Gunung Botak Memanas, Warga Adat Kayeli Dan Penambang Ilegal Saling Bakar Tenda

by
Puluhan penambang emas ilegal di kali Anahoni Gunung Botak Kabupaten Buru. FOTO : ISTIMEWA

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Lokasi Tambang Emas Gunung Botak Kabupaten Buru kembali memanas. Warga adat Kayeli dan penambang ilegal saling bakar camp atau tenda penambang di lokasi tambang. Puluhan penambang ilegal membakar tenda milik Deden, warga Kayeli di kawasan Kali Anahoni, Gunung Botak, Minggu (15/4). Dalam aksi ini, penambang ilegal juga menyatakan akan mencegah penyisiran yang dilakukan pemerintah dan aparat keamanan.

Pembakaran tenda milik warga Kayeli ini merupakan balasan dari aksi pembakaran kemp atau tenda  milik Tony Batuwael di Gunung Botak yang dilakukan puluhan warga adat Kayeli pada Sabtu (14/4). Warga Kayeli sebelumnya mengamuk di Gunung Botak, mereka merusak dan membakar tenda milik Tony.

Informasi yang diperoleh Terasmaluku.com dari warga adat Kayeli menyebutkan, aksi warga adat tersebut merupakan buntut kasus pemukulan terhadap seorang warga Kayeli bernama Iwan Taramun yang diduga dilalukan penambang ilegal anak buah Tony di lokasi tambang.

Karena tidak dapat pelaku pemukulan, puluhan warga Kayeli pun merusak dan  membakar tenda milik Tony. Aksi  warga adat ini sempat dihalau seorang oknum anggota Brimob, adik Tony Batwael. Nah, penambang pun membalas dengan membakar tenda milik warga Kayeli di kawasan kali Anahoni pada Minggu (15/4).

Kapolres Pulau Buru AKBP Aditya B Satrio yang dikonfirmasi Terasmaluku.com mengatakan belum mendapat laporan atas pembakaran tenda baik milik  warga Kayeli maupun milik Toni “Saya belum dapat info (soal pembakaran tenda) pak,” kata Kapolres. Hal yang sama juga disampaikan Kapolsek Waeapo Iptu Pas Ardinata. “Saya belum dapat laporannya, saya masih di Ambon,” kata Kapolsek.

Diduga kasus pemukulan terhadap warga Kayeli itu bermotif saling rebutan tempat pengolahan emas secara ilegal di Gunung Botak. Atas rentetan  peristiwa ini, Raja Kayeli Abdullah Wael meminta pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Maluku dan aparat keamanan untuk bertindak cepat agar menghindari konflik antar warga Kayeli dengan penambang.

“Kami inginkan kasus pemukulan terhadap warga Kayeli diselesaikan melalui proses hukum, kami tidak inginkan terjadi konflik. Karena itu pemerintah dan aparat keamanan harus bertindak cepat mengatasi masalah ini, kalau ini dibiarkan bisa berbahaya,” kata Abdullah Wael.

Ia mengungkapkan, kasus pemukulan warga Kayeli ini akan dilaporkan ke Polres Pulu Buru. Abdullah Wael juga mempertanyakan adanya seorang oknum anggota Brimob di Gunung Botak. Padahal menurutnya, lokasi Gunung Botak sudah ditutup dan tidak ada aparat keamanan yang ditugaskan ke Gunung Botak. (ADI)