Hampir Dua Tahun Pelni Belum Bayar Pesangon Belasan ABK

by
Tiga mantan ABK KM. Sabuk Nusantara 46, 33 dan KM. Maloli yang berjuang menuntut pembayaran pesangon yang hampir dua tahun tak ada kejelasan dari pihak Pelni (9/1). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – PT. Pelni Cabang Ambon abai dalam menunaikan hak para pekerja. Mereka tak kunjung membayar pesangon para ABK yang diberhentikan sepihak. Sebanyak 17 orang terpaksa dirumahkan tanpa ada kejelasan pembayaran pesangon setelah menunggu lebih dari setahun.

Masing-masing anak buah kapal (ABK) ini berasal dari tiga kapal berbeda. La Baco,46 tahun, satu dari delapan ABK KM. Sabuk Nusantara 46 yang diberhentikan. Lalu di KM. Sabuk Nusantara 33 ada enam orang. Rihan Sujatmiko,33 tahun  yang maju sejak awal untuk mengurus masalah tersebut. Dan Welem Momole,62 tahun dari KM. Maloli satu dari lima orang yang diberhentikan.  Mereka, Kamis siang (9/1/2020) mendatangi Kantor Ombudsman Perwakilan Maluku untuk menanyakan nasibnya.

 

La Baco, mantan ABK dari kapal perintis Sabuk Nusantara 46 menyebut sejak Mei 2018 mereka didiberhentikan dengan alasan tak jelas. Malangnya mereka yang rerata dua tahun bekerja di sana tak kunjung diberikan pesangan yang semestinya menjadi hak.

“Katong mulai urus ini dari September 2018. Kalau ikut batul beta dapa pesangon sekitar Rp 100 juta lebih. Yang lain juga nilai beda-beda. Tapi sudah mau dua tahun Pelni tidak bayar,” keluh mantan Mualim 1 KM. Sabuk Nusantara 46 kepada Terasmaluku.com.

Hal serupa juga persis dialami Rihan dan Welem. Sejak mereka mempertanyakan hak yang mesti diperoleh, sudah beberapa kali bertemu dengan pihak Dinas Tenaga Kerja Provinsi Maluku serta PT. Pelni Cabang Ambon.

Loading...

La Baco mengaku hal itu seperti memberi harapan palsu. Sebab berulang kali ada mediasi pertemuan dan upaya bersama dinas. Namun kepastian menerima pesangon, gelap. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melapor dan meminta bantuan kepada ombudsman.

“Katong sudah empat kali ke ombudsman dan terus menanyakan perkemabngan ini. bahkan katong pernah bertemu dengan Pelni dan mereka bilang keberatan dengan jumlah pesangon dan minta dikurangi 30 persen. Tapi katong tunggu juga tidak dapat-dapat sampai sekarang,” kata Rihan yang ikut menemani La Baco dan Welem melapor di kantor Ombudsman.

Rihan dulunya bekerja di KM. Sabuk nusantara 33 sebagai kepala koki. Bersama pihak disnaker menghitung besar pesangon yang diterima yaitu Rp 40 juta. Usai ada kesepakatan pengurngan 30 persen dari Pelni, Rihan akhirnya hanya menerima sekitar Rp 30 juta. Sementara Welem yang berprofesi sebagai bas 1 KM. Maloli dengan besar pesangon Rp 60 juta.

Hal itu dilakukan bersama dengan pihak Pelni. Sayangnya sejak mereka diberhentikan dengan menggunakan surat mutasi tak ada kejelasan soal kapan akan menerima hak mereka.

“Mereka kasih kita surat mutasi berarti harus dipindahkan ke kapal lain tapi pas kami tanya itu diberhentikan. La Baco bahkan dapat dari kapten melalui whatsapp. Makanya saya pernah datangi Pelni minta urus kami punya BPJS Tenaga Kerja,” tambah Rihan.

Kepala Bidang Pencegahan Ombudsman Maluku, Samuel Hatulely membenarkan perihal masalah pesangon ABK Sabuk Nusantara yang belum dibayar PT. Pelni. Dalam beberapa kali pertemuan pihaknya melakukan mediasi dan berupaya agar pelapor mendapat hak mereka. “Katanya Pelni pasti bayar. Terakhir kita duduk bersama membahas pada November kesepakatan dengan dinas tenaga kerja,” jelas Samuel.

Kepada ombudsman pihak Pelni berjanji akan berkoordinasi dengan Pelni pusat terkait kepastian pembayaran pesangon tersebut. Hal ini yang bakal terus dikejar ombudsman untuk menuntaskan persoalan hak para ABK. Samua mengatakan dalam beberapa hari kedepan akan kembali bertemu Pelni dan Dinas Tenaga Kerja Provinsi untuk memastikan pelapor menerima hak mereka. (PRISKA BIRAHY)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *