Haria Raja Lautan, Berkat Penabuh Tifa Andalan

Haria Raja Lautan, Berkat Penabuh Tifa Andalan

SHARE
Frans Matulessy, penggebuh tifa yang jadi kunci kemenangan tim Perahu Manggurebe Haria di Teluk Ambon, Senin (20/8/2018). FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Keberhasilan para pria Negeri Haria Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah  mengarungi lautan bukan lagi kabar baru. Mereka membuktikannya melalui lomba perahu manggurube yang rutin diadakan di Ambon dalam Festival Teluk Ambon 2018. Memang negeri kelahiran Thomas Matulessy itu beberapa kali tidak ada di posisi pertama. Namun nama Haria mendominasi di hampir tiap lomba tersebut.

Arumbai Haria sebelum star di Pantai Amahusu. FOTO : PANITIA

Total ada sebanyak tujuh kali kemenangan diraih Haria sendiri maupun bersama saudara dari Negeri tetangga dalam lomba serupa. Dan kali ini Haria membuktikan, merekalah “sang raja lautan” itu. Dari kejahuan perahu bernomor 05 terpaut jauh dari dua perahu di depannya. Riuh suara ribuan warga memberi semangat bagi tim yang tengah beradu di lautan. Suasana makin spaneng manakala tim Haria melambung perahu milik tim Nolloth yang berjarak sekitar 600 meter dari garis finish.

Gemuruh genderang makin meninggi, seperti membakar semangat 29 pendayung. Menjelang finisih perahu tim Haria mengambil jalur membelok, menyusul tim Nohas yang sudah nyaris menyentuh finis. “Katong ambe kanan, Nohas perahu lari lurus, katong potong supaya bakudapa di muka dan akhirnya masuk finis,” ungkap Frans Matulessy, penggebuh tifa Tim Haria dengan penuh semangat kepada Terasmaluku.com usai pertandingan, Senin  (20/8/2018).

Trik perpindahan jalur itulah yang membikin suasana perlombaan makin tegang jelang finis. Tim yang terpaut dua perahu di belakang, malah maju dengan kekuatan Nitrous Oxide System (NOS) penuh.  Frans mengaku, salah satu kekuatan besar dan utama dalam perlombaan adalah suara tifa. Sang penggebuh memiliki peran vital untuk mendongkrak semangat para pendayung. Makin kencang irama pukulan, makin berapi-apilah pendayung. Itulah kunci yang terus dipertahankan tim perahu manggurebe Negeri Haria.

Dua penabuh depan dan belakang harus kompak dan mengerti slak. Terdapat tiga jenis tempo. Pelan, sedang dan cepat. Tempo satu atau pelan dibunyikan ketika posisi perahu berada di depan dan terpaut jauh dengan perahu lawan. “Itu supaya pendayung bisa ambe nafas. Katong seng bisa paksa terus, jadi harus pintar pintar atur napas. Tempo itu dipake kalau lawan su buang jau,” lanjut salah satu keluarga dari Thomas Matulessy yang menjaga rumah dan peninggalan milik Kapitan Pattimura di Haria itu.

Sedangkan tempo tiga atau cepat dipakai untuk mode full power. Seperti yang dilakukan saat lomba Senin pagi itu. Mendekati garis akhir Frans dan Yohanis Souhoka memainkan tempo tiga sebagai tanda tenaga penuh hingga akhir. Dan hal itu terbukti. Meski berada di belakang perahu Tim NOHAS dan Nolloth, Haria melambung maju melewati dua pesaing lain. Gerakan mendayung pun seirama dengan suara tiga. Mereka melaju kencang di kuli kuli air seperti menggunakan mesin johnson.

Jarak start di Pantai Amahusu dan finis di bawah Jembatan Merah Putih (JMP) sejauh 12 mil akhirnya dituntaskan dalam waktu 40 menit. Teluk dalam Ambon di bawah JMP pun seketika ramai. Sayup sayup bunyi genderang dan riuh penonton menghantar Frans dan 29 pendayung ke peringkat pertama. Pengaturan tempo tifa tim Haria itu pula yang membuat mereka tampil beda dengan yang lain.  Bukan semata menguasai lautan, namun perpaduan musik dan tekad mengarunginya yang membikin Haria layak ada di posisi pertama.

Ribuan pasang mata yang menyaksikannya pun dibuat terbelalak saat mereka mampu melambung dan menyusul dua perahu yang lebih dulu berada di depan. Persiapan yang matang sebelum hari H juga tak kalah penting. Stevy Souisa, Manager Tim Haria mengungkapkan 31 anggota timnya berlatih nonstop selama kurang lebih dua bulan. “Seminggu empat kali katong panggayo bula bale. Sekali turun sampe 30 kilometer,” akunya berapi api di bawah JMP tak lama usai finis sekitar pukul 08.40 WIT.

Dia mengaku stamina para pendayung terasah berkat latihan mendayung dengan jarak tempuh 30 kilometer sekali jalan. Soal material atau bahan perahu, tim Haria menggunakan jenis kayu pohon Pule dan Ketapang. Kebanggaan baginya adalah saat mereka mampu mempertahankan gelar Raja Lautan tetap di Negeri Haria. “Kami disebut raja laut, dan tekad kami datang untuk menang bukan untuk kalah,” serunya.(PRISKA BIRAHY)

loading...