Dari Maluku, Mentan Deklarasikan Pengembalian Kejayaan 500 Tahun  Rempah Indonesia

by
Mentan Andi Amran Sulaiman menyerahkan bantuan anak pala dan cengkeh kepada perwakilan petani dari 11 kabupaten/kota se Maluku di Islamic Center Ambon, Rabu (4/10). FOTO : ADI(TERASMALUKU.COM)

TERASAMLUKU.COM,-AMBON–Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mendeklarasikan pengembalian kejayaan 500 tahun rempah Indonesia dari Kota Ambon, Maluku.  Deklarasi program ini ditandai pemberian bantuan anakan pohon pala dan cengkeh kepada perwakilan petani dari 11 kabupaten/kota se Maluku oleh Mentan Amran di  Islamic Center  Waihaong Ambon, Rabu (4/10).

Hadir dalam kegiatan ini, Gubernur Maluku Said Assagaff, Wakil Gubernur Maluku Utara (Malut), Muhammad Natsir Thaib, Pangdam 16 Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, Kapolda Maluku Irjen Pol. Deden Juhara,  Walikota dan Bupati se Maluku dan Malut.  ”Kita deklarasikan, kembalikan kejayaan rempah-rempah Indonesia, khususnya  Provinsi  Maluku dan Maluku Utara. 500 tahun lalu, bangsa – bangsa di dunia seperti,  Inggris, Portugis, Spanyol, Belanda,  China dan  Arab datang ke sini (Maluku) karena  rempah – rempah, kini kita kembalikan kejayaannya lagi,” kata Mentan saat memberikan bantuan anak pohon pala dan cengkeh kepada petani.

Sebelum menyerahkan bantuan anak pala dan cengkeh, Mentan Amran juga menggelar  rapat kerja (Raker) tentang Kembalikan Kejayaan Rempah Indonesia di Kantor Gubernur Maluku yang melibatkan pejabat terkait dari Provinsi Maluku dan Malut.

Mentan Amran menargetkan dalam sepuluh tahun  kejayaan rempah nusantara terutama Maluku bisa terwujud. Untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia di Maluku dan Malut di  tahun 2017, Kementerian Pertanian (Kementan) langsung mengucurkan bantuan Rp 200 miliar kepada dua provinsi itu untuk pembibitan rempah, seperti cengkeh, pala, kayu manis dan cokelat yang menjadi primadona Maluku.

“Untuk mengembalikan kejayaan rempah nusantara kita  alokasikan anggaran  Rp 5,5 triliun khusus bibit. Ini baru APBN-P (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan). Dan di tahun 2017 ini,   Maluku dan Maluku Utara kita kucurkan masing – masing Rp 100 miliar untuk bibit saja,” kata Mentan Amran.

Mentan menyatakan,  jika bantuan tersebut masih kurang,  masih ada anggaran tambahan selama  tiga tahun ke depan.Dana tersebut, belum termasuk dana pendamping  yang melibatkan Perguruan Tinggi untuk meningkatkan kualitas bibit rempah.

Menteri Amran meminta kepala dinas terkait, agar mengalokasikan bantuan tersebut ke sejumlah daerah berdasarkan keunggulannya masing-masing. Jadi arahnya skala ekonomis.   Guna mendukung pelaksanàan kegiatan dimaksud Menteri  juga memberi bantuan berupa alat mesin pertanian (alsintan) berupa traktor sebanyak 20 unit. “Ini dulu fokus, jangan diecer, katanya.

Ia menyatakan, untuk menyejahterakan petani, pemerintah mendorong investor untuk datang dan membangun industri pengolahan sekaligus menjual produk jadi. Menteri Amran pun mendorong pihak Perguruan Tinggi turut berpartisipasi pada kegiatan yang bertujuan mengembalikan kejayaan rempah nusantara 500 tahun silam, kala dijajah Eropa. Para akademisi diharapkan menjadi pendamping, agar implementasinya di lapangan berjalan optimal.

Mentan pun berharap jajaran Kodam XVI Pattimura dan Polda Maluku turut mengawal kegiatan tersebut, seperti penyaluran bantuan bibit agar tidak ada barang-barang palsu. “Tolong Pak dikawal, jangan sampai diselewengkan, jangan sampai  bibitnya  tidak benar,” katanya.

Menteri Amran optimis rempah-rempah nusantara bakal kembali berjaya dalam tempo satu dasawarsa, mengingat ada dua keunggulan di Maluku. Pertama, memiliki bibit unggul, seperti kayu manis, cengkeh, pala, dan sebagainya. Penduduk Maluku pun berasal dari gen unggul, baik Arab, China, Belanda, Inggris, dan Portugis.

Kedua, agroclimate Maluku pun tiada banding. “Persoalannya, mau enggak gen-gen ini bertemu? Kalau bertemu, ini dahsyat,” yakin menteri kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu. Menteri Amran meyakini bangsa Eropa bakal kembali melirik Indonesia bak 500 tahun silam. Namun, kehadirannya nanti untuk menjadi pembeli rempah-rempah, dan sebagai turis. “Kalau ini kita angkat kembali, Belanda nanti kembali ke sini, Inggris ke sini, China ke sini sebagai pembeli, dan turis” paparnya.

Gubernur Maluku  Said Assagaff mengaku gembira dan apresiasi terhadap rencana Menteri Amran mengembalikan kejayaan rempah. Karenanya, dia memastikan akan menyukseskan kebijakan tersebut. “Semoga dengan gagasan Pak Menteri, rempah-rempah kembali dapat perhatian dan menjadi sumber kesejahteraan rakyat di negeri ini,” ucapnya.

Said mendukung kebijakan Menteri Amran, lantaran perkembangan peradaban Maluku tak lepas dari rempah. Sebab, kekayaan rempah di Maluku pada tahun 1500-an mendorong Eropa untuk datang. “Karena itu pula, awal proses kolonialisasi di nusantara, Maluku satu-satunya wilayah yang pernah dijajah lima bangsa,” ungkapnya. Maluku pun disebut negara lain sebagai jalur rempah atau pulau rempah.

Pangdam 16 Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo menyatakan dukungannya  atas program ini. Dia berharap Pemprov Maluku dan Malut turut menopang dengan memperbanyak balai-balai latihan kerja. “Sehingga bibit bisa lebih baik dan tidak lagi pemuda bercita-cita jadi pegawai negeri, tapi petani, petani berdasi,” tuturnya.

Data Kemetan menyebutkan,  produksi rempah – rempah  Maluku terdapat  di Kabupaten  Buru, dengan perkebunan cengkeh seluas 1.109 hektare yang menghasilkan 448 ton per tahun. Di Kabupaten Buru Selatan, dengan lahan perkebunan cengkeh seluas 5.483 hektare dengan hasil 2.096 ton pertahun. Selanjutnya, Maluku Tengah, seluas 18.609 hektar yang menghasilkan 9.758 ton, sedangkan lahan perkebunan pala seluas 11.148 hektare dengan hasil pertanianya mencapai 1.996 ton per tahun.

Selain itu, di Kabupaten Seram Bagian Barat lahan perkebunan cengkeh seluas 6.986 hektare dengan hasilnya 3.298  ton pertahun.  Sementara di Kabupaten Seram Bagian Timur memiliki luas lahan 8.354 hektare kebun pala dengan hasil produksi 737 ton pertahun. Mentan menyatakan dengan program ini akan meningkatkan hasil produksi rempah di Maluku sehingga kesejahteraan petani meningkat. (ADI)