GPM dan Ketangguhan Keluarga di Era Covid-19 Oleh: Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM. FOTO : DOK. TERASMALUKU.COM

MINGGU 30 Agustus 2020, Gereja Protestan Maluku (GPM) mencanangkan pekan bina keluarga menyongsong hari ulang tahun ke-85 pada tanggal 6 September 2020. Sebagai salah satu gereja yang melayani di provinsi Maluku dan Maluku Utara GPM senantiasa sadar bahwa keluarga merupakan basis pembinaan dan penyemaian nilai-nilai iman, etik-moral dan sosial yang membentuk karakter individu yang tangguh dan kuat, utamanya kala pandemi covid-19 sedang mendera umat manusia saat ini. Terkait hal ini saya mempunyai tiga catatan reflektif.

Pertama, gereja dan agama-agama pada umumnya memiliki posisi dan peran yang penting dalam memperkuat imun umat dan masyarakat di tengah pandemi covid-19 saat ini. Selain protokoler medis yang sudah sering disebutkan, maka aspek ketahanan iman menjadi fondasi yang fundamental. Dalam kaitan ini, pandemi tidak hanya dilihat semata dari faktor medis namun terkait pula dengan aspek teologis, budaya, sosial dan sebagainya. Pendeknya, perlu dilihat secara holistik/utuh. Dengan dasar pikir bahwa pembinaan keluarga itu sangat penting, maka gereja dan agama-agama dapat menjadikan keluarga sebagai basis untuk menyemai ketahanan iman menghadapi pandemi saat ini. Melalui peran aktif orang tua, maka setiap anggota keluarga dibekali dan dilengkapi dengan cara pandang dan sikap yang lebih optimistik terhadap hidup sebagai anugerah Tuhan.

Kedua, keluarga merupakan lembaga yang dinamis sekaligus rentan. Kita tidak dapat membangun semua romantisme terhadap keluarga seakan-akan semuanya indah dan menyenangkan. Realitas sosial saat ini membuktikan bahwa keluarga-keluarga juga sedang mengalami krisis yang serius dan menakutkan. Tingkat perceraian yang tinggi, kekerasan dalam rumah tangga, pengaruh media sosial dan televisi, semua itu turut berkontribusi terhadap masa depan tiap keluarga. Olehnya cara pandang terhadap keluarga mesti dicermati agar kita tidak menyederhanakan persoalan tentang keluarga masa kini.

Loading...

Apakah wibawa orang tua di dalam keluarga masih terasa, ataukah semakin melemah juga karena orang tidak dapat menjadi teladan di tengah keluarga. Darimana anak-anak dalam keluarga menimbah nilai-nilai hidup? Bukankah media sosial dan televisi telah menelusup masuk dalam kognisi anak-anak dan mempengaruhi cara pandang mereka tentang diri sendiri, orang tua dan lingkungan di sekitar. Jangan heran jika kemudian anak-anak menunjukan pandangan dan sikap yang membingungkan orang tua di rumah. Realitas perubahan ini perlu dicermati oleh tiap orang tua dan mereka yang peduli dengan lembaga keluarga, termasuk gereja dan agama-agama.

Ketiga, dibutuhkan pendekatan yang kreatif dan variatif dalam membangun ketangguhan keluarga. Tidak ada satu pola atau model yang dapat digunakan untuk membangun keluarga yang tangguh. Secara antropologis masyarakat telah bergseser dari corak masyarakat tradisional ke masyarakat kompleks, dari masyarakat agraris ke masyarakat digital. Hal ini berpengaruh mengakibatkan terjadi perubahan dari berbagai aspek kehidupan. sebagai contoh, dalam perayaan-perayaan keagamaan anak-anak didandani dengan busana-busana tradisional dan eksotik. Mereka seakan dibawa ke masa lalu yang indah, namun pada saat bersamaan orang tua sibuk memotret anak-anaknya dan mengirimkan di kanal fesbuk atau youtube.

Ketika pandemi covid menerpa tiap keluarga, apakah gerakan tinggal di rumah telah menjadi kesempatan bagi tertingkatnya intensitas komunikasi dan relasi antara orang tua dan anak atau suami dan istri? Atau masing-masing asyik dengan diri sendiri melalui gadget di tangan masing-masing? Dalam menghadapi realitas ini lembaga-lembaga agama diminta untuk tetap kritis dan kreatif memberi responsnya. Keluarga tetap penting dan perlu. Namun pendekatan dan bentuk pembinaan di dalam keluarga yang perlu terus diperbarui.

Dengan begitu, kita tidak sekedar membenahi aspek luar dari keluarga, tetapi mesti benar-benar masuk ke dalam inti terdalam alasan mengapa keluarga itu ada dan untuk apa ia ada. Dalam kaitan ini, pekan bina keluarga yang dicanangkan GPM dapat menjadi momentum sekaligus titik tolak untuk benar-benar membangun ketahanan keluarga dan masyarakat, bukan saja untuk bersama-sama mengatasi kovid 19 saat ini, tetapi juga untuk membangun masa depan bersama yang lebih baik dan sejahtera. Akhirnya, patut diingatkan bahwa diperlukan juga pendekatan kolaboratif lintas-institusi, lintas-agama dan lintas-generasi untuk bersama-sama menjadikan hidup ini bermakna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *