Gereja Laut Pulau, Menelisik dari Pinggiran Oleh : Rudy Rahabeat, Wakil Sekretaris Umum Sinode GPM

by

KAPAL Sabuk Nusantara 71 angkat jangkar tepat pukul 21.00 WIT. Malam itu hujan turun di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Kami memulai perjalanan lima hari menuju pulau Dawelor di kepulauan Babar Kabupaten Maluku Barat Daya. Ada 14 titik persinggahan yang mesti dilalui sebelum tiba di pulau yang bersebelahan dengan pulau Dawera yang di sana ada Desa Welora yang baru saja mendapat Anugerah Pesona Indonesia nomor 1 sebagai destinasi wisata baru di Indonesia.

Tujuan kami adalah Jemaat GPM Wiratan yang terletak di pulau Dawelor. Dermaga kapal terletak di desa Watuwei. Kami harus berjalan kaki menyusuri gunung sekira 5 kilometer dan butuh kurang lebih dua jam sebelum tiba di Wiratan. “Kami akan membangun jalan raya di sini termasuk pusat kecamatan baru” ungkap Drs Buce Maromon, Camat Dawulor- Dawera saat kami berjalan kaki bersama di wilayah berbatu karang itu.

Sidang Klasis GPM Pulau-Pulau Babar Timur berlangsung selama dua hari di Wiratan (Minggu-Senin, 16-17 Mei 2021). Sidang dihadiri utusan dari 25 Jemaat yang tersebar di 4 pulau yakni pulau Babar besar, pulau Marsela dan pulau Dawelor dan Dawera.

“Selamat datang di Wiratan” syair lagu menggema saat kami dikalungi kain tenun warna merah. Warga Jemaat sangat antusias menyambut peserta sidang gerejawi yang digelar setahun sekali itu. Ketua Klasis PP Babar Timur, Pdt Ny M Warella-Ubro terlihat senang. Ia didampingi Sekretaris Klasis Pdt Ois Maskikit, Pdt Sony Reskir, Kepala Biro Hukum dan Advokasi Sinode GPM, dan Bung Rudy Tupan, Pengurus Besar Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM)

Advokasi Blok Masela

Saat malam kami berdiskusi tentang tema dan sub tema sidang. Salah satu isu yang mengemuka adalah keberadaan Blok Migas Masela. Bukan kebetulan jika Dr Yustinus Malle turut memberi masukan. Dosen FMIPA Universitas Pattimura itu merupakan putra desa Wiratan, yang pakar kimia. Alumni S2 dan S3 Kimia di ITB (Institut Teknologi Bandung) dan alumni S1 Kimia Universitas Hasanuddin Makassar itu memang paham soal migas.

Saya lacak jejak akademiknya di google scholar, dan ada ragam hasil riset yang dipublikasi di berbagai jurnal di dalam dan luar negeri. Ia memberi catatan penting bahwa MBD merupakan wilayah terdampak Blok Masela dan olehnya perlu diperhatikan oleh pemerintah dan tentu saja perusahaan. Dr Malle mendorong peran gereja untuk mengadvokasi dan memberdayakan umat dan masyarakat. Hadir juga adik kandungnya Dr Bram Mariwi yan juga dosen Kimia FKIP Unpatti.

Sidang mengeluarkan satu rekomendasi terkait peran gereja untuk mendampingi dan mengadvokasi jemaat-jemaat menyambut kehadiran Blok Masela. “Kami akan kawal keberadaan Blok Masela agar membawa kesejahteraan bagi masyarakat di MBD dan Indonesia,” ungkap Pdt Aldin Hunila, yang bertindak selaku Ketua Komisi Umum dan Rekomendasi. Para peserta sidang mengamini penuh pendapat Ketua Majelis Jemaat GPM Emplawas itu.

Isu lain yang mengemuka adalah pentingnya moda transportasi dan komunikasi di pulau-pulau kecil. Program Tol Laut yang digulir Presiden Jokowi sangat menolong warga negara di pulau-pulau kecil itu. Sebelumnya memang ada kapal perintis swasta, tetapi kondisinya sangat memprihatikan.

“Dulu manusia dan hewan saling berdesakan di atas kapal. Kondisinya sangat tidak manusiawi” ungkap Ipus Tetlahegi warga Pulau Lakor yang ikut dalam pelayaran dengan KM Sabuk Nusantara 71. Ia berharap pemerintah pusat dan daerah tetap peduli terhadap rakyat di pulau-pulau terdepan NKRI. Termasuk perlunya fasilitas komunikasi (internet) yang merupakan kebutuhan saat ini yang tak terelakan. Salah seorang putra MTB, Anos Yermias, Ketua Komisi C DPRD Maluku sangat getol menyuarakan hal ini.

Saat kami kembali dari Wiratan, kami melalui jalur laut menuju pelabuhan Watuwei. Butuh dua hari perjalanan dengan KM Sabuk Nusantara 103 sebelum tiba di pelabuhan Saumlaki. Kapal tidak bisa sandar di pelabuhan karena cuaca ekstrim.

Kami akhirnya turun menggunakan longboat disaat hujan masih turun dan udara sangat dingin. Keesokan harinya dengan menumpangi pesawat Wings Air, dari pelabuhan udara Mathilda Batlajery kami terbang menuju Ambon. Pagi itu udara cukup cerah.

Begitulah sebagian potret dan kisah masyarakat di pulau-pulau kecil. Laut mereka luas, ada banyak potensi di dalamnya. Demikian pula ada potensi gas abadi, salah satunya Blok Migas Masela. Sayangnya, hingga kini mereka masih dililit kemiskinan. Moda transportasi perlu dioptimalkan. Demikian pula akses telekomunikasi. Hingga kini belum semua pulau mendapatkan akses internet.

Masalah listrik dan air bersih masih merupakan kebutuhan yang perlu diperhatikan pemerintah lebih sungguh. Walau demikian, daya juang dan militansi masyarakat di pulau-pulau kecil itu patut diacungi jempol. Mereka bertarung menghadapi badai, anak-anak mereka merantau menuntut ilmu dan meraih pekerjaan.

Mereka sadari sungguh bahwa tak ada laut yang tak bergelombang, dan dibalik batu karang masih ada kehidupan. Persis seperti semboyan masyarakat Dawulor-Dawera, Amerere, Mormore, kami ada, kami hidup. Ledual, Kalwedo ! (RR).