Gubernur : Ibu Zaman Now Mesti Melek Teknologi, Agar Bisa Proteksi Anaknya

by
Gubernur Maluku Said Assagaff. FOTO : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON – Gubernur Maluku Said Assagaff mengimbau para ibu zaman now, supaya melek terhadap perkembangan teknologi dan informatika yang begitu cepat. Orang tua zaman now harus cepat  mengikuti perkembangan,  jangan sampai anak – anak lebih mengetahui dan terampil terhadap teknologi.

“Adalah sebuah kesalahan apabila, anak-anak kita lebih trampil menggunakan smartphone, dan justru sebaliknya kita termasuk para ibu, malah kebingungan,” ujar Gubernur Assagaff, pada peringatan Ulang Tahun ke-18 Dharma Wanita Persatuan Provinsi Maluku, bertempat di Aula Kantor Gubernur Maluku, Kamis (7/12).

Gubernur  Assagaff katakan, harusnya orang tua yang lebih dahulu tahu perkembangan teknologi, supaya tindakan proteksi terhadap putra-putrinya bisa sedini mungkin dilakukan. Jangan salahkan siapapun, kalau anak-anak kita bisa mengakses website yang tidak cocok dengan umur mereka, hanya karena kita sendiri tidak memahaminya.

Dikatakannya, banyak pendapat yang menyimpulkan bahwa implikasi penggunaan teknologi IT, sangat berpengaruh terhadap peningkatan angka kejahatan. Mungkinkah kebiasaan menggunakan smartphone yang terkoneksi langsung dengan jaringan internet, menurut Assagaff, sadar ataukah tidak sadar, dapat merusak karakter dan perilaku generasi kita. Akses ke dunia global, lanjut dia, telah ditransformasikan ke dalam genggaman tangan seorang anak kecil.

Pasti ada dampak positif, tetapi banyak juga negatifnya, terutama ketika tidak diikuti dengan pengawasan ketat orang tua. “Di sinilah peran seorang ibu dalam keluarga. Bagaimana membentuk ahlak moral generasi muda bangsa, sebagian tergantung para isteri,” demikian Assagaff.

Gubernur lantas mengajak para ibu, untuk melihat peluang hadirnya fenomena belanja online. Bukan untuk berbelanja di sana, tetapi justru memanfaatkannya secara tepat. “Seseorang dikatakan sukses besar, apabila dia bisa merubah tantangan menjadi peluang, merubah kendala menjadi kesempatan,” tandas Gubernur Assagaff.

Sekarang ini di seputar kita, menurut Assagaff, semakin banyak merebak usaha-usaha kecil dan mikro yang dikelola oleh seseorang atau koorporasi dalam skala kecil, lalu kemudian memanfaatkan belanja online sebagai sarana pemasaran produk-produknya. Assagaff menilai, sudah semestinya, pola pikir ke arah sana harus dikembangkan.

Gubernur Assagaff mengusulkan agar diskusikan secara terbatas antara sesama anggota, teman atau kerabat. Mungkin saja ada peluang-peluang usaha semacam itu yang dapat dikembangkan. “Bila hal tersebut dicapai, maka sama artinya, ibu-ibu selaku para Isteri Aparat Sipil Negara (ASN), sudah melakukan peningkatan kualitas diri secara mandiri, dan yang pasti, hal itu turut berkontribusi besar bagi upaya memperkuat ketahanan keluarga,” tuturnya.

Dalam kedudukan sebagai organisasi tempat berkumpulnya isteri para ASN lingkup Provinsi Maluku, Assagaff menyebutkan, Dharma Wanita Persatuan sesungguhnya adalah mitra kerja pendamping, sekaligus penyemangat bagi aparatur pemerintah. “Kita bersyukur bahwa organisasi ini tetap eksis dan bertumbuh bahkan semakin matang dalam mengemban tugas-tugas mulia bagi kemaslahatan hidup banyak orang,” ujarnya.

Besar kecilnya sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, disebut Assagaff, dapat terukur lewat kemampuan mengintervensi masalah sosial dan kemanusiaan. Dengan memiliki jejaring yang menyebar dari pusat sampai daerah, sejatinya Dharma Wanita menjadi partner kerja yang sinergis.

Di samping program unggulan yang telah ditetapkan oleh Pengurus Pusat, Assagaff juga menghimbau, anggota Dharma Wanita Persatuan turut mengintervensi terlaksananya agenda-agenda nasional lainnya. Seperti ikut mensosialisasikan perekaman KTP-elektronik, upaya konkrit perlindungan perempuan dan anak, masalah KDRT, penyebaran narkoba dan Pil PCC dan lain sebagainya.

Kontribusi ibu-ibu bisa berupa pendampingan dan fasilitator, tetapi menurut Assagaff, juga turut mengawasi anggota keluarga maupun kehidupan saling bertetangga dala lingkup RT/RW.  “Banyak pengalaman memperlihatkan bahwa masalah-masalah besar, sebetulnya bisa dibatasi, apabila ditangani sejak masih dalam skala kecil,” ujarnya.

Sedangkan relasi-relasi emosional antara suami-isteri, dikatakannya, selalu menjadi motivator yang saling menguatkan diantara keduanya. Lebih dari itu, dalam perspektif yang lebih luas, Assagaff menambahkan, bangsa ini masih memiliki banyak sekali PR yang harus diselesaikan. Semuanya tidak dapat diborong oleh pemerintah sendirian, karena pada titik tertentu, pemerintah juga punya keterbatasan.

Ruang tersebut, dinilainya, mesti diisi oleh komponen masyarakat, termasuk kaum perempuan yang punya kepedulian dan mau turut bekerja bagi kebaikan negeri ini.  “Saya kira kita tidak bisa tinggal diam melihat kemerosotan moral yang terjadi, seperti kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak dan termasuk juga banyak sekali kekerasan seksual terjadi terhadap anak-anak di bawah umur,” ungkapnya.  (ADI)