Gubernur : Semua Harus Belajar Damai Dari Maluku

by
Gubernur Maluku Said Assagaff didampingi Wagub Maluku Zeth Sahuburua saat membuka seminar nasional di Gedung Islamic Center Ambon, Rabu, (31/10/2018). FOTO : ISTIMEWA

TERASMALUKU,COM,-AMBON-Gubernur Maluku Said Assagaff mengungkapkan Provinsi Maluku menjadi sebagai labolatorium perdamain umat beragama di Indonesia. Karena itu semua pihak harus belajar perdamain dari Maluku.

“Kita Ketahui bahwa dulu Maluku dikenal sebagai daerah konflik sejak 1999 hingga 2003. Dan kini Maluku telah berkembang menjadi salah satu daerah yang memiliki indeks kerukunan antar umat tertinggi di negara ini setelah Bali dan NTT,”kata Assagaff saat membuka seminar nasional bertemakan“Dari Maluku untuk Indonesia bersama rawat NKRI yang damai dan berkeadilan Melalui Budaya Menyanyi, yang berlangsung di Gedung Islamic Center Ambon, Rabu, (31/10/2018).

Gubernur Assagaff mengajak pemerinta dan seluruh komponen masyarakat di daerah terus berjuang untuk menjadikan Maluku sebagai daerah yang paling rukun dan damai di Indonesia, bahkan dunia. “Cita cita kami ini, bukan sekedar untuk mengejar prestasi, tepai bagaimana membangun kualitas kerukunan dan kedamain antar umat beragama yang sejati, karena kita menyadari kekerasan-kekerasan yang mengatasnamakan agama itu mejadi kejahatan terburuk, ”kata Gubernur Assagaff.

Pada hal lanjut mantan Sekda Maluku ini, misi suci agama diturunkan adalah untuk kemanusian. Tentu sangat logis agama datang memiliki spirit dan perhatian sangat tinggi terhadap segalah penderiataan yang menderita umat manusia. Disinilah pentingnya kehiduapan keagamaan yang inklusif, pluralis yang saling menyapa dan membuka diri terhadap proses dan perjumpaan lintas agama.

loading...

Seorang teolog Katolik Asal Jerman Hans Khung mengatakan kutif Assagaff, bahwa tidak ada perdamain dunia tanpa perdamain antar agama dan tidak ada perdamaian antar agama tanpa dialog. Menurut Assagaff konflik juga menimbulkan segregasi sosial yang cukup tajam antara umat Islam dan umat Kristen. Bukan hanya segregasi wilayah tetapi juga segregasi pemikiran dan mental.

Secara sosiologis, segregasi sosial berdamapak pada hilangnya ruang-ruang perjumpaan secara informal di dalam masyarakat, khususnya anak-anak dan pemuda tidak memiliki memori kolektif tentang pengalaman hidup bersama. Fakta segregasi seperti ini sangat rawan terhadap munculnya polarisasi yang bersifat in group vs out group. “Kita bukan mereka atau mereka bukan kita dan kita melawan mereka”.

Apalagi dalam menghadapi tantangn politik indentitas atau politisasi agama. Selain itu seminar ini menghadirkan empat nara sumber diantaranya Mahfud MD, Uskup Amboina, Bimas Kristen Katolik Kementerian Agama Maluku dan Uskup Pontianak dan peserta Pesparani dari 34 provinsi. (UAD)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *