Gizi Buruk, Satu Keluarga di Malteng Jalan Tiga Hari Demi Berobat

by
Barce Rehena dan istrinya Lince Ilelapotoa berhasil membawa anak bungsu mereka yang alami gizi buruk berobat ke RSUD Masohi, Maluku Tengah yang alami usai berjalan selama tiga Hari menyusuri hutan.

TERASMALUKU.COM,-MASOHI-Buruknya inpastruktur dan minimnya akses kesehatan di pedalaman Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), membuat masyarakat Negeri Maraina Kecamatan Seram Utara menjerit sulit. Seperti yang dialami keluarga Barce Rehena dan istrinya Lince Ilelapotoa. Mereka terpaksa menggotong kedua anaknya berjalan kaki selama tiga hari untuk pengebotan anak bungsunya, Brigel Rehena yang menderita gizi buruk.

Menurut ibunya, kondisi Brigel telihat buruk sejak lahir 2 April 2018 lalu. Brigel bukan satu-satunya balita yang mengalami gizi buruk di wilayah itu. Minimnya akses kesehatan dan jalan menyebabkan nyawa mereka tak bisa diselamatkan. Brigel usai didiagnosa dokter spesialis anak RSUD Masohi, positif menderita gizi buruk jenis Maramus Kwasiorkor. “Usianya tidak sesuai dengan berat badan,” jelas dokter RSUD Masohi yang menangani Brigel, dr. Diana, Kamis (25/10/2018).

Loading…

Bayi perempuan berusia enam bulan itu hanya memiliki berat badan 1,8 kg. Itu tidak sebanding dengan usianya. “Berat badan maksimum 5, 5 atau 6 kg,” katanya. Brigel kata dokter tidak memenuhi asupan gizi yang cukup, karena itu banyak diberi asupan agar berat badan meningkat. Barce menuturkan, kondisi perekonomian serta minimnya informasi membuat mereka tidak mengetahui pola asupan makanan untuk bayi. Sebagai petani, sehari-hari keluarganya hanya mengkonsumsi setiap hari seperti singkong, keladi, papeda dan beberapa jenis sayuran hijau.

Sementara nasi jika datang beras bantuan prasejahtera (Raskin). “Ya, biasanya di kampung kami konsumsi makanan apa adanya,” ceritanya. Hari demi hari, pertumbuhan dan kondisi anaknya tidak berubah. Meski sering dibawa ke Puskesmas untuk pemeriksaan. Barce dan istrinya pun memutuskan membawa Brigel ke RSUD Masohi di Ibukota Kabupaten Malteng.

Namun, perjalanan mereka ke RSUD Masohi sungguh menyesak dada. Selama tiga hari di jalan, Barce menggotong Nugi, anak ketiganya yang berusia 3 tahun. Sedang Lince menggotong Brigel. Satu keluarga ini menyusuri hutan, sungai besar dan puluhan anak sungai. Peluh dan penat tak jua terbendung. Mereka memilih istirahat dibawa rindang pepohonan sembari memasak bubur.

“Selama 3 hari itu kami hanya membawa beras 1 Kg dan panci,” kisahnya menetaskan air mata di ruang Melati Kelas II RSUD Masohi, Kamis (25/10/2018). Perjalanan dimulai Negeri Maraina menuju Negeri Hatuolo, yang ditempuh selama 1 hari. Setelah menginap disana, pukul 07.00 Wit pagi, bergegas menuju Negeri Elemata dan tiba pukul 01.00 Wit, siang.

Setelah tidur semalam di Negeri Elemata melanjutkan perjalanan menuju Negeri Kaloa. “Berangkat pukul 07 pagi tiba di Kaloa pukul 11 siang,” ujarnya. Itu belum tiba di pusat kecamatan. Untuk sampai ke Wahai, pusat kecamatan harus menggunakan jasa ojek tarifnya sebesar Rp 150 ribu per orang. Kemudian menumpangi mobil umum selama 5 jam dari Wahai ke Masohi dengan tarif sebesar Rp 150 per orang.

“Mau gimana lagi pak, kami hanya bisa berdoa semoga anak kami bisa sembuh,” harap Lince, yang baru tiba mengurus KTP elektronik di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Malteng. Mereka tidak mengantongi satupun surat sakti berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS) maupun Kartu Indonesia Pintar (KIP). Wilayah itu jarang tersentuh pemerintah pusat dan daerah.

Karena terletak jauh di pedalaman. Negeri Maraina berada sejajar dengan Gunung Binaiya yang berketinggian 3027 mdpl. Barce keukeuh anaknya mesti sembuh agar bisa kembali ke kampung halaman mereka. Kini, Brigel sedang terbaring di Rumah Sakit Umum Daerah, mereka membutuhkan uluran tangan, sekiranya meringankan beban mereka selama pengobatan di Kota Masohi. (S. ANCHA SAPSUHA)