ada. Pekerjaan mereka didata sebagai ibu rumah tangga, dan suami mereka didata sebagai petani. Hal ini semakin memposisikan petani perempuan Hulung-Taniwel tak berdaya dalam menentukan peran mereka yang lebih strategis bagi keluarga dan masyarakat.

Sebagian orang (baca:laki-laki) cenderung memberikan tanggapan miring terhadap petani perempuan ketika mendapati pemahaman dan tindakan mereka bahwa mereka dapat melakukan pekerjaan pertanian yang memberi hasil bagi pendapatan ekonomi keluarga. Menurut pandangan orang-orang tersebut, petani perempuan hanyalah ibu-ibu rumah tangga yang dapat mengolah sebidang kecil lahan perkebunan untuk mengisi perut keluarga setiap hari. Petani Perempuan Hulung kemudian terjebak dalam budaya patriakhi yang sangat membelenggu kemampuan mereka untuk menjadi petani yang handal, sehingga tanpa sadar mereka pun ikut menegaskan pandangan tersebut dengan mengolah sebidang lahan yang cukup ditanami beberapa jenis tanaman umur pendek misalnya cabe, tomat, sayur-sayuran, jagung, kacang dan beberapa jenis ubi-ubian. Padahal dalam realitasnya hasil produksi kebun yang mereka olah tersebut telah memberi juga pendapatan ekonomi bagi mereka dan keluarga.

Dari hasil penjualan cabe dan lainnya, dalam sehari petani perempuan Hulung bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp.20.000-50.000 bahkan lebih. Hasil dari penjualan tersebut mereka pergunakan untuk membeli beras, gula serta kebutuhan pokok lainnya untuk keluarga. Pandangan yang bias gender dan berbau diskriminatif bagi petani perempuan tidak dapat disangkali terjadi juga akibat pola bertani di pedesaan termasuk di Pulau Seram yang cenderung memberi perhatian hanya pada tanaman umur panjang  yakni pala, cengeh, kelapa, coklat, dll. Luasnya lahan tanaman umur panjang yang dimiliki oleh seorang petani di desa menjadi nilai ukur prestise seseorang dalam masyarakat, yang mana hal ini begitu kuat melekat dalam diri laki-laki. Tanaman umur panjang dipandang sebagai sumber  pendapatan utama dan kekayaan bagi keluarga-keluarga  petani di desa yang umumnya dilekatkan pada diri laki-laki (baca:kepala keluarga)

Menariknya ketika pemahaman yang bias gender ini terus tumbuh subur, wabah covid-19 yang sementara melanda dunia saat ini memberi sedikit ruang untuk membuat perubahan bagi kehidupan petani perempuan Hulung-Taniwel. Pembatasan sosial berskala besar dengan menjadikan rumah sebagai tempat yang lebih aman untuk menghindari penularan covid-19, telah membuat masyarakat di desa lebih memilih untuk memberi perhatian pada pekerjaan-pekerjaan yang ruang gerak mereka terbatas hanya pada wilayah milik pribadi termasuk kebun.

Jemaat GPM Hulung-Taniwel pun cepat membaca peluang yang ada ketika hampir seluruh aktivitas sehari-hari masyarakat pedesaan di Hulung-Taniwel beralih fokus pada pengolahan lahan atau kebun yang cenderung menjadi lahan tidur selama ini. Sejak bulan Mei 2020, Jemaat GPM Hulung-Taniwel telah menyalurkan bantuan bibit sayur dan kacang kepada 87 KK. Dengan menggunakan pendekatan pastoral, gereja membaca kesempatan ini dan merancangkan serta melakukan pendampingan kepada petani mulai dari menanam hingga pemasaran hasil panen. Situasi pemberdayaan ekonomi melalui pemanfaatan lahan di situasi pandemic corona ini pun diberi jawab oleh MPH Sinode GPM dengan cepat dan tanggap melalui penyediaan jaringan pemasaran yang menolong dan memudahkan para petani di Seram. Sebuah mobil truk disediakan sebagai alat bantu jaringan pemasaran ketersediaan dari Seram ke Ambon, sehingga semakin tertolonglah para petani di Hulung-Taniwel saat ini.

Loading...

Sebagai gereja, peluang ini tak hanya dilihat bagi petani secara menyeluruh namun juga bagi upaya pemberdayaan petani perempuan Hulung.  Bersama-sama dengan kaum laki-laki, petani perempuan Hulung pun semakin lebih giat mengolah kebun milik mereka. Pemanfaatan waktu uantuk mengolah kebun milik mereka yang hanya bisa terpakai 3-4 jam sehari karena harus mengurus lebih  dulu kebutuhan anak-anak dan suami di pagi hingga siang hari, setelah itu mereka ke kebun dengan jarak tempuh dari rumah ke kebun sekitar 3-6 km, kemudian berubah menjadi 10-12 jam sehari. Hal mana terjadi karena selama masa pandemik covid-19, tempat tinggal petani berpindah dari rumah yang ada di kampung/desa ke rumah yang ada di perkebunan mereka. Luasnya lahan perkebunan yang dapat mereka olah pun semakin lebih banyak. Mencermati kesempatan yang tersedia bagi petani perempuan Hulung, gereja kemudian membentuk kelompok petani perempuan Hulung, dengan basic keanggotaannya dari Wadah pelayanan perempuan GPM (Pelwata).

