Gubernur Minta Warga Tinggalkan Kawasan Radius 1 Kilometer dari Gunung Api

by
Gunung Api Banda di Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Foto ini diambil TERASMALUKU.COM, dalam sebuah penerbangan komersial akhir Desember 2016 dari ketinggian sekitar 5.000 kaki. FOTO : HAMDI (TERASMALUKU)

AMBON – Gubernur Maluku, Said Assagaff menginstruksikan Camat Banda, Kadir Sarilan, agar meminta warga yang tinggal dalam radius 1 kilometer dari Gunung Api Banda, untuk berhenti beraktivitas dan meninggalkan kawasan tersebut.

Penegasan Assagaff tersebut disampaikannya menyikapi pernyataan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, yang menaikkan status Gunung Banda Api di Kabupaten Maluku Tengah, Kepulauan Maluku dari Normal menjadi Waspada (Level II).

“Saya sudah instruksikan Camat untuk minta warga keluar. Nanti kalau statusnya dinaikan lagi, saya minta supaya warga harus mengungsi, jika tidak mau, maka harus dipaksa,” ujar Gubernur Assagaff kepada wartawan di KM. Doro Londa dalam pelayaran dari Ternate-Ambon, Sabtu (8/4).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi PVMBG, Gede Suantika mengatakan, aktivitas manusia terlarang dari areal  radius 1 kilometer menyusul penaikan status Gunung Api Banda dari level Normal  menjadi Waspada (Level II). Gunung Api Banda juga tertutup dari pendakian sejak 6 April lalu.

“Tadi pagi saya baru dapat informasi ini. Dan saya langsung menelepon petugas Gunung Api di Banda, tapi belum terhubung. Tapi tadi lewat telepon Camat laporkan sudah sosialisasi dan minta warga keluar, ” terang Assagaff. Dia berharap mudah-mudahan tidak ada hal-hal yang perlu dikuatirkan dari kondisi Gunung Api saat ini.

“Memang kalau satu daerah Gunung Api, di tengahnya ada air seperti Gunung Gamalama, yang memiliki danau, akan lebih mudah kita pantau. Begitu suhu air berubah jadi panas, bisa ketahuan kalau status gunung api naik. Nah, kalau Gunung Api Banda ini kan tidak ada danau di situ. Paling kita cuma memantau kalau ada binatang-binatang yang sudah keluar dan meninggalkan daerah itu, berarti sudah ada tanda-tanda Gunung Api mau bereaksi,” katanya.

Assagaff menyatakan akan terus memantau kondisinya lewat laporan dari Camat. Atau dengan cara mengecek langsung ke petugas di lapangan. Terutama untuk tahu kondisinya sudah sampai dimana. “Tentu saja kita harus terus berikhtiar. Meski pengalaman yang lalu-lalu itu, kalau kalau meletus jatuhnya ke arah Timur Laut. Dan itu artinya ke laut. Untuk kota agak aman, kita berdoa agar  tidak terjadi hal – hal yang mengkhwatirkan dari Gunung Api Banda,” ujarnya.

Melalui Camat, Gubernur juga sudah meminta warga agar harus terus meningkatkan  kewaspadaan. Ia juga menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan kondisi Gunung Api dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengambil langkah – langkah antisipasi.

“Saya minta masyarakat untuk tetap tingkatkan kewaspadaan. Jika hal buruk terjadi,  ada pulau-pulau di sekitar situ.  Misalnya Pulau Banda Besar,  ada Pulau Hatta. Mungkin kalau terpaksa mengungsi, berarti sementara bisa mengungsi ke sana,” kata Assagaff.

Data yang ada menyebutkan, Gunung Banda Api merupakan Pulau Gunung Api yang dihuni ratusan warga. Permukiman warga yang paling dekat dari puncak itu jaraknya sekitar 600 meter. Letusan terakhir Gunung Banda Api terjadi 9 Mei 1988. Tipe letusannya eksplosif, menghasilkan kolom abu ke atas dengan ketinggain 3-5 kilometer.(ADI)