Harmoni dan Keselarasan Dalam Lomba Musikalisasi Puisi

Harmoni dan Keselarasan Dalam Lomba Musikalisasi Puisi

SHARE
Ancola, salah satu peserta musikalisasi puisi saat tampil di Teater Tertutp Taman Budaya, Karang Panjang Ambon, Sabtu (11/8/2018). FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Dengan berbagai konsep busana kemalukuan dan harmonisasi musik, para peserta musikalisasi puisi menampilkan karya terbaik. Arangsemen lagu pun karya-karya puisi menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan sastra di Maluku. Pada Lomba Musikalisasi Puisi kali ini SMA Negeri 4 Ambon keluar sebagai pemenang tingkat sekolah menengah atas serta Sanggar Anailo Arika dari kategori umum.

Peserta tingkat SMA saat tampil

Pada lomba musikalisasi puisi yang ke-7 ini, memang tampak sedikit berbeda dari lomba sebelumnya yakni dengan kehadiran peserta umum. Yaitu penampilan para komunitas mahasiswa maupun pegiatan sastra dan literasi. Bertempat di Teater Tertutup Taman Budaya Maluku, para peserta lomba yang digelar oleh Kantor Bahasa Maluku itu menampilkan karya terbaik mereka.

Zulfan Usman, Ketua Panitia Lomba Musikalisasi Puisi Kantor Bahasa Maluku menyebut tahun ini merupakan tahun yang beda. “Setelah diskusi dan mendapat banyak masukan, antusias umum untuk ikut pun tinggi. Maka itu kami buka kategori baru dan antusiasnya banyak,” jelasnya kepada Terasmaluku.com di sela sela persiapan lomba, Sabtu (11/8/2018).

Terdapat point penting penilaian yang harus diungguli tiap peserta. Yakni penafsiran puisi, Komposisi musik yang kaya, vokal serta harmonisasi bunyi. Ruang berkarya dalam sastra diakuinya memiliki cakupan yang luas. Salah satunya dengan memusikan puisi. Tak hanya materi dan penafsiran puisi yang perlu dikuasai, tapi juga menyesuaikannya dengan bunyi.

Seperti yang ditampilkan tadi, para peserta bereksplorasi dengan berbagai alat musik. Bahkan menciptakan bunyi dari alat-alat organik seperti dari tempurung buah kalabasa batu dan air. Ada pula peserta yang menonjol dalam teknik vokalnya. Hal itu bagi Zulfan merupakan bentuk kebebasan penafsiran sekaligus menandai perkembangan sastra di negeri ini. “Dulu waktu awal-awal Ambon itu mendominasi, sekarang sampai ke kabupaten yang jauh pun ikut,” lanjutnya.

Ada dari Tual, Maluku Utara, Seram Bagian Barat, Saumlaki, Kei Kecil, Kairatu dan Maluku Tengah.Umumnya mereka datang atas nama sekolah. Dengan satu puisi wajib Sumpah karya Dominggus William Syaranamual dan satu puisi pilihan, peserta berupaya memvisualkan karya tulisan itu kedalam warna bada bermusik yang dipadu dengan artistik busana yang menunjang.

“Output kegiatan ini nanti ada yang mewakili Provinsi Maluku ke tingkat nasional, tapi hanya dari kategori SMA,” katanya. Sedangkan pemenang kategori umum sebagai sebuah wadah menampilkan karya terbaik mereka di bidang sastra. (BIR)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
loading...