Gereja Ebenhaezer Skip Tandai Ibadah Perdana dengan Ketat Terapkan Protokol Kesehatan

by
Gereja anak sebagai penanda ibadah perdana Jemaat GPM Ebenhaezer Skip, Minggu (11/10) dengan terapkan protokol kesehatan. FOTO: Istimewa

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Minggu 11 oktober 2020 menjadi momen kali pertamanya sejumlah gedung gereja kembali aktiv melakukan peribadatan. Setelah lebih dari empat bulan tutup lantaran pandemic covid-19, kini atas kesepakatan dengan protokol kesehatan ketat, kegiatan ibadah kembali berjalan seperti sedia kala.

Salah satunya yang tampak pada Gereja Ebenhaezer Skip, Kelurahan Karang Panjang Kota Ambon. Ketua Majelis Jemaat GPM Ebenhaezer, Pdt. Godflief, Y.A. Koritelu menyatakan keputusan beribadah di gedung gereja merupakan sebuah pilihan moral. Hal itu telah mendapat pertimbangan dari Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode yang diturunkan ke jemaat.

Pendeta Eklin Amtor de Fretes yang juga seorang pendongeng itu berkotbah di ibadah anak menggunakan boneka ventriloquist

“Pilihan bulan Oktober kan kondisi belum bagus. Di GPM secara umum juga belum bagus. Tapi pilihan ini adalah pilihan moral,” jelasnya usai ibadah anak perdana, Minggu, (11/10/2020).

Dia menambahkan proses peribadatan di gedung sejatinya sudah mulai sejak akhir Agustus pada sejumlah rumah ibadat. Hanya saja pihak Gereja Protestan Maluku (GPM) perlu memastikan banyak hal demi keamanan jemaat.

“Arahan MPH Sinode hanya 20 persen gedung gereja bisa menampung jemaat. Dari kapasitan itu 20 persen. Katong tetap jalankan protokol. Dari total kapasitas sekitar 250 orang yang hadir kemarin ibadah anak tidak sampai 100 orang,” akunya.

Loading...

Skema protokol kesehatan yang diterapkan yakni dari 13 sektor di jemaat, hanya boleh mengirimkan perwakilan dua orang anak kategori kelas anak dan remaja. Serta dua orang pengasuh. Dari tiga lantai, hanya lantai dasar yang digunakan sebagai ruang ibadah dengan tetap memberikan jarak kursi antar anak.

“Nah fakta ini ibadah pertama anak remaja hanya perwakilan jadi tidak semua gedung itu penuh. Sangat sedikit. Karena katong ambil hanya dua Tambah pengasuh. Artinya dari 13 kali tiga (3) persektor katong tidak sampai 100 orang. Masih tetap dalam pedoman, seruan pemerintah mupun gembala gereja. Karena itu katong belum bikin dalam jumlah yang banyak. Berharap ibadah itu bisa menampung anak dalam kebutuhan pelayanan,” tambah pendeta yang akrab disapa Otis itu.

Sementara itu Hans Mario Tanamal salah satu staf Gereja Ebenhaezer menyatakan pada ibadah perdana itu pihaknya sengaja memilih dibuka dengan gereja anak. Menurutnya kali ini mereka ingin memberi ruang ibadah kepada anak dan sengaja dibuat terpisah dari jemaat dewasa untuk menjaga keamanan di masa pandemi.

“Anak juga sebagai sebuah simbol, bahwa dibukanya ibadah gereja tidak hanya bagi umat dewasa tapi juga anak-anak yang selama masa PSBB hanya bisa beribadah di rumah,” terang dia.

Dengan pertimbangan matang, mereka memastikan usia jemaat anak yang hadir kemarin adalah usia belasan yang juga masuk kategori remaja.

Pihaknya berharap dengan pembukaan ibadah di gedung gereja, dapat memberikan semangat anak-anak untuk bisa beribadah dengan suasana kondusif.

“Selama ini kan hanya di rumah ikut live streaming dari gereja, tapi bisa jadi ada yang seng ikut ibadah anak sama sekali. Untuk kasih semangat katong buka ibadah dengan haridkan pendeta yang juga pendongeng dengan boneka ventriloquist miliknya, pdt. Eklin Amtor de Fretes,” ucap Mario. (PRISKA BIRAHY)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *