Gubernur Minta Masyarakat Harus Cerdas Menggunakan Medsos

by
Gubernur Maluku Said Assagaff memberikan sambutan saat Halal Bi Halal Pemprov dan TNI/Polri dan masyarakat di Islamic Center Ambon, Selasa (4/7). FOTO : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,AMBON -Gubernur Maluku Said Assagaff mengajak masyarakat di daerah ini, untuk lebih arif dan cerdas menggunakan media sosial (medsos). Jika tidak cerdas bermedsos dapat mendatangkan efek  negatif bagi yang menggunakannya. Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Assagaff  pada acara Halal Bi Halal Pemerintah Provinsi Maluku, TNI/Polri,  PHBI Maluku bersama tokoh agama, tokoh masyarakat dan warga  yang berlangsung di Islamic Center Ambon, Selasa (4/7).

“Satu hal penting yang perlu katong nanaku akang bersama-sama, yaitu pentingnya katong cerdas dalam menggunakan internet, khususnya media sosial,” ujar Gubernur. Menurut Gubernur, melalui medsos kita bisa membangun dan menyambung silaturrahim, tetapi dengan medsos juga katong bisa merusak hubungan silaturrahim.

Hadir dalam Halal Bi Halal ini, pejabat daerah lainnya yakni, Pangdam 16 Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, Kapolda Maluku Irjen Pol Deden Juhara, Wagub Maluku Zeth Sahuburua, Sekda Maluku Hamin Bin Thahir, anggota DPRD  dan pimpinan umat beragama di Maluku serta ribuan ASN, TNI dan Polri.

Gubernur  juga mengatakan, dengan internet kita bisa belajar dan mengakses pelbagai informasi serta sumber ilmu pengetahuan dengan sangat mudah. “Tapi dengan internet juga bisa membuat katong menjadi makhluk yang sangat instant, individualistik, mekanistik dan sangat suka dengan cara-cara plagiasi, baik dalam aktivitas di dunia pendidikan, birokrasi atau perkantoran, di parlemen, hingga masuk ke ruang-ruang privat di rumah tangga. Intinya dewasa ini bangsa kita nyaris kehilangan orginalitas,” paparnya.

Masalah berikutnya yang perlu menjadi ikhtiar kita bersama, menurut Gubernur, yaitu belajar agama secara instant. Atau apa yang disebut oleh imam besar mesjid Istiqlal Jakarta, Prof. Nazaruddin Umar sebagai “Agama Internet atau Agama Medsos”, yaitu ada “Islam internet atau Islam medsos”, “Kristen Internet atau Kristen medsos”, dan seterusnya. “Yaitu orang belajar secara instant tanpa mau belajar melalui ustaz, tuang guru (ulama), pendeta atau pastor,” ujarnya.

Dampak negatif belajar agama tanpa guru, disebut Gubernur, terutama bagi yang awam, antara lain, biasanya salah kaprah atau salah jalan (fenomena munculnya aliran sesat), terkadang merasa sudah paleng pintar, menganggap paling benar sendiri, serta dalam banyak kasus rawan untuk terjadinya proses “cuci otak” direkrut menjadi teroris. Gubernur katakan, ini karena kita kurang siap, dalam menghadapi lajunya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga sebagian  masyarakat mengalami cultural shock (takajo) atau ‘Tunggakan kebudayaan’.

“Ini jadi tanggung jawab kita samua, khususnya para pendidik, ustaz, tuang guru, ulama, pendeta, pastor, Bikhu dan sebagainya. Dalam spirit Halal bi Halal ini, mari basudara samua, sambil bermaaf-maafan, katong bersinergi dan tingkatkan kinerja dan pengabdian untuk negeri ini. Karena sejatinya semakin berkualitas ibadah seseorang, sejatinya makin baik dan berkualitas pula karyanya,” imbaunya.

Melalui momentum Halal bi Halal ini juga, Gubernur mengajak masyarakat  samua untuk meningkatkan kualitas kerukunan dan kedamaian antar umat beragama, serta antar suku bangsa di daerah ini, dalam rangka kita kembangkan Maluku sebagai laboratorium kerukunan dan kedamaian antar umat beragama terbaik di Indonesia.

“Bukan hanya kerukunan dan kedamaian pasif, tetapi kerukunan dan kedamaian aktif. Sebagaimana ungkapan luhur orang Maluku, yaitu ‘Potong di kuku, rasa di daging, ale rasa Beta rasa, serta Sagu Salempeng di patah dua’,” harapnya.

Gubernur katakan, inilah spirit kebersamaan dan persaudaraan sejati untuk belajar saling memahami, saling mempercayai, saling mencintai, saling menopang, saling membanggakan dan saling menghidupi. Menyinggung tentang Halal Bi Halal, Gubernur menyebutkan, betapa pentingnya ucapan selamat Idul Fitri itu, kita pun membuat serangkaian acara Halal bi Halal, mulai dari tingkat kampung hingga tingkat nasional.

“Serta yang terlibat di dalamnya, bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat beragama lain, baik sebagai peserta maupun panitia, sebagaimana yang sering kita lakukan di Maluku,” ungkapnya.  Untuk itu, tradisi buka puasa berasama dan Halal bi Halal ini, disebut Gubernur, sebagai local genius (kecerdasan local) dan local wisdom (kearifan local) Islam di Indonesia.

Kecerdasan lokal atau kearifan local seperti ini, lanjut Gubernur, lahir dari imajinasi para ulama dan umara di negara ini agar kita tetap menjaga dan menjalin silaturrahim sesama anak bangsa. Bahwasanya walaupun bangsa ini adalah bangsa yang multikultur atau plural, namun menurut Gubernur, kita tetap satu, sebagaimana semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, Biar Berbeda-beda, Tetapi Tetap Satu dan bersaudara.

Demikian halnya kita di Maluku, demikian Gubernur, walaupun kita berbeda-beda, tetapi tetap satu sebagai orang basudara. Katong samua bersaudara, bukan hanya karena punya hubungan darah (geneologis), tetapi juga katong bersaudara karena lahir dan dibesarkan oleh rahim atau kandungan bumi raja-raja ini.

“Kita makan dan minum dari rahim Maluku dan kita juga berdiri tegak serta berkembang biak di atas perut Ibu Maluku. Sehingga, tidak ada alasan untuk kita bercerai, apalagi, saling menyakiti. Untuk itu jangan pernah putus silaturrahim atau tali gandong. Hentikan segala konflik antar kampung di Maluku yang hanya merugikan masyarakat itu sendiri.  (ADI)