Kesamaan basic komunitas ini menjadi daya dorong yang kuat bagi gereja untuk melakukan pendampingan sekaligus juga menjadi kekuatan bagi anggota kelompok untuk bertahan dan berkembang. Kelompok petani perempuan Hulung-Taniwel dengan nama “INA SALATENA”, terdiri dari 8 (delapan) orang petani perempuan yang memiliki komitmen untuk terus memberdayakan diri menjadi petani perempuan yang tangguh dan berdaya secara ekonomi. Untuk itu, seluruh desain perencanaan dan pengorganisasian kerja dilakukan oleh kelompok Ina Salatena dan didampingi oleh pelayan gereja/Jemaat GPM Hulung.

Nama SALATENA merupakan nama salah satu sungai di Hulung-Taniwel yang sangat dikenal dengan sumber mata airnya yang tidak pernah kering, sekalipun kemarau panjang terjadi di Seram. Air dari mata air ini pun dikenal sangat dingin dan jernih. Karena itu, air dari Sungai Salatena dimanfaatkan oleh masyarakat sari-hari sebagai salah satu sumber kebutuhan air dalam rumah tangga. Tidak hanya bagi masyarakat desa Hulung, namun juga kampung lain di sekitar Hulung-Taniwel. Begitu pentingnya air SALATENA telah menginspirasi kelompok petani perempuan Hulung-Taniwel untuk menjadikan juga sebagai nama kelompok dengan maksud bahwa kehadiran petani perempuan Hulung-Taniwel ikut serta menghidupkan kehidupan bersama. Mulai dari tanggal 16 Agustus 2020, nama ini akan terus dipakai sebagai label atau merk dagang pada setiap komoditi dari kelompok petani perempuan Hulung-Taniwel baik dalam bentuk mentah maupun makanan jadi (produk turunan).

Bulan Agustus tahun 2020 memang telah melahirkan beberapa catatan penting bagi kelompok Ina Salatena. Bulan kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia ini, menjadi bulan penuh rahmat bagi petani perempuan Hulung-Taniwel. Sebab, bulan ini menjadi  bulan memanen hasil bagi seluruh petani di Hulung-Taniwel, termasuk bagi petani perempuan Hulung-Taniwel. Jumlah hasil panen bulan Agustus tahun 2020 lebih besar dari pada biasanya. Beberapa jenis komoditi yang dapat dipasarkan yakni patatas, keladi kepala (keladi yang ukurannya sebesar kepala bahkan lebih), kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, jagung, sayur-sayuran, dll. Petani perempuan Hulung kemudian menjual komoditi tersebut pada beberapa pasar yang sekarang ini tersedia. Jika sebelumnya mereka hanya dapat memasarkan pada kalangan sendiri di Desa Hulung dan sekitar Taniwel, sekarang pasar yang mereka miliki pun bertambah yakni pasar Piru, Pasar Ambon hingga pasar online yang tersedia melalui Peruati (Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi) Wilayah Maluku.

Salah satu produk turunan yang saat ini lagi digeluti oleh kelompok INA SALATENA yakni sambal goreng patatas ikan julung. Pasar online Peruati GPM diakui sangatlah menolong terjadinya peningkatan produksi selama ini. Sekalipun tidak dapat dipungkiri juga bahwa pasar ini tidak boleh menjadi satu-satunya jaringan pasar yang untuk mendapatkan kemajuan produksi yang lebih maksimal bagi kelompok Ina Salatena. Oleh sebab itu, kebutuhan promosi yang lebih luas, didukung dengan izin resmi dari lembaga terkait di pemerintah menjadi mimpi kelompok petani perempuan Hulung-Taniwel yang sementara terus diupayakan. Selain itu, peningkatan daya produksi industri rumah tangga terhadap Sambal Goreng Patatas Ikan Julung membutuhkan juga cara pengolahan secara tepat guna melalui pendampingan dan pelatihan dari lembaga-lembaga terkait lainnya. Beberapa harapan ini tentunya menjadi sebuah realitas kemerdekaan yang sesungguhnya bagi petani perempuang Hulung-Taniwel.

75 tahun kemerdekaan RI seharusnya semakin menambah sejarah pembebasan/kemerdekaan terhadap berbagai lapisan masyarakat Indonesia dari berbagai keterbelengguannya akibat kelemahan dan keterbatasan yang ada termasuk keterbatasan akses. Kehadiran gereja saja tidak cukup untuk menolong membuka belenggu tersebut, dibutuhkan juga peran seluruh pihak terutama pemerintah. Jika Gereja adalah Ibu, maka pemerintah tentunya adalah Bapak yang diharapkan menjadi orang tua untuk selalu bersinergis menghidupkan anak-anaknya di tanah air tercinta ini. Indonesia adalah Negaraku. Negara yang menjadi milik semua orang yang berdiam di dalamnya untuk memperoleh keadilan dan kemakmuran dari padanya.

Indonesia merdeka! Merdekalah Petani Perempuan Hulung-Taniwel Seram Bagian Barat!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